Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Media Sosial Membuat Hubungan Lebih Rentan Bermasalah?

Apakah Media Sosial Membuat Hubungan Lebih Rentan Bermasalah?
ilustrasi pasangan bermain HP di belakang (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)
Share Article

Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Banyak pasangan memanfaatkannya untuk berbagi momen bahagia, menjaga komunikasi, hingga menunjukkan rasa sayang kepada publik. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, media sosial juga menghadirkan tantangan baru yang sebelumnya tidak banyak ditemui dalam hubungan romantis.

Tidak sedikit konflik pasangan yang berawal dari aktivitas sederhana di media sosial, seperti memberi tanda suka pada unggahan orang lain, mengomentari foto mantan, hingga terlalu sering memantau aktivitas pasangan secara daring. Lantas, benarkah media sosial membuat hubungan menjadi lebih rentan bermasalah?

1. Media sosial mempermudah komunikasi, tetapi juga memunculkan konflik baru

ilustrasi media sosial (unsplash.com/RobHampson)
ilustrasi media sosial (unsplash.com/RobHampson)

Media sosial pada dasarnya merupakan alat komunikasi yang sangat membantu pasangan. Melalui berbagai platform, pasangan dapat tetap terhubung meski dipisahkan oleh jarak atau kesibukan. Berbagi foto, mengirim pesan, hingga melakukan panggilan video membuat hubungan terasa lebih dekat.

Namun, kemudahan tersebut juga membuka peluang munculnya konflik yang sebelumnya jarang terjadi. Aktivitas sederhana seperti "like", mengikuti akun tertentu, membalas komentar, atau masih menyimpan foto bersama mantan dapat memunculkan rasa tidak nyaman.

Informasi yang tersedia sepanjang waktu membuat seseorang lebih mudah menafsirkan perilaku pasangan secara berlebihan, meski belum tentu sesuai dengan kenyataan. Hal ini sejalan dengan temuan Pew Research Center yang menyatakan bahwa media sosial memiliki dua sisi dalam hubungan romantis.

"Banyak remaja yang menjalin hubungan memandang media sosial sebagai tempat di mana mereka dapat merasa lebih terhubung dengan kehidupan sehari-hari pasangan mereka, berbagi koneksi emosional, dan memberi tahu pasangan mereka bahwa mereka peduli, meskipun situs-situs ini juga dapat menyebabkan perasaan cemburu atau ketidakpastian tentang stabilitas hubungan seseorang," tulis laporan Pew Research Center.

2. Rasa cemburu digital semakin mudah muncul

ilustrasi pasangan cemburu (pexels.com/Budgeron Bach)
ilustrasi pasangan cemburu (pexels.com/Budgeron Bach)

Salah satu masalah yang paling sering muncul akibat media sosial adalah digital jealousy atau rasa cemburu yang dipicu oleh aktivitas pasangan di dunia maya. Berbeda dengan kecemburuan pada hubungan di dunia nyata, kecemburuan digital bisa muncul hanya karena melihat pasangan menyukai unggahan seseorang, mengikuti akun tertentu, sering berinteraksi dengan lawan jenis, atau terlihat aktif di media sosial tetapi lambat membalas pesan.

Hal-hal yang sebenarnya belum tentu memiliki makna khusus tersebut bisa saja memicu prasangka apabila tidak dibicarakan secara terbuka. Fenomena ini semakin kuat karena media sosial memberikan akses untuk terus memantau aktivitas pasangan. Seseorang dapat melihat siapa yang memberikan komentar, siapa yang baru diikuti, hingga kapan pasangan terakhir kali aktif.

"Sebanyak 27 persen mengatakan media sosial membuat mereka merasa cemburu atau tidak yakin tentang hubungan mereka, dengan 7 persen merasa seperti itu 'sangat sering'. Kira-kira dua pertiga (68 persen) tidak merasa cemburu atau tidak yakin tentang hubungan mereka karena media sosial," tulis laporan Pew Research Center.

3. Perbandingan dengan hubungan orang lain dapat menurunkan kepuasan hubungan

ilustrasi potret pasangan tidak bahagia (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi potret pasangan tidak bahagia (pexels.com/RDNE Stock project)

Ketika seseorang terus-menerus membandingkan hubungannya dengan hubungan orang lain yang terlihat ideal, ia bisa merasa hubungan yang dijalaninya kurang membahagiakan meskipun sebenarnya baik-baik saja. Perbandingan sosial ini sering kali terjadi tanpa disadari.

Semakin banyak seseorang melihat unggahan pasangan lain, semakin besar kemungkinan muncul ekspektasi yang tidak realistis terhadap pasangannya sendiri. Akibatnya, rasa syukur berkurang, kepuasan hubungan menurun, dan konflik kecil menjadi lebih mudah membesar karena muncul anggapan bahwa pasangan lain tampak "lebih perhatian" atau "lebih romantis."

"Jika kamu membandingkan hubunganmu sendiri dengan hubungan teman-temanmu, dan hubungan mereka tampak selalu lebih baik daripada hubunganmu, maka ini mungkin berhubungan dengan ketidakbahagiaan dalam hubunganmu sendiri," kata psikolog sosial dan profesor psikologi di Universitas Loyola Maryland Theresa DiDonato, Ph.D. dalam Psychology Today.

4. Komunikasi langsung tetap menjadi kunci hubungan sehat

ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/Jep Gambardella)
ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/Jep Gambardella)

Media sosial memang mempermudah komunikasi, tetapi tidak dapat menggantikan percakapan yang jujur dan mendalam. Banyak pasangan merasa sudah sering berinteraksi karena saling mengirim pesan atau membagikan unggahan, padahal mereka jarang membahas perasaan, harapan, maupun masalah yang sebenarnya.

Akibatnya, kesalahpahaman lebih mudah terjadi karena komunikasi berlangsung secara singkat dan minim ekspresi. Selain itu, pesan teks juga rentan disalahartikan. Nada bicara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh yang biasanya membantu memahami maksud seseorang tidak terlihat dalam komunikasi digital.

Sebuah kalimat yang sebenarnya netral bisa dianggap dingin atau menyakitkan hanya karena dibaca dengan persepsi yang berbeda. Oleh karena itu, ketika muncul masalah, komunikasi tatap muka atau panggilan suara sering kali lebih efektif dibandingkan saling membalas pesan panjang.

"Bersikap terbuka dan jujur ​​dengan pasangan membantumu berbagi kekhawatiran dan menangani konflik dengan lebih baik. Komunikasi yang baik berarti tidak hanya berbicara tetapi juga mendengarkan dan memahami perasaan pasanganmu. Saat berbicara dengan pasangan, penting untuk sepenuhnya hadir di saat itu," kata Kendra Cherry, MS, spesialis rehabilitasi psikososial, pendidik psikologi dikutip dari Very Well Mind.

 

5. Media sosial bukan musuh hubungan, tetapi cara menggunakannya yang menentukan

Ilustrasi pasangan bermain hp sambil berpelukan (freepik.com/freepik)
Ilustrasi pasangan bermain hp sambil berpelukan (freepik.com/freepik)

Sebenarnya media sosial bukanlah penyebab utama keretakan hubungan. Platform digital hanyalah alat yang dapat memberikan dampak positif maupun negatif, tergantung pada bagaimana seseorang menggunakannya. Pasangan yang memiliki komunikasi terbuka, rasa saling percaya, dan batasan yang jelas dalam menggunakan media sosial cenderung mampu memanfaatkan teknologi untuk mempererat hubungan, bukan sebaliknya.

Menentukan batasan bersama dapat menjadi langkah sederhana tetapi efektif. Misalnya, saling menghormati privasi akun, tidak menggunakan media sosial untuk menyindir pasangan, tidak berlebihan memantau aktivitas satu sama lain, serta meluangkan waktu tanpa gawai saat sedang bersama. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini dapat membantu menjaga kualitas interaksi secara langsung sehingga hubungan tidak hanya bergantung pada komunikasi digital.

Media sosial memang dapat meningkatkan risiko munculnya kecemburuan, salah paham, hingga kebiasaan membandingkan hubungan dengan orang lain. Namun, berbagai penelitian dan pendapat para ahli menunjukkan bahwa akar permasalahan bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara pasangan menggunakannya.

Share Article
Curated For You

5 Tips Hubungan Langgeng ala Introvert

11 Jul 2025, 14:41 WIBLife
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More