Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Friendship Breakup Bikin Sesak? Ini 5 Langkah untuk Move On
ilustrasi sembuh dari friendship breakup tanpa drama dan hidup lebih tenang (pexels.com/Sourov sarker)
  • Friendship breakup dinilai wajar seiring perubahan usia dan prioritas, tetapi kesedihan yang dipendam berisiko memicu overthinking, menyalahkan diri, atau dendam tidak sehat.
  • Proses pulih dimulai dengan memvalidasi emosi, meluapkannya secara aman, serta memberi jarak digital melalui mute atau hide story agar pikiran lebih tenang.
  • Hindari sindiran dan drama di media sosial; alihkan fokus pada perawatan diri, aktivitas pribadi, serta bangun koneksi baru yang sejalan secara perlahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Putus cinta memang sakit, tapi ditinggal sahabat sendiri rasanya bisa jauh lebih nyesek dan membingungkan, lho. Sensasi kehilangan orang yang biasanya tahu segalanya tentang hidupmu ini bisa bikin dada terasa sesak dan hampa secara bersamaan, lho. Padahal, fenomena friendship breakup ini adalah hal yang sangat wajar terjadi seiring bertambahnya usia dan perubahan prioritas hidup, kok.

Namun kalau perasaan sedih dan janggal ini dibiarkan memburuk tanpa adanya penanganan yang tepat, kamu bisa terjebak dalam siklus overthinking yang menguras energi mental, nih. Kamu mungkin akan terus menyalahkan diri sendiri atau malah memendam kekecewaan hingga berubah jadi rasa dendam yang gak sehat. Momen menjelang peringatan Hari Persahabatan Internasional, 30 Juli, nanti sebenarnya bisa kamu jadikan waktu yang pas untuk mulai merawat kesehatan emosionalmu sendiri. Nah, dripada membiarkan luka lama terus menganga tanpa kepastian, yuk belajar merelakan hubungan yang memang sudah gak lagi sejalan secara dewasa.


1. Validasi semua emosi yang merayap masuk

ilustrasi validasi perasaanmu demi menjaga kesehatan mental (pexels.com/Engin Akyurt)

Merasa sedih, marah, atau bahkan bingung saat kehilangan teman dekat termasuk reaksi psikologis yang sepenuhnya wajar dan sehat, kok. Kamu gak perlu berpura-pura tangguh atau memaksa diri untuk langsung move on seolah-olah tak terjadi apa-apa di antara kalian. Izinkan dirimu merasakan setiap jengkal rasa sakit itu tanpa perlu memberikan penilaian negatif pada emosi yang hadir. Menolak atau menekan rasa sedih justru hanya akan membuat proses penyembuhan emosionalmu berjalan makin lambat dan melelahkan.

Secara teknis, proses mengurai duka ini mirip dengan konsep emotional processing, yakni membiarkan otak dan tubuh mencerna perubahan situasi secara perlahan. Kamu bisa meluapkan perasaan ini lewat tulisan di buku harian, menangis sepuasnya di kamar, atau sekadar cerita ke orang kepercayaan lain. Ingat, mengakui kalau kamu sedang gak baik-baik saja itu bukan tanda kelemahan diri, kok. 


2. Terapkan batas digital dan beri jarak

ilustrasi melakukan batas digital agar pikiran lebih tenang (pexels.com/Mike Jones)

Langkah konkret yang wajib kamu lakukan berikutnya adalah membatasi interaksi di dunia maya demi menjaga ketenangan pikiran. Melihat unggahan cerita atau pembaruan status sang mantan teman secara terus-menerus bisa memicu respons rumination alias kebiasaan memutar ulang pikiran negatif berulang kali. Kamu gak harus langsung memblokir akun sosial medianya kalau dirasa terlalu drastis atau memancing drama baru, kok. 

Cukup manfaatkan fitur mute atau hide story supaya konten mereka gak berseliweran lagi di lini masamu itu dapat mengurangi kesedihanmu, kok. Langkah ini bukanlah bentuk kekanak-kanakan atau rasa benci, melainkan bentuk perlindungan diri (self-preservation) yang sangat krusial. Ibarat luka fisik, kamu gak bisa berharap lukanya cepat kering dalam hitungan jam, kan? 


