ilustrasi bermain media sosial (pixabay.com/mikoto.raw Photographer)
Kalimat seperti "bercanda doang" atau "jangan baper" sering muncul ketika seseorang mendapatkan respons negatif dari lawan bicara. Padahal, niat pengirim dan dampak yang dirasakan penerima merupakan dua hal berbeda.
Sebuah pesan dapat dianggap lucu oleh pengirim, tetapi tetap terasa mengganggu, merendahkan, menakutkan, atau seksual bagi penerimanya. Perlu diketahui juga bahwa bentuk pelecehan tidak selalu harus dimulai dengan tindakan yang ekstrem. Penelitian terhadap pengalaman perempuan muda juga menemukan tingginya paparan terhadap pesan seksual yang tidak pantas, komentar seksis, rayuan yang tidak diinginkan, serta perhatian seksual yang tidak diinginkan di berbagai platform digital.
"Sebagian besar perempuan melaporkan menerima pesan yang tidak pantas secara seksual (84 persen, n = 318), ucapan atau komentar seksis (74 persen, n = 281), perilaku menggoda atau ajakan seksual (70 persen, n = 265), atau perhatian seksual yang tidak diinginkan (64 persen, n = 245) melalui platform daring, akun media sosial, surel, atau pesan teks," laporan studi Young Women’s Experiences With Technology-Facilitated Sexual Violence From Male Strangers dalam PubMed Central.
Bahkan, dalam penelitian ini, sebagian responden melaporkan bahwa pelaku terus mengejar mereka setelah diabaikan atau diblokir. Pelaku tetap mengikuti mereka di platform daring lainnya.
"Perempuan melaporkan bahwa beberapa laki-laki tetap melanjutkan pelecehan tersebut, mengikuti mereka di berbagai situs daring, serta meningkatkan intensitas dan tingkat keparahan tindakan mereka, yang pada akhirnya mendorong sebagian perempuan untuk menghapus akun media sosial mereka," tambahnya.