Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Tips Hemat Pengeluaran di Bulan Ramadan, Jangan Mudah Tergiur Diskon
ilustrasi orang mengatur uang gaji bulanan (pexels.com/Kamboompics.com)
  • Artikel menyoroti kebiasaan boros selama Ramadan akibat euforia belanja, diskon besar, dan godaan takjil yang membuat banyak orang lupa pada esensi kesederhanaan bulan suci.
  • Ditekankan pentingnya evaluasi pengeluaran tahun lalu, membuat anggaran khusus Ramadan, serta membatasi kegiatan seperti buka bersama agar keuangan tetap terkendali.
  • Pesan utama artikel adalah menahan diri dari lapar mata dan perilaku konsumtif dengan berbelanja seperlunya agar Ramadan lebih tenang dan dompet tetap aman hingga lebaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Euforia merayakan Ramadan serta menyambut Hari Raya Idul Fitri kerap kali membuat seseorang kalap hingga tak sadar pengeluarannya membengkak. Diskon besar-besaran serta godaan takjil setelah seharian berpuasa membuat kita lupa diri sampai melupakan esensi bulan Ramadan yang seharusnya menahan diri dari segala godaan serta belajar hidup dengan kesederhanaan.

Sebenarnya tak ada larangan tertulis mengenai belanja besar-besaran di bulan Ramadan asalkan tak mengganggu ibadah yang ada. Namun, sering kali pengeluaran membengkak yang baru disadari membuat seseorang jadi susah fokus. Akibatnya, ibadah jadi terganggu lantaran stress memikirkan pengeluaran.

Maka dari itu, kita perlu menghemat pengeluaran selama bulan Ramadan. Berikut ini adalah tips hemat di bulan Ramadan yang bisa kamu praktikkan. Simak yuk!

1. Evaluasi pengeluaran di bulan Ramadan tahun lalu

ilustrasi orang mengatur uang gaji bulanan (pexels.com/Kamboompics.com)

Langkah pertama yang bisa kamu lakukan untuk menghemat pengeluaran di bulan Ramadan adalah dengan melakukan evaluasi terhadap pengeluaran di tahun sebelumnya. Kamu bisa mengingat-ingat apa saja yang membuat pengeluaranmu di bulan tersebut jadi membengkak. Entah itu pengeluaran untuk makan ataupun belanja pakaian.

Dari sanalah kamu bisa membuat batasan yang realistis supaya tidak terulang pola yang sama. Kamu bisa memilih mana yang perlu dibeli dan mana yang tidak. Kamu juga bisa menahan diri untuk tidak berlebihan dalam membeli sesuatu seperti takjil. Sehingga tidak terulang kesalahan yang sama seperti tahun sebelumnya.

2. Buatlah anggaran khusus untuk bulan Ramadan

ilustrasi orang mengatur uang gaji bulanan (pexels.com/Tima Mireshnichenko)

Pengeluaran di bulan puasa jelas berbeda dengan pengeluaran di hari-hari biasa sebab ada beberapa biaya tambahan yang diperlukan. Oleh karena itu, sangat penting untuk membuat rencana anggaran khusus di bulan puasa demi menghindari adanya pembengkakan pengeluaran. Rencana anggaran yang akan membantu kita untuk memprioritaskan mana yang penting dan mana yang bisa dikurangi.

Rencana tersebut dibuat supaya pengeluaran kecil yang terasa wajar di hari biasa tak akan menumpuk dan membuat pengeluaran membengkak. Selain itu, dengan rencana anggaran yang ada kita bisa menetapkan batas maksimal belanja dan tak akan kaget dengan total pengeluaran yang ada di akhir bulan nanti. Hal ini juga akan meminimalisir jebolnya kantong keuangan sebelum gajian.

3. Batasi buker berlebihan

ilustrasi suasana berbuka bersama (pexels.com/Fauxels)

Buka bersama memang bisa menjadi ajang silaturahim antar teman maupun keluarga. Namun, di sini kita perlu memberikan batasan pada acara buka bersama yang akan kita ikuti. Tidak semua undangan yang kita terima harus kita datangi apalagi jika keadaan keuangan sedang tidak mencukupi.

