Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Pasangan Harus Selalu Update Story Bareng?
Ilustrasi pasangan (pexels.com/Helena Lopes)

Di era media sosial, banyak orang menganggap hubungan yang sehat identik dengan sering mengunggah foto atau video bersama di Instagram, WhatsApp, TikTok, atau platform lainnya. Bahkan, tidak sedikit pasangan yang merasa perlu selalu membuat story berdua agar publik mengetahui bahwa hubungan mereka berjalan baik.

Namun, benarkah kebiasaan tersebut menjadi tolok ukur keharmonisan sebuah hubungan? Pada kenyataannya, setiap pasangan memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan kasih sayang.

1. Media sosial bukan ukuran cinta yang sesungguhnya

ilustrasi pasangan selfie (pexels.com/Bethany Ferr)

Tidak ada aturan yang mewajibkan pasangan untuk selalu mengunggah story bersama. Sebagian orang memang menikmati berbagi momen bahagia, tetapi sebagian lainnya merasa lebih nyaman menjaga kehidupan pribadinya tetap terbatas di dunia maya.

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa hubungan yang sehat lebih dipengaruhi oleh komunikasi, kepercayaan, dan rasa saling menghargai daripada validasi dari orang lain di internet. Dengan kata lain, kebahagiaan hubungan tidak bergantung pada jumlah unggahan yang dilihat publik.

"Boundaries adalah batasan pribadi yang ditetapkan individu untuk diri mereka sendiri guna melindungi kesejahteraan, nilai-nilai, dan jati diri mereka dalam suatu hubungan. Boundaries mendefinisikan apa yang membuat seseorang merasa nyaman dan apa yang tidak akan mereka toleransi," menurut laporan Simply Psychology yang telah ditinjau oleh psikolog Saul McLeod, PhD.

2. Terlalu sering pamer hubungan belum tentu menandakan keharmonisan

ilustrasi pasangan selfie (pexels.com/Cottonbro Studio)

Banyak pasangan yang tampak mesra di media sosial, tetapi menghadapi masalah ketika menjalani kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ada pula pasangan yang hampir tidak pernah mengunggah foto bersama namun memiliki hubungan yang stabil dan saling mendukung.

Fokus yang berlebihan pada citra di media sosial terkadang membuat seseorang lebih sibuk mempertahankan penampilan daripada membangun kualitas hubungan itu sendiri. Akibatnya, validasi dari pengikut atau teman daring menjadi lebih penting daripada komunikasi dengan pasangan.

"Batasan yang sehat secara jelas dan konsisten mengkomunikasikan kepada orang lain bagaimana kamu ingin diperlakukan dan dicintai (dan bagaimana kamu tidak menginginkannya). Batasan yang tidak sehat bersifat tidak konsisten, longgar, terlalu kaku, atau tidak ada sama sekali," dikutip dari Simply Psychology.

3. Perbedaan gaya bermedia sosial perlu dihargai

Ilustrasi pasangan (pexels.com/Helena Lopes)

Tidak semua orang memiliki kebiasaan menggunakan media sosial dengan cara yang sama. Ada yang aktif membuat story setiap hari, sementara yang lain jarang mengunggah apa pun meskipun sedang menikmati momen spesial.

Perbedaan tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda kurang sayang atau menyembunyikan hubungan. Kepribadian, pekerjaan, hingga preferensi privasi dapat memengaruhi cara seseorang menggunakan media sosial.

4. Yang lebih penting adalah kesepakatan bersama

Ilustrasi pasangan merenung (unsplash.com/Soroush Karimi)

Konflik sering muncul ketika salah satu pihak berharap pasangannya rutin mengunggah kebersamaan, sementara pihak lain merasa tidak nyaman melakukannya. Perbedaan ekspektasi seperti ini dapat diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka.

Pasangan bisa mendiskusikan apakah mereka ingin sesekali membagikan momen tertentu atau memilih menyimpan sebagian besar kenangan untuk dinikmati sendiri. Selama keputusan dibuat bersama, tidak ada pilihan yang lebih benar daripada yang lain.

5. Hubungan yang sehat dibangun di dunia nyata, bukan hanya di maya

Ilustrasi pasangan (unsplash.com/Photo by Wesley Tingey)

Story bersama memang bisa menjadi cara menyimpan kenangan atau berbagi kebahagiaan kepada teman dan keluarga. Namun, kebiasaan itu sebaiknya menjadi pilihan, bukan kewajiban yang memicu tekanan dalam hubungan.

Yang lebih penting adalah bagaimana pasangan saling mendukung ketika menghadapi masalah, menghargai perasaan satu sama lain, dan menjaga komunikasi tetap terbuka. Aktivitas sederhana seperti mendengarkan, meluangkan waktu, dan menyelesaikan konflik secara dewasa jauh lebih berpengaruh terhadap kualitas hubungan.

Tidak ada kewajiban bagi pasangan untuk selalu update story bareng. Sebagian pasangan merasa senang membagikan momen mereka kepada publik, sedangkan yang lain memilih menikmati kebersamaan tanpa sorotan media sosial. Keduanya sama-sama dapat menjadi bentuk hubungan yang sehat selama didasari rasa saling percaya dan saling menghargai.

Editorial Team

Related Article