Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tubuhmu Selalu Waspada Meski Gak Ada Bahaya, Kenali Hypervigilance!
ilustrasi panic (pexels.com/ Andrea Piacquadio)
  • Hypervigilance adalah kewaspadaan berlebihan ketika pikiran dan tubuh terus memindai ancaman, meski situasi sebenarnya aman atau relatif aman.
  • Kondisi ini dapat dipicu trauma, kekerasan, perundungan, pelecehan, konflik berkepanjangan, atau pengalaman lain yang membuat seseorang merasa tidak aman.
  • Hypervigilance dapat memicu cemas, sulit tidur, sulit fokus, dan mengganggu hubungan; mengenali pemicu, grounding, serta bantuan psikolog atau psikiater dapat dipertimbangkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak kamu merasa sulit untuk benar-benar santai meskipun sedang berada di tempat yang aman dan nyaman? Misalnya, ada suara pintu dibanting sedikit lebih keras langsung membuat kaget, perubahan nada bicara orang lain terasa mengancam, atau pesan yang belum dibalas bikin kamu mikir berbagai kemungkinan buruk. Bahkan ketika gak ada sesuatu yang sedang terjadi, tubuh seperti terus bersiap menghadapi bahaya.

Kondisi seperti ini bisa berkaitan dengan hypervigilance atau kewaspadaan berlebihan. Hypervigilance bukan sekadar terlalu banyak berpikir atau sengaja mencari-cari masalah. Pada sebagian orang, kewaspadaan ini merupakan respons tubuh dan pikiran setelah mengalami situasi yang membuat mereka merasa gak aman. Yuk, kenali lebih dalam apa itu hypervigilance agar kamu gak buru-buru menyalahkan diri sendiri!

1. Apa yang dimaksud hypervigilance?

ilustrasi berbicara (pexels.com/ SHVETS production)

Hypervigilance adalah kondisi ketika seseorang berada dalam keadaan sangat waspada terhadap kemungkinan ancaman di sekitarnya. Pikiran seolah terus melakukan pemindaian ke sekitar untuk mencari tanda-tanda bahwa sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi. Misalnya, kamu menjadi sangat memperhatikan ekspresi wajah seseorang ketika sedang berbicara.

Perubahan kecil dalam nada suara juga bisa langsung membuatmu bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang salah. Kamu juga bisa memperhatikan suara langkah kaki, gerakan orang di sekitar, bahkan perubahan suasana ruangan secara berlebihan. Dalam kondisi tertentu, kewaspadaan memang penting. Namun, pada hypervigilance, sistem tersebut tetap aktif meskipun ancaman tidak ada atau situasi sebenarnya relatif aman.

2. Kenapa hypervigilance ini bisa terjadi?

ilustrasi merasa takut (pexels.com/Keira Burton)

Hypervigilance dapat muncul karena berbagai pengalaman dan kondisi. Salah satu pemicunya adalah pengalaman traumatis atau situasi yang berlangsung cukup lama yang membuat seseorang merasa gak aman. Pengalaman seperti kekerasan, perundungan, pelecehan, konflik berkepanjangan, hubungan yang penuh ancaman, atau kejadian traumatis lainnya dapat membuat tubuh lebih peka terhadap tanda-tanda bahaya.

Nah, setelah mengalami sesuatu yang menyakitkan, seseorang menjadi lebih cepat mengenali pola yang mengingatkan mereka pada pengalaman tersebut. Contohnya, sering mengalami bentakan terus-menerus akan menjadikan ia sangat sensitif terhadap perubahan nada suara. Bukan karena ia ingin mencari masalah, tapi karena tubuhnya pernah belajar bahwa nada tertentu bisa diikuti oleh sesuatu yang menakutkan.

3. Apa dampaknya bagi kesehatan mental dan hubungan?

ilustrasi menggunakan ponsel (pexels.com/Ron Lach)

Terus-menerus berada dalam kondisi waspada tentu melelahkan. Pikiran seperti tidak mendapatkan kesempatan untuk benar-benar beristirahat karena selalu sibuk memeriksa apakah ada sesuatu yang perlu diantisipasi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat seseorang lebih mudah merasa cemas, sulit tidur, sulit fokus, cepat lelah, atau lebih mudah terkejut.

Aktivitas yang seharusnya biasa saja juga dapat menguras energi karena perhatian terus diarahkan pada kemungkinan ancaman. Dampaknya juga bisa terasa dalam hubungan. Seseorang yang mengalami hypervigilance mungkin sangat peka terhadap perubahan perilaku orang lain. Pesan yang lebih singkat dari biasanya, perubahan ekspresi, atau seseorang yang tiba-tiba menjadi lebih diam bisa membuat pikirannya langsung bekerja keras mencari tahu apa yang sedang terjadi.

4. Bagaimana cara menyikapi dan mengatasinya?

ilustrasi grounding (pexels.com/Ron Lach)

Mengatasi hypervigilance bukan berarti memaksa diri untuk berhenti waspada. Jika respons tersebut terbentuk dari pengalaman yang membuat seseorang merasa gak aman, proses untuk kembali merasa aman juga membutuhkan waktu. Kamu harus bisa mengenali polanya. Perhatikan situasi apa yang biasanya membuat tubuh dan pikiran langsung masuk ke mode waspada. Kamu bisa mencatat pemicunya, apa yang kamu rasakan, serta bagaimana tubuh merespons.

Ketika mulai merasa sangat waspada, kamu juga bisa mencoba grounding sederhana. Rasakan telapak kaki menyentuh lantai, tarik napas perlahan, perhatikan benda-benda di sekitar, atau sebutkan beberapa hal yang sedang kamu lihat dan dengar. Teknik ini dapat membantu mengarahkan perhatian kembali pada keadaan saat ini. Jika kamu sulit tidur, pekerjaan terganggu, hubungan kacau, mencari bantuan psikolog atau psikiater adalah pilihan yang tepat.

Hypervigilance membuat seseorang seperti hidup dengan alarm yang terus menyala. Kalau kamu sedang mengalaminya, kamu tak harus memaksa diri untuk langsung baik-baik saja. Mengenali apa yang terjadi pada tubuh dan pikiranmu jadi salah satu langkah untuk mulai memahami diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article