8 September ditetapkan sebagai Hari Literasi Sedunia oleh UNESCO. Ini menandai pentingnya terus menjaga bahkan meningkatkan angka melek huruf dan sebaliknya memberantas buta huruf. Namun, literasi tentu tidak boleh berhenti hanya pada kemampuan membaca kata demi kata.
7 Kolaborasi untuk Meningkatkan Literasi, Akses Buku Masih PR

- Hari Literasi Sedunia menegaskan tantangan Indonesia bukan hanya melek huruf, tetapi juga memahami gagasan dalam bacaan; peningkatan literasi memerlukan kolaborasi pemerintah, penerbit, media, penulis, dan masyarakat.
- Akses buku didorong melalui bazar murah bersama penerbit, donasi koleksi untuk daerah pelosok, serta penghidupan perpustakaan fisik dan digital agar masyarakat lebih mudah memperoleh bacaan.
- Budaya literasi dapat diperkuat lewat sesi membaca, diskusi, dan menulis di sekolah; event serta bedah buku di ruang publik; juga penyisipan buku dalam konten kreator dan promosi usaha.
Setiap orang, khususnya masyarakat di Indonesia, mesti mampu memahami bacaan dengan baik. Bukan sekadar bisa membaca kalimat per kalimat, tetapi gagal menangkap gagasan-gagasan penting di dalamnya. Hal ini harus diakui masih menjadi PR besar bersama.
Pemerintah serta masyarakat secara umum perlu menaruh perhatian lebih besar terhadap kemajuan literasi di Tanah Air. Ini tidak dapat dicapai hanya dengan kerja keras pihak tertentu. Butuh kolaborasi antara pemerintah, media dan penerbitan, penulis, serta masyarakat luas. Apa saja bentuk kolaborasi untuk meningkatkan literasi?
1. Bazar buku murah

ilustrasi bazar buku (pexels.com/Julio Lopez) Harga buku yang masih dirasa terlalu mahal untuk rata-rata pendapatan masyarakat Indonesia menandakan pentingnya penyelenggaraan bazar. Agar harga buku di bazar bisa lebih rendah, perlu kerja sama dengan berbagai penerbit. Buku-buku lama dapat dikeluarkan dan diberi harga yang lebih terjangkau.
Daripada buku-buku tersebut hanya menumpuk di gudang. Bazar buku begini akan menjadi pesta literasi masyarakat. Buku murah yang dijual juga mesti memiliki target pembaca yang luas. Ada buku anak, remaja, dewasa, fiksi, nonfiksi, serta penulisnya dari dalam maupun luar negeri.
2. Donasi buku untuk disebarkan sampai pelosok

ilustrasi tumpukan buku (pexels.com/Olha Ruskykh) Kedermawanan akan sangat membantu mengatasi berbagai persoalan di masyarakat. Tidak terkecuali terkait tingkat literasi yang belum baik di Tanah Air. Kalau hanya mengandalkan bazar buku murah dari penerbit, ingat bahwa industri tetap harus mencetak untung dan memutar modal.
Artinya, bazar buku murah dari penerbit saja sama sekali belum cukup. Masyarakat yang memiliki koleksi buku melimpah diharapkan dapat menyumbangkan sebagiannya. Buku-buku yang terkumpul kemudian didistribusikan ke pelosok negeri yang masih kesulitan untuk mengaksesnya.
3. Sesi khusus membaca, menulis, dan diskusi di sekolah

ilustrasi anak-anak memilih buku (pexels.com/Aravindhan C) Semangat literasi juga perlu dihidupkan di lingkungan pendidikan. Setiap sekolah hendaknya membuat jam khusus untuk murid-murid membaca buku nonpelajaran. Bisa buku fiksi atau nonfiksi.
Misalnya, 30 menit setiap pagi sebelum pelajaran dimulai. Lebih bagus lagi, setelah kegiatan hening membaca, terdapat diskusi singkat tentang isi buku. Kalau ada sesi membaca dan diskusi, maka masing-masing cukup 15 menit.
Diskusi pasca-membaca penting guna berbagi pengetahuan serta mengukur pemahaman siswa akan bacaan. Untuk tugas di rumah, siswa dapat diminta menuliskan garis besar bacaan tersebut. Juga kesan atau pendapatnya setelah membaca.
4. Memperbanyak event menulis

ilustrasi mengetik (pexels.com/Ron Lach) Literasi tidak bisa dipisahkan dari aktivitas menulis. Gak cukup siswa sekolah rutin memperoleh tugas menulis garis besar bacaan seperti dalam poin sebelumnya. Berbagai event menulis juga perlu diselenggarakan untuk masyarakat umum.
Contohnya, sering-sering ada lomba menulis dengan hadiah yang menarik serta jenis tulisan dan tema beragam. Biasanya banyak orang akan tertarik untuk mengikutinya. Bukan sekadar untuk mengejar hadiah kalau menang. Namun, juga merasa memiliki saluran yang aman serta tepat buat mulai menuangkan gagasan.
5. Juga bedah buku di tempat umum

ilustrasi tumpukan buku (pexels.com/Mikhail Nilov) Sekarang pun sudah ada sejumlah acara bedah buku. Namun, biasanya masih terbatas di kota-kota besar. Lokasinya juga paling sering di toko buku atau bahkan di rumah anggota komunitas.
Itu sudah bagus, tapi jangkauannya perlu diperluas lagi. Orang-orang yang pergi ke toko buku, apalagi yang ikut komunitas baca, tentu sudah suka dengan buku. Acara bedah buku mesti dapat menjangkau orang yang paling awam dengan buku sekalipun.
Oleh sebab itu, tempat penyelenggaraannya bisa lebih divariasikan. Misalnya, dengan memanfaatkan taman kota atau kawasan wisata kuliner. Agar siapa pