ilustrasi suasana kantor, rekan kerja, ruang kerja, karier, sibuk (pexels.com/cottonbro studio)
Menunda pernikahan gak selalu menjadi keputusan yang buruk. Banyak anak muda ingin menyelesaikan pendidikan, membangun karier, memperbaiki kondisi finansial, atau mengenal diri sendiri sebelum berkomitmen dengan pasangan. John Gottman menggambarkan perubahan ini sebagai pergeseran dari pernikahan yang menjadi fondasi awal kehidupan menuju pernikahan sebagai pencapaian setelah seseorang meraih sejumlah target pribadi.
Dengan kata lain, sebagian Gen Z ingin merasa lebih siap menjalani kehidupan bersama sebelum memutuskan menikah. Meski begitu, keputusan menunda pernikahan juga bisa memengaruhi sejumlah perencanaan jangka panjang. Perencana keuangan bersertifikat, Douglas Boneparth, menjelaskan bahwa pasangan perlu bekerja sama dalam mengatur uang karena banyak tujuan besar membutuhkan perencanaan bersama.
Dalam konteks Amerika Serikat, pernikahan juga dapat memberikan akses ke sejumlah keuntungan finansial, seperti pilihan pelaporan pajak bersama, asuransi kesehatan pasangan, dan manfaat Jaminan Sosial sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, manfaat tersebut berbeda-beda di setiap negara, sehingga kamu gak bisa langsung menerapkannya pada sistem keuangan Indonesia.
Fenomena Gen Z yang semakin enggan menikah memang memunculkan sejumlah kekhawatiran, mulai dari risiko kesepian hingga tantangan membangun kekayaan dalam jangka panjang. Namun, data yang ada belum membuktikan bahwa menurunnya minat menikah pasti akan mengancam masa depan generasi muda.
Kualitas hubungan sosial, kemampuan mengelola keuangan, dan kesiapan membangun komitmen tetap menjadi faktor penting dalam menentukan kesejahteraan seseorang. Jadi, menikah atau tidak menikah merupakan keputusan pribadi yang perlu dipertimbangkan secara matang, bukan sekadar mengikuti tuntutan sosial.