ilustrasi memuji seseorang (pexels.com/Mikhail Nilov)
Setelah menyelesaikan pekerjaan yang melelahkan, seorang teman berkata, “Kamu hebat banget bisa menyelesaikannya tepat waktu!” Kamu tersenyum sebentar, lalu kembali membuka daftar pekerjaan berikutnya. Belum sempat menikmati kelegaan, pikiranmu sudah dipenuhi target baru yang perlu kamu kerjakan. Sehingga, pujian dari temanmu tadi berlalu begitu saja.
Keinginanmu untuk terus berkembang memang baik. Namun jika setiap pencapaian hanya dianggap sebagai batu loncatan menuju target berikutnya, kamu lama-kelamaan bisa lupa menghargai usaha yang sudah kamu lakukan. Kamu tidak harus menunggu promosi, memenangkan kompetisi, atau menghasilkan karya terbaik untuk mengakui kemampuan sendiri. Ketika kamu bisa menyelesaikan tugas tepat waktu dan berani mencoba hal baru, itu juga bagian dari proses yang layak untuk kamu hargai.
Di kemudian hari, seseorang datang memujimu kembali, mungkin kamu masih merasa canggung. Lidahmu bahkan hampir mengucapkan, “Ah, kebetulan aja”. Namun, kamu mencoba untuk berhenti sejenak sebelum menyangkalnya. Kamu mulai merasa gak harus sempurna untuk menerima apresiasi. Terkadang, salah satu cara untuk belajar menghargai dirimu sendiri dimulai dari membiarkan satu kalimat baik diterima tanpa perlu mencari alasan untuk membantahnya.