Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Batasan dalam PDKT di Era DM: Kapan Perhatian Berubah Jadi Pelecehan?
ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/freepik)

PDKT sekarang bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana: membalas Instagram Story, memberikan reaction, mengirim DM, lalu berlanjut ke obrolan setiap hari. Karena komunikasi terasa lebih mudah dan cepat, seseorang kadang merasa sudah cukup dekat hanya karena sering bertukar pesan. Masalahnya, intensitas komunikasi di ruang digital tidak otomatis berarti kedua orang sudah memiliki tingkat kenyamanan yang sama.

Perhatian memang bisa menjadi bagian menyenangkan dari proses mengenal seseorang. Namun, perhatian juga bisa berubah menjadi tekanan ketika seseorang terus mengirim pesan setelah ditolak, memaksa pembicaraan seksual, mengirim foto intim tanpa diminta, atau merasa berhak mengetahui aktivitas orang yang sedang didekati.

1. PDKT bukan berarti bebas menembus batasan

ilustrasi memegang gawai dan bermain media sosial (unsplash.com/Pradamas Gifarry)

Salah satu kesalahpahaman dalam PDKT adalah menganggap rasa tertarik sebagai semacam izin untuk melakukan apa saja. Misalnya, seseorang merasa boleh mengirim DM berkali-kali karena "kan lagi pendekatan". Padahal, ketertarikan hanya bentuk perasaan pengirim, bukan memberikan hak untuk menentukan kenyamanan orang lain.

Batasan sederhana sebenarnya bisa dilihat dari respons penerima. Kalau seseorang membalas dengan antusias, ikut memulai percakapan, dan menunjukkan ketertarikan, komunikasi bisa berkembang secara natural. Sebaliknya, ketika respons semakin pendek, pesan tidak dibalas, seseorang mengatakan tidak nyaman, atau secara jelas meminta agar komunikasi dihentikan, terus mengejar bukan lagi sekadar menunjukkan perhatian.

"Mencoba mendesak seseorang untuk tinggal lebih lama atau melakukan ciuman yang tidak diinginkan merupakan pelanggaran batasan pribadi. Jika teman kencan memberikan respons yang tidak langsung atau defensif terhadap pertanyaan yang wajar, sebaiknya kamu bersikap hati-hati," kata psikolog Roxy Zarrabi, Psy.D. dalam Psychology Today.

2. Spam DM dan "harus balas" bisa menjadi bentuk tekanan

ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio)

Mengirim satu atau dua pesan ketika belum mendapat balasan sebenarnya belum tentu bermasalah. Yang perlu diperhatikan adalah pola perilakunya. Ketika seseorang terus mengirim "kok gak balas?", "lagi apa?", "online tapi gak jawab", kemudian menelepon berkali-kali atau berpindah platform setelah tidak mendapatkan respons, perhatian bisa berubah menjadi tekanan.

Penelitian mengenai digital dating abuse menemukan bahwa tekanan untuk segera merespons pesan merupakan salah satu bentuk perilaku yang cukup umum. Dalam salah satu penelitian, peserta melaporkan pengalaman ditekan untuk segera membalas telepon, SMS, atau pesan lainnya, serta mengalami perilaku pemantauan terhadap lokasi dan aktivitas. Artinya, masalahnya bukan semata-mata berapa banyak pesan yang dikirim, tetapi apakah komunikasi tersebut mulai mengontrol atau membuat penerima merasa tidak aman.

"Di antara responden yang memiliki pengalaman berpacaran, 76,1 persen (n = 530) melaporkan pernah melakukan atau mengalami setidaknya satu bentuk perilaku digital dating abuse (DDA) semasa hidup. Perilaku DDA merupakan hal yang umum terjadi dan dapat muncul pada usia muda. Temuan kami menyoroti adanya tumpang tindih antara pihak yang melakukan dan pihak yang mengalami perilaku DDA, serta mengisyaratkan bahwa upaya pencegahan sebaiknya berfokus pada masalah mendasar yang mendorong terjadinya perilaku tersebut, baik dari sisi pelaku maupun korban," demikian laporan studi Prevalence, age of initiation, and patterns of co-occurrence of digital dating abuse behaviors nationwide dikutip dari PubMed Central (PMC).

3. Chat seksual dan foto intim tanpa persetujuan bukan sekadar "flirting"

ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Perubahan batasan paling mudah terlihat ketika percakapan mulai masuk ke wilayah seksual. Membicarakan seks dalam PDKT bukan otomatis pelecehan jika kedua pihak memang nyaman dan terlibat secara sukarela. Namun, situasinya berbeda ketika seseorang mengirim pesan seksual, foto telanjang, atau meminta foto intim tanpa mengetahui apakah penerima menginginkannya.

Kajian ilmiah mengenai pelecehan seksual pada dating apps menemukan bahwa bentuknya dapat terjadi secara online, termasuk pengiriman gambar seksual yang tidak diminta. Tinjauan terhadap berbagai penelitian bahkan menemukan bahwa pengalaman pelecehan seksual pada platform dating berkaitan dengan sejumlah dampak psikologis negatif, termasuk kecemasan, depresi, PTSD, kesepian, dan rendahnya self-esteem.

"Pengalaman mengalami pelecehan seksual di aplikasi kencan dikaitkan dengan tingkat depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma (PTSD), rasa kesepian, riwayat perlakuan buruk di masa kanak-kanak, serta persepsi kendali diri dan harga diri yang lebih rendah," jelas studi Dating Apps: A New Emerging Platform for Sexual Harassment? A Scoping Review dalam PubMed.

UN Women menjelaskan prinsip persetujuan dengan sangat sederhana: “No means No. Yes means Yes.” Lembaga tersebut juga menegaskan bahwa consent harus diberikan secara bebas dan aktif, bersifat spesifik, serta dapat ditarik kembali kapan saja. Jadi, flirting bukan berarti otomatis setuju menerima foto seksual. Pernah membicarakan seks juga bukan berarti seseorang memberikan izin untuk menerima konten seksual kapan pun.

4. "Kan cuma bercanda" tidak menghapus rasa tidak nyaman

ilustrasi bermain media sosial (pixabay.com/mikoto.raw Photographer)

Kalimat seperti "bercanda doang" atau "jangan baper" sering muncul ketika seseorang mendapatkan respons negatif dari lawan bicara. Padahal, niat pengirim dan dampak yang dirasakan penerima merupakan dua hal berbeda.

Sebuah pesan dapat dianggap lucu oleh pengirim, tetapi tetap terasa mengganggu, merendahkan, menakutkan, atau seksual bagi penerimanya. Perlu diketahui juga bahwa bentuk pelecehan tidak selalu harus dimulai dengan tindakan yang ekstrem. Penelitian terhadap pengalaman perempuan muda juga menemukan tingginya paparan terhadap pesan seksual yang tidak pantas, komentar seksis, rayuan yang tidak diinginkan, serta perhatian seksual yang tidak diinginkan di berbagai platform digital.

"Sebagian besar perempuan melaporkan menerima pesan yang tidak pantas secara seksual (84 persen, n = 318), ucapan atau komentar seksis (74 persen, n = 281), perilaku menggoda atau ajakan seksual (70 persen, n = 265), atau perhatian seksual yang tidak diinginkan (64 persen, n = 245) melalui platform daring, akun media sosial, surel, atau pesan teks," laporan studi Young Women’s Experiences With Technology-Facilitated Sexual Violence From Male Strangers dalam PubMed Central.

Bahkan, dalam penelitian ini, sebagian responden melaporkan bahwa pelaku terus mengejar mereka setelah diabaikan atau diblokir. Pelaku tetap mengikuti mereka di platform daring lainnya.

"Perempuan melaporkan bahwa beberapa laki-laki tetap melanjutkan pelecehan tersebut, mengikuti mereka di berbagai situs daring, serta meningkatkan intensitas dan tingkat keparahan tindakan mereka, yang pada akhirnya mendorong sebagian perempuan untuk menghapus akun media sosial mereka," tambahnya.

5. Kalau sudah ditolak, berhenti adalah bentuk menghargai

ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/freepik)

Dalam PDKT, penolakan memang bisa terasa tidak menyenangkan. Namun, menerima penolakan merupakan bagian dari komunikasi yang sehat. Seseorang tidak memiliki kewajiban untuk terus memberikan kesempatan hanya karena orang lain sudah mengirim pesan panjang, memberikan hadiah, sering memuji, atau merasa sudah berusaha keras.

Prinsip ini bahkan semakin penting di ruang digital karena seseorang dapat dengan mudah menghubungi orang lain berulang kali. Ketika seseorang sudah mengatakan tidak, terus mencari celah untuk mendapatkan respons bukan lagi tentang seberapa besar usaha dalam PDKT, tetapi tentang apakah batasan orang tersebut dihormati.

"Cara seseorang bereaksi terhadap batasan kamu menunjukkan karakter mereka: Apakah mereka memperlakukan kamu dengan hormat, atau justru melanggar batasan kamu tanpa memedulikan perasaan kamu?" jelas Roxy Zarrabi.

"Saat mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka menanggapinya dengan sikap defensif, marah, atau mencoba membuat kamu merasa bersalah atas respons tersebut," tambahnya.

 

PDKT yang sehat seharusnya membuat dua orang merasa aman untuk mengenal satu sama lain, bukan merasa harus selalu membalas pesan, menerima rayuan seksual, atau takut ketika mengatakan tidak. Bentuk perhatian bisa berhenti ketika batasan sudah disampaikan tetapi tetap diterobos.

Curated For You

Editorial Team

Related Article