Ilustrasi window of tolerance (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Di kedua sisi "zona optimal" terdapat dua zona lainnya: zona hiper-arousal dan zona hipo-arousal. Zona optimal dicirikan oleh rasa ketenangan, fleksibilitas, keterbukaan, rasa ingin tahu, kehadiran, kemampuan untuk mengatur emosi, dan kapasitas untuk menoleransi tekanan hidup.
Jika "jendela" ini tertutupi dan kamu mengalami stres internal atau eksternal yang menyebabkan kamu bergerak melampaui jendela ini, dan bisa berada dalam keadaan hiperarousal atau hipoarousal.
"Hiperarousal adalah keadaan emosional yang ditandai dengan energi tinggi, kemarahan, panik, mudah tersinggung, kecemasan , kewaspadaan berlebihan, kewalahan, kekacauan, naluri melawan atau melarikan diri, dan respons terkejut. Hipoarousal, sebaliknya, adalah keadaan emosional yang ditandai dengan penutupan diri, mati rasa, depresi, penarikan diri, rasa malu, ekspresi datar, dan keterputusan," kata Annie Wright LMFT, psikoterapis berlisensi dan spesialis trauma relasional, mengutip laman Psychology Today.
Abrishami menambahkan, orang lain bisa bereaksi terhadap kurangnya kendali ini dengan menjadi lebih mengontrol kehidupan mereka sendiri. Beberapa orang mencurahkan diri mereka ke pekerjaan, hubungan, diet, pekerjaan rumah tangga, atau hobi.
Ada yang mulai sangat fokus pada kebersihan, pengorganisasian, dan mengembangkan kebutuhan akan keteraturan di ruang mereka. Ini memberi orang rasa kendali di dunia yang terasa di luar kendali. Namun terkadang, keluar dari zona nyaman bisa bermanfaat dan membantu kamu tumbuh serta membangun ketahanan.
“Zona toleransimu tidak tetap alias dapat meluas jika kamu berusaha, atau justru menyempit jika mengabaikan kesejahteraan mental. Mencoba memperluas zona itu bisa sehat, karena itu menunjukkan bahwa kamu menantang diri sendiri atau melakukan yang terbaik untuk melewati masa sulit," tambah Abrishami.