Ilustrasi merasa takut dan cemas (pexels.com/Aliaksei Lepik)
Mungkin ini bagian yang paling sulit diterima: kamu tidak bisa membuat semua orang selalu senang. Bahkan ketika kamu sudah bersikap baik, membantu, dan berusaha mempertimbangkan perasaan orang lain, akan selalu ada keputusanmu yang tidak sesuai dengan harapan seseorang.
Tugasmu bukan memastikan semua orang selalu puas terhadap pilihanmu. Dr. Mara Czegel, PhD, menjelaskan bahwa orang yang terbiasa people-pleasing perlu memisahkan tanggung jawab atas batasan diri dengan reaksi emosional orang lain.
"Memisahkan reaksi orang lain dari tanggung jawabmu juga merupakan hal yang bermanfaat. Kamu bertanggung jawab untuk berkomunikasi dengan rasa hormat. (Tapi) kamu tidak bertanggung jawab untuk mengelola emosi orang lain terkait batasan yang kamu tetapkan," jelasnya dalam Ember Psychotherapy Collective.
"Hubungan yang dewasa mampu menerima kekecewaan. Faktanya, batasan justru sering kali memperkuat hubungan karena mengurangi rasa kesal yang terpendam dan meningkatkan kejujuran serta keaslian dalam berinteraksi," tambah Mara.
Jadi, ketika kamu mengatakan, “Maaf, aku tidak bisa membantu kali ini,” lalu orang tersebut kecewa, bukan berarti kamu telah melakukan sesuatu yang salah. Kamu sudah menyampaikan keputusan dengan cara yang menghargai orang lain. Sisanya adalah bagian yang harus mereka kelola sendiri.
Takut mengecewakan orang mungkin bukan karena kamu terlalu peduli, melainkan karena kamu terlalu lama percaya bahwa menjaga perasaan orang lain adalah tanggung jawabmu. Kamu boleh tetap menjadi pribadi yang perhatian tanpa harus selalu mengatakan “iya”. Menjadi orang baik tidak berarti harus membuat semua orang bahagia, jika itu mengorbankan dirimu sendiri.