3. Hindari godaan memancing drama di medsos

ilustrasi menghindari drama di dunia digital (pexels.com/iam hogir)

Saat perasaan terluka, keinginan untuk mengunggah kutipan sindiran atau status terselubung (passive-aggressive) memang sering bikin kamu tergoda. Namun, meluapkan kekesalan secara implisit di ruang publik hanya akan membuka celah spekulasi dan konflik baru yang makin rumit, lho. Teman-teman serumah atau lingkaran pertemanan yang sama bisa jadi ikut merasa canggung dan terseret dalam situasi panas tersebut. Nah, menjaga martabat diri dengan tetap tenang jadi pilihan paling bijak untuk menghindari drama yang gak perlu.

Istilah kerennya, hindari jebakan smear campaign atau aksi saling menjatuhkan reputasi yang cuma bikin energimu terkuras habis. Jika ada hal yang mengganjal dan memang perlu diselesaikan, mendingan kamu bicarakan secara privat atau cukup simpan rahasia itu baik-baik sebagai bentuk kedewasaan. Lagipula, mengumbar masalah pribadi di media sosial cuma bakal bikin kamu terlihat kurang profesional dalam mengelola emosi, lho.


4. Alihkan fokus untuk merawat diri sendiri

ilustrasi mengikuti kelas melukis (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Setelah memberi jarak dan mengendalikan emosi, sekarang saatnya kamu mengalihkan fokus kembali kepada sosok yang paling penting, yaitu dirimu sendiri. Hubungan persahabatan yang renggang sering kali menyita banyak waktu dan pikiran, sehingga kegiatan pribadimu jadi terbengkalai. Mulailah menata kembali rutinitas harian dengan melakukan aktivitas yang benar-benar bisa membuat hatimu merasa tenang dan senang. Cobalah hobi baru, mengeksplorasi tempat kopi favorit, atau sekadar melakukan perawatan tubuh di rumah.

Praktik ini dikenal sebagai self-compassion, yakni sikap menyayangi dan memperlakukan diri sendiri dengan penuh kehangatan saat sedang mengalami masa sulit. Coba ingat-ingat lagi hal atau impian apa yang sempat tertunda sewaktu kamu terlalu sibuk menjaga perasaan temanmu dulu. Sekarang jadi momen yang paling tepat untuk mengejar kembali mimpi-mimpi kecil itu tanpa rasa ragu. Manjakan dirimu sejenak, karena kamu berhak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang utuh dari dirimu sendiri, kok.


5. Buka lembaran baru dan raut lingkaran baru

ilustrasi bertemu dengan teman baru yang menyenangkan (pexels.com/Diva Plavalaguna)

Sembuh dari rasa sakit masa lalu bukan berarti kamu harus menutup diri rapat-rapat dari kehadiran orang-orang baru, kok. Lingkungan dan iklim pertemanan akan terus berubah seiring berjalannya waktu, dan itu menjadi hal yang sangat alami dalam fase pendewasaan. Mulailah membuka diri secara perlahan untuk membangun koneksi baru dengan komunitas yang memiliki minat atau nilai hidup yang sejalan. Kamu gak perlu terburu-buru mencari pengganti "sahabat karib", cukup nikmati setiap proses perkenalan yang mengalir secara alami, ya.

Guys, memperluas jaringan sosial positif dapat meningkatkan resilience atau daya tahan mentalmu dalam menghadapi perubahan hidup, nih. Jadikan pengalaman pahit kemarin sebagai pelajaran berharga tentang kriteria teman yang benar-benar sehat untuk kesehatan mental. Ingat, gak semua orang ditakdirkan untuk tinggal selamanya dalam hidup, gak sedikit dari mereka hanya mampir untuk memberi pelajaran berharga, lho. Jadi, sambutlah orang-orang baru dengan hati yang lebih lapang dan pikiran yang lebih bijaksana.

Menghadapi friendship breakup memang gak pernah mudah, tetapi kamu pasti bisa melewati fase ini dan tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih kuat. Ingatlah bahwa memaafkan dan melepaskan merupakan bentuk hadiah terbaik yang bisa kamu berikan untuk kedamaian jiwamu sendiri. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article