Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi privilege (pexels.com/Anna Shvets)
  • Privilege mencakup kemudahan seperti kondisi finansial keluarga, kesehatan, akses internet, lingkungan suportif, dan waktu luang yang tidak dimiliki semua orang secara merata.
  • Kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk belajar, mengembangkan keterampilan, menjaga kesehatan, mengejar pendidikan atau karier, serta memperluas wawasan melalui sumber informasi yang tersedia.
  • Pemanfaatan privilege secara bertanggung jawab juga mencakup berbagi pengetahuan, membuka kesempatan bagi orang lain, dan mendukung ruang bertumbuh tanpa perlu merasa bersalah atas kemudahan yang diterima.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tidak semua orang memulai hidup mereka dari garis yang sama. Ada yang sejak kecil bisa mengikuti les tambahan, membeli buku tanpa harus menghitung sisa uang, atau melanjutkan pendidikan sampai jenjang tertinggi. Ada pula orang yang tidak berasal dari keluarga kaya, tetapi tumbuh di lingkungan yang aman, mempunyai tubuh sehat, bisa mengakses internet, dan diberi kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat biasa bagi orang yang memilikinya, padahal belum tentu bisa dinikmati oleh semua orang. Keistimewaan seperti itu dikenal dengan istilah privilege atau privilese, yakni keuntungan maupun kemudahan yang diperoleh seseorang karena kondisi tertentu, bukan semata-mata hasil dari usaha pribadinya. Berikut beberapa macam privilege yang seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin.

1. Manfaatkan kekayaan orangtua untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin

ilustrasi lulus kuliah (pexels.com/RDNE Stock project)

Terlahir dari keluarga berkecukupan merupakan salah satu bentuk privilese yang cukup mudah dikenali. Biaya sekolah, buku, perangkat belajar, kursus bahasa asing, hingga pendidikan tinggi di luar negeri mungkin bisa dipenuhi tanpa harus membuat keluarga mengorbankan kebutuhan pokok. Kesempatan tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan mengembangkan kemampuan, bukan sekadar mengumpulkan gelar atau membanggakan nama kampus.

Ilmu yang diperoleh juga sebaiknya tidak hanya digunakan untuk meningkatkan taraf hidup pribadi. Pengetahuan dan pengalaman yang sudah dikumpulkan bisa dikembalikan kepada masyarakat melalui penelitian, pengembangan usaha, penciptaan lapangan kerja, atau kegiatan pendidikan. Seseorang yang berkesempatan belajar di universitas terbaik, misalnya, dapat membantu menyediakan pelatihan gratis bagi pelajar dari keluarga kurang mampu atau mengembangkan program pendidikan di daerah yang fasilitasnya masih terbatas. Kemudahan finansial yang diberikan keluarga akan terasa lebih berarti ketika hasilnya turut dirasakan oleh orang lain.

2. Gunakan kesehatan untuk melakukan berbagai hal produktif

ilustrasi hyrox (unsplash.com/Leona Lee)

Kesehatan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang otomatis dimiliki setiap orang, padahal kondisi fisik dan mental yang memungkinkan seseorang beraktivitas dengan leluasa merupakan bentuk privilese. Ada orang yang harus menghabiskan banyak waktu untuk menjalani pengobatan, menghadapi rasa sakit setiap hari, atau membatasi aktivitas karena kondisi kesehatannya. Sementara itu, orang yang bisa bangun pagi, berjalan tanpa kesulitan, bekerja, belajar, dan berolahraga mungkin tidak menyadari betapa berharganya kemampuan tersebut.

Kondisi tubuh yang sehat sebaiknya tidak hanya digunakan untuk mengejar pekerjaan dan kesibukan tanpa henti. Kesempatan untuk beraktivitas bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan keterampilan, membantu orang lain, mengejar pendidikan, atau melakukan kegiatan yang selama ini ingin dicoba. Menjaga kesehatan melalui pola makan, olahraga, dan pemeriksaan rutin juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap privilese tersebut. Tidak perlu menunggu sampai mengalami gangguan kesehatan untuk menyadari bahwa kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari merupakan sesuatu yang patut dijaga.

3. Perluas wawasan dengan memanfaatkan akses internet yang tersedia

ilustrasi menggunakan internet (pexels.com/Matheus Bertelli)

Koneksi internet mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi akses terhadap informasi yang luas tidak selalu tersedia secara merata. Ada orang yang harus berbagi perangkat dengan anggota keluarga lain, menggunakan jaringan internet terbatas, atau tinggal di daerah yang koneksinya belum stabil. Seseorang yang bisa mengakses internet dengan mudah, mempunyai laptop atau ponsel pribadi, dan bebas mencari informasi sebenarnya mempunyai modal belajar yang cukup besar.

Akses tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengikuti kursus daring, membaca jurnal, mempelajari bahasa asing, mencari beasiswa, hingga memahami keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Banyak materi pembelajaran berkualitas yang bisa diperoleh secara gratis melalui situs pendidikan, perpustakaan digital, dan kanal pembelajaran terbuka. Pengetahuan yang sudah didapatkan juga bisa dibagikan kepada orang lain melalui diskusi, tulisan, atau pendampingan belajar. Internet tidak harus selalu digunakan untuk hiburan dan mengikuti kehidupan orang lain, tetapi juga bisa menjadi sarana untuk memperluas kesempatan diri sendiri maupun orang di sekitar.

4. Kembangkan potensi diri dengan dukungan lingkungan yang positif

ilustrasi mengoptimalkan potensi (pexels.com/Allan Mas)

Tidak semua orang tumbuh di lingkungan yang memberikan ruang untuk mencoba, gagal, dan menentukan pilihan hidup. Ada yang dibesarkan oleh keluarga yang selalu meremehkan cita-citanya, berada dalam hubungan yang membatasi pergaulan, atau dikelilingi teman-teman yang justru membuatnya takut berkembang. Sebaliknya, orang-orang yang mendapat dukungan dari keluarga dan lingkaran pertemanan mempunyai keuntungan berupa rasa aman serta kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus merasa dihakimi.

Dukungan tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk mencoba hal-hal yang dapat mengembangkan potensi. Seseorang bisa lebih berani melanjutkan pendidikan, berpindah karier, membangun usaha, atau mengejar bidang yang selama ini diminati karena mengetahui bahwa ada orang-orang yang bersedia mendukungnya ketika menghadapi kesulitan. Lingkungan yang sehat juga dapat dijadikan tempat untuk belajar membangun hubungan yang saling menghargai. Ketika sudah memiliki kemampuan dan kesempatan lebih baik, dukungan serupa bisa diberikan kepada orang lain yang sedang membutuhkan ruang untuk bertumbuh.

5. Manfaatkan waktu luang untuk mempelajari berbagai keterampilan baru

ilustras waktu luang (pexels.com/Los Muertos Crew)

Waktu luang juga bisa menjadi bentuk privilese, terutama bagi orang yang tidak harus menghabiskan sebagian besar harinya untuk mencari nafkah atau mengurus tanggung jawab keluarga. Ada pekerja yang harus menempuh perjalanan berjam-jam, mengambil pekerjaan tambahan, atau mengurus anak dan anggota keluarga setelah pulang bekerja. Kesempatan untuk mempunyai beberapa jam kosong setiap hari tentu tidak bisa dinikmati oleh semua orang.

Waktu tersebut bisa digunakan untuk membaca, berolahraga, mengikuti pelatihan, mempelajari keterampilan baru, atau membangun proyek yang selama ini tertunda. Bahkan kegiatan sederhana seperti tidur cukup, menikmati udara pagi, dan menghabiskan waktu bersama orang terdekat juga bisa menjadi hal berharga yang tidak mudah dilakukan ketika jadwal terlalu padat. Waktu luang tidak harus selalu diubah menjadi produktivitas yang menghasilkan uang, tetapi sebaiknya disadari sebagai kesempatan untuk merawat diri dan mengembangkan kehidupan di luar rutinitas utama.

Privilese tidak selalu hadir dalam bentuk rumah mewah, kekayaan keluarga, atau hubungan dengan orang-orang berpengaruh. Kesempatan belajar, kesehatan, akses informasi, lingkungan yang mendukung, dan waktu luang juga merupakan keuntungan yang belum tentu dimiliki semua orang. Walau terkesan sepele bagimu, privilege yang seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin sebenarnya adalah kesempatan besar yang diharapkan orang lain. Menyadari hal tersebut bukan berarti harus merasa bersalah atas kemudahan yang diterima, melainkan belajar menggunakannya secara bertanggung jawab.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article