ilustrasi rumah berantakan (pexels.com/cottonbro studio)
Rumah yang dipenuhi barang sering kali tidak hanya membuat ruangan terasa sempit, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis penghuninya. Tumpukan pakaian yang jarang dipakai, peralatan yang tidak pernah digunakan, hingga berbagai barang hasil belanja impulsif dapat menciptakan kesan berantakan.
Tanpa disadari, kondisi tersebut membuat otak terus menerima rangsangan visual yang akhirnya meningkatkan rasa lelah dan sulit berkonsentrasi. Penelitian dalam bidang psikologi lingkungan menunjukkan bahwa lingkungan yang rapi dan terorganisasi membantu seseorang merasa lebih tenang serta lebih mudah fokus.
Sebaliknya, ruangan yang penuh barang dapat meningkatkan beban kognitif karena otak harus memproses lebih banyak informasi visual. Inilah alasan mengapa banyak orang merasa lebih lega setelah merapikan rumah atau mengurangi barang yang tidak lagi dibutuhkan.
"Saat segala sesuatu tertata rapi, kamu tahu persis di mana kamu meletakkan kacamata dan kunci, sehingga kamu bisa langsung mengambilnya dan melanjutkan aktivitas. Hal ini menghemat waktu dan menghindarkan kamu dari banyak kerepotan," dikutip dari WebMD yang telah ditinjau oleh Jabeen Begum, MD, yang berspesialisasi mikrobiologi.
"Dalam sebuah penelitian, perempuan yang menganggap rumah mereka berantakan memiliki kadar hormon stres kortisol yang tinggi sepanjang hari, sedangkan mereka yang menggambarkan tempat tinggalnya sebagai ruang yang tertata rapi dan menenangkan memiliki kadar hormon tersebut yang lebih rendah," tambahnya.