Kita bisa memilih untuk tidak hadir dan ikut serta apabila keadaan memang tidak memungkinkan. Atau jika memang ingin ikut bukber, cukup pilih beberapa saja yang memang dirasa perlu untuk dihadiri. Tak perlu memaksakan keadaan dengan mengiakan semua tawaran bukber hanya karena gengsi. Sebab, gengsi itu tak akan mampu menutup kekurangan yang ada.

4. Jangan sampai lapar mata saat ngabuburit

ilustrasi suasana ngabuburit saat puasa (pexels.com/Aarti Krishnan)

Ngabuburit sambil berburu takjil buat buka puasa memanglah hal yang menyenangkan. Selain bisa melihat keramaian kita juga bisa berburu beraneka ragam takjil yang mungkin jarang ditemui di hari-hari biasa. Hanya saja kadang saking senangnya melihat beraneka makanan yang menggoda kita jadi lapar mata dan tak bisa menahan diri untuk membelinya.

Alhasil, terjadilah impulsive buying yang berujung pada pemborosan. Oleh karenanya kita harus bisa menahan diri saat ngabuburit supaya tidak lapar mata dan tetap membeli takjil seperlunya saja. Dengan begitu kita tak hanya bisa menghemat pengeluaran, tetapi juga menghindari perilaku impulsif yang bisa menciptakan kebiasaan buruk, yakni impulsive buying.

5. Jangan mudah tergiur diskon

ilustrasi hasil belanja diskon (pexels.com/Sora Shimazaki)

Bulan Ramadan memang bulannya diskon gila-gilaan yang pastinya membuat kita tergoda. Promo yang ada membuat kita kalap dalam belanja. Harga-harga miring yang ditawarkan membuat kita tak perlu berpikir ulang untuk membelinya. Seolah akan sangat merugikan apabila barang itu tak dibeli, padahal sebenarnya kita tak benar-benar butuh barang tersebut.

Kelihatannya sih tak mau rugi karena melewatkan promo, tetapi ujungnya malah jadi pemborosan. Makanya, kita perlu memilih diskon dengan bijak. Jangan membeli hanya karena murah, tetapi belilah karena butuh. Supaya tak ada drama kantong kering yang menyiksa diri di akhir bulan nanti.

6. Belanja outfit seperlunya

ilustrasi orang belanja untuk self reward (pexels.com/Max Fischer)

Sudah seperti sebuah tradisi apabila dalam rangka merayakan Hari Raya Idul Fitri, orang-orang berbondong-bondong membeli baju baru. Berburu diskon sampai open pre-oder demi mendapatkan baju impian untuk dikenakan di hari penuh kemenangan.

Memang bukan suatu masalah membeli baju baru untuk dikenakan di lebaran nanti. Membeli baju sudah menjadi semacam tradisi menjelang lebaran. Namun, terkadang kebanyakan dari kita membeli baju bukan karena kebutuhan, tetapi demi memenuhi gengsi dan mengikuti trend yang ada. Padahal, di dalam lemari masih banyak baju layak pakai yang bisa dikenakan di hari lebaran.

Akibatnya, banyak baju yang menumpuk di lemari. Banyak baju tak terpakai yang hanya berakhir jadi pajangan di sana. Untuk mengurangi perilaku konsumtif tersebut kita perlu belajar untuk memilih mana yang prioritas dan mana yang bukan. Belanja seperlunya sesuai kebutuhan bukan karena ingin mengikuti trend yang beredar.

Intinya, Ramadan adalah waktu terbaik untuk belajar menahan diri dari segala godaan. Bukan cuman godaan lapar dan haus, tetapi juga dari keinginan konsumtif. Dengan perencanaan yang matang, mindset sederhana dan kesadaran diri akan akibat impulsive buying, kita bisa menjalani bulan puasa dengan lebih tenang, hati yang nyaman, dan tentunya dompet juga aman sampai lebaran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team