Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tradisi Sasi, Cara Warga Pesisir Papua Jaga Keharmonisan dengan Alam

gambar seorang nelayan di sedang menangkap ikan (unsplash.com/Zinko Hein)
gambar seorang nelayan di sedang menangkap ikan (unsplash.com/Zinko Hein)
Intinya sih...
  • Sasi adalah sumpah masyarakat adat Papua untuk melindungi lautan
  • Sasi tergantung pada kondisi alam dan durasinya bervariasi setiap tahun
  • Biota laut yang ditangkap di wilayah sasi gak boleh sembarangan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi masyarakat Papua, terutama mereka yang tinggal di wilayah pesisir, laut adalah bapak, sekaligus simbol keberlangsungan hidup yang harus senantiasa di jaga agar tetap berdenyut. Mereka sadar, tanpa laut yang terjaga, kehidupan gak akan pernah sama. Jika laut dirusak, masyarakat sekitar juga pasti kena getahnya.

Menyadari hal itu, warga Papua selalu memastikan ekosistem laut di wilayah mereka tetap terjaga. Apapun dilakukan untuk menjaga laut, termasuk dengan melakukan sasi. Sasi sendiri adalah tradisi turun-temurun yang dilakukan masyarakat adat di berbagai daerah di Papua. Jadi pertanyaannya, apa itu sasi dan bagaimana tradisi ini dapat menjaga laut Papua?

1. Sasi adalah sumpah yang dibuat oleh masyarakat adat untuk melindungi lautan

gambar seorang nelayan mulai menangkap ikan di lautan (unsplash.com/Pcrm Dorego)
gambar seorang nelayan mulai menangkap ikan di lautan (unsplash.com/Pcrm Dorego)

Sasi pada dasarnya adalah sumpah atau larangan yang diberlakukan kepada masyarakat adat untuk gak mengambil hasil alam di wilayah tertentu. Ketika musim sasi di mulai, tetua adat akan berdiri menghadap laut, melantunkan mantra berisi ungkapan syukur pada leluhur, sekaligus juga harapan agar masyarakat gak tertimpa musibah. Usai mantra dilantunkan, tiang-tiang kemudian dipasang di wilayah laut tertentu sebagai batasan agar masyarakat gak mengambil hasil laut apapun di wilayah tersebut.

Menariknya meski praktiknya sama, setiap daerah di Papua punya istilah sendiri untuk menyebut tradisi sasi. Sementara masyarakat di daerah Fakfak menyebut tradisi ini dengan istilah Karakera, orang-orang di Kaimana mengenalnya dengan nama Nggama. Terlepas dari perbedaan istilah, tradisi ini memiliki tujuan yang sama, yakni untuk menjaga kelestarian dan ekosistem di lautan.

2. Sasi sangat tergantung pada kondisi alam

gambar lautan yang berombak (unsplash.com/Emanuel Panarello)
gambar lautan yang berombak (unsplash.com/Emanuel Panarello)

Di Papua, sasi laut biasanya dilakukan di bulan-bulan tertentu saat angin kencang, atau saat ombak sedang tinggi. Gak hanya soal waktu, durasi sasi pun gak selalu sama setiap tahunnya. Sebuah area di laut bisa aja di sasi selama enam sampai sepuluh bulan, atau bahkan satu tahun penuh tergantung pada kebutuhan masyarakat saat itu. Bagi kita, durasi sasi yang memakan waktu berbulan-bulan mungkin terdengar terlalu lama.

Namun di sisi lain, durasi sasi yang berlangsung lama ini justru sengaja dilakukan untuk memberikan kesempatan bagi laut agar bisa pulih sepenuhnya. Di mana ikan dan biota laut lain bisa berkembang biak tanpa khawatir adanya campur tangan manusia. Tenang, tradisi sasi bukan berarti masyarakat gak boleh melaut sama sekali. Sebaliknya, masyarakat boleh melaut seperti biasanya dengan catatan mereka gak melaut di area yang sedang di sasi.

3. Biota laut yang ditangkap pun gak boleh sembarangan

gambar lobster yang baru ditangkap (unsplash.com/Meritt Thomas)
gambar lobster yang baru ditangkap (unsplash.com/Meritt Thomas)

Setelah ditutup selama beberapa bulan, wilayah laut yang di sasi akan dibuka selama 3-7 hari sebelum ditutup kembali. Di periode inilah warga bisa memanen biota laut di daerah tersebut. Namun panen di sini juga gak boleh sembarangan. Biasanya sebelum dibuka kembali, masyarakat adat sudah memiliki kesepakatan mengenai mana yang boleh diambil, dan mana yang gak. Misalnya mereka hanya diperbolehkan mengambil lobster dan teripang. Teripang yang diambil juga adalah teripang dewasa dengan panjang minimal 15 sentimeter.

Jika yang diambil lobster, maka mereka hanya boleh mengambil lobster yang lagi gak bertelur. Jika lobster yang ditangkap sedang bertelur, maka lobster-lobster itu akan dikembalikan ke laut supaya berkembang biak. Terakhir, peralatan yang digunakan untuk menangkap hasil laut jelas harus ramah lingkungan. Di perairan yang dangkal, masyarakat umumnya menggunakan balobe atau tombak kayu untuk menangkap ikan. Sedangkan di perairan yang lebih dalam, masyarakat harus menyelam dan menangkap berbagai biota laut dengan menggunakan tangan kosong.

4. Gak hanya laki-laki, perempuan juga memiliki peran penting dalam tradisi

gambar seorang perempuan Papua (unsplash.com/Asso Myron)
gambar seorang perempuan Papua (unsplash.com/Asso Myron)

Dulu, tradisi sasi hanya dikelola oleh laki-laki. Namun seiring waktu, perempuan juga kini memiliki peranan penting dalam tradisi istimewa satu ini. Di Kampung Kapatcol, Distrik Misool Barat misalnya, tradisi sasi dikelola olek Kelompok Sasi Perempuan Waifuna. Hebatnya lagi, hal ini sudah berlangsung sejak tahun 2008 lalu. Menurut Almina Kacili yang merupakan ketua Kelompok Sasi Perempuan Waifuna, perempuan harus berada di garda terdepan salam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Melalui sasi, perempuan memiliki kesempatan dalam pelestarian alam di Kapatcol.

Kelompok Sasi Perempuan Waifuna sendiri mayoritas terdiri dari mama-mama berusia di atas 30 tahun, dan beberapa anggota perempuan yang lebih muda. Termasuk Yolanda Kacili yang masih berusia 23 tahun. Usia muda bukan halangan bagi Yolanda untuk memahami betapa pentingnya tradisi sasi. Tanpa tradisi ini, penangkapan yang terjadi secara terus-menerus dapat mengancam kelangsungan hidup biota laut itu sendiri, apalagi jika alat yang digunakan gak ramah lingkungan. Ke depannya, perempuan muda ini berharap semakin banyak anak muda yang terlibat. Selain supaya kekayaan laut di Papua bisa tetap terjaga, keterlibatan generasi muda juga memastikan bahwa tradisi ini gak akan hilang tergerus perubahan zaman.

5. Tradisi sasi juga sarat akan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang

gambar masyarakat adat Papua (unsplash.com/Fadhil Abhimantra)
gambar masyarakat adat Papua (unsplash.com/Fadhil Abhimantra)

Tradisi sasi sebetulnya memiliki sejarah yang  misterius, karena masyarakat juga gak tahu sejak kapan tradisi ini dimulai. Meski begitu, sasi tetaplah tradisi yang istimewa. Bukan hanya sekedar kapan boleh memanen hasil laut, tradisi sasi juga mengajarkan kita untuk bersikap bijak dalam pemanfaatan sumber daya alam.

Bagi masyarakat adat, tradisi sasi merupakan momen yang tepat untuk memperkuat ikatan sosial. Pasalnya di upacara penutupan maupun pembukaan wilayah yang di sasi, warga akan berkumpul, mempererat kekerabatan, hingga berkomunikasi dengan para pemimpin adat. Saking istimewanya tradisi ini, gak jarang masyarakat adat yang hidup di daerah lain akan pulang kampung untuk ikut serta dalam tradisi ini.

Tradisi sasi di Papua menyadarkan kita bahwa menjaga kelestarian alam bisa dimulai dari cara yang paling sederhana. Sesederhana seperti menancapkan tiang kayu sebagai pembatas antara wilayah mana yang perlu di sasi, dan mana yang gak. Namun langkah sederhana ini juga butuh kerja sama dari semua pihak, termasuk generasi muda dan perempuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Merry Wulan
EditorMerry Wulan
Follow Us