ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Perubahan batasan paling mudah terlihat ketika percakapan mulai masuk ke wilayah seksual. Membicarakan seks dalam PDKT bukan otomatis pelecehan jika kedua pihak memang nyaman dan terlibat secara sukarela. Namun, situasinya berbeda ketika seseorang mengirim pesan seksual, foto telanjang, atau meminta foto intim tanpa mengetahui apakah penerima menginginkannya.
Kajian ilmiah mengenai pelecehan seksual pada dating apps menemukan bahwa bentuknya dapat terjadi secara online, termasuk pengiriman gambar seksual yang tidak diminta. Tinjauan terhadap berbagai penelitian bahkan menemukan bahwa pengalaman pelecehan seksual pada platform dating berkaitan dengan sejumlah dampak psikologis negatif, termasuk kecemasan, depresi, PTSD, kesepian, dan rendahnya self-esteem.
"Pengalaman mengalami pelecehan seksual di aplikasi kencan dikaitkan dengan tingkat depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma (PTSD), rasa kesepian, riwayat perlakuan buruk di masa kanak-kanak, serta persepsi kendali diri dan harga diri yang lebih rendah," jelas studi Dating Apps: A New Emerging Platform for Sexual Harassment? A Scoping Review dalam PubMed.
UN Women menjelaskan prinsip persetujuan dengan sangat sederhana: “No means No. Yes means Yes.” Lembaga tersebut juga menegaskan bahwa consent harus diberikan secara bebas dan aktif, bersifat spesifik, serta dapat ditarik kembali kapan saja. Jadi, flirting bukan berarti otomatis setuju menerima foto seksual. Pernah membicarakan seks juga bukan berarti seseorang memberikan izin untuk menerima konten seksual kapan pun.