Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Taklimat Presiden Bahas Sifat Keras Kepala, Apa Arti dan Dampaknya?
ilustrasi keras kepala (pexels.com/RODNAE Productions)

Presiden Prabowo Subianto menanggapi kritik tentang dirinya yang disebut memiliki sifat keras kepala, hal ini disampaikan dalam arahannya pada Rapat Kerja Pemerintah di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Menanggapi hal tersebut, Prabowo mengatakan sifat keras kepala terkadang juga dibutuhkan dalam sebuah pekerjaan.

Ia juga mengambil contoh dari rakyat Iran yang keras kepala karena tidak gentar meski mendapat ancaman dari berbagai pihak,

"Sekarang orang mengatakan rakyat Iran keras kepala, pejuang-pejuang Iran keras kepala, bolak balik diancam, bolak-balik mau dihabisin, terakhir apa itu (saya tidak ikut politik dalam negeri orang lain) tapi bagi sebuah bangsa, kadang-kadang keras kepala butuh."

Prabowo juga berkaca pada kegigihan para pendiri bangsa dan pemimpin di masa lalu yang menurutnya juga punya sifat keras kepala. Menurut pandangan Prabowo, pemimpin bangsa harus memiliki sifat tersebut.

"Dulu bapak-bapak pendiri bangsa kita keras kepala. Lebih baik mati daripada dijajah kembali, keras kepala. Tidak mau dijajah kembali. Pemimpin-pemimpin kita keras kepala, merah putih harga mati!" ujarnya.

Lantas, apa sebenarnya sifat keras kepala yang disebut-sebut oleh Presiden? Benarkah seorang pemimpin harus memliki sifat tersebut?

1. Mengenal sifat keras dan cara kerja otak

ilustrasi keras kepala (pexels.com/Gustavo Fring)

Sebuah paper yang ditulis oleh Daniel Yon dari Universitas London (2019) menjelaskan dari sisi neuroscience mengapa seseorang memiliki kecenderungan menjadi keras kepala. Sikap keras kepala muncul atas dorongan di otak, hal ini diterangkan dalam Psychology Today.

Orang dapat bersifat keras kepala karena ia terbiasa mengandalkan prediksi berdasarkan pengalaman sebelumnya. Karakter keras kepala muncul ketika seseorang membentuk ekspektasi tentang suatu hal berdasarkan pengalaman sebelumnya kemudian ia berupaya mempertahankan prediksi tersebut agar benar.

Secara ideal, otak akan memperbaharui prediksi berdasarkan apa yang tengah terjadi, akan tetapi dalam kondisi ini otak justru menolak untuk menerima pengalaman baru dan mempertahankan keyakinan lama. Hal ini dirasa karena otak harus membimbing tindakan dengan cara yang efisien dan benar.

Dalam situasi ini juga otak mengarahkan aktivitas agar prediksi atau ekspektasi tersebut dapat menjadi kenyataan. Upaya untuk menyimpulkan keadaan paling mungkin dan meminimalkan kesalahan prediksi inilah yang membuat seseorang dinilai keras kepala.

2. Bagaimana mengubah sifat keras kepala?

ilustrasi keras kepala (pexels.com/Mikhail Nilov)

Jika sifat keras kepala sudah tertanam kuat dalam diri, maka yang dapat mengubah hal tersebut adalah paparan ide-ide baru dan aktivitas imajinatif. Pandangan ini diterangkan oleh Susan Krauss Whitbourne, Ph.D., Professor Emerita dari Psychological and Brain Sciences di University of Massachusetts Amherst dalam Psychology Today. Aktivitas yang menggugah kreativitas dan eksplorasi akan memberi ruang eksperimen di kepala.

Susan juga menyebut, berdebat dengan orang yang keras kepala hanya akan menyebabkan berbagai penolakan, serangan pribadi yang menyakitkan secara personal. Untuk itu, orang yang keras kepala perlu berlatih meningkatkan imajijnasi agar mengubah narasi konvensional yang ada di kepalanya melalui dunia fiksi. Dunia fiksi, baik berupa film, buku atau media lain, akan mengubah pola pikir kaku yang tertanam di kepalanya dan membantu melihat peristiwa yang telah terjadi dari sudut pandang berbeda.

Susan menegaskan bahwa kecenderungan otak untuk mencari kesamaan pola perilaku maupun pengalaman, pada dasarnya bersifat adaptif. Artinya, jika diarahkan untuk mencari hal baru dan membuka jalan untuk beradaptasi pada pengalaman baru, terdapat kemungkinan pandangannnya akan berubah.

3. Pemimpin keras kepala akan menghambat kemajuan

ilustrasi keras kepala (pexels/Timur Weber)

Sisi negatif dari keras kepala, terutama bagi seorang pemimpin, adalah kebijakan yang dapat menghambat kemajuan serta kemungkinan menanggung kesalahan dengan biaya besar. Mengutip Forbes, keinginan seorang pemimpin yang terlalu keras kepala dapat membuat ide-ide lain ditolak, sehingga gagasan terbaik justru diabaikan dan organisasi berisiko berjalan stagnan.

Pertimbangkan untuk mengubah perspektif dalam kepemimpinan guna menghasilkan keputusan yang lebih bijak dan inklusif. Ken Gosnell, founder CEO Experience dalam Forbes memberi sejumlah saran, sebagai seorang pemimpin, cobalah untuk menunda keputusan yang belum sepenuhnya dipahami, terutama saat menghadapi situasi yang kompleks atau penuh ketidakpastian.

Pemimpin dengan sikap keras kepala sering kali melihat kenyataan hanya dari satu sudut pandang dan cenderung mengabaikan masalah. Namun, menyangkal persoalan yang ada justru dapat memperburuk keadaan. Sadari bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu terlihat benar. Sebaliknya, penting untuk berani menghadapi kesalahan, tantangan, maupun hambatan yang sebelumnya diabaikan.

Demikian pemaparan terkait sifat keras kepala yang mungkin dimiliki seseorang. Semoga bisa menambah perspektif baru untukmu!

Editorial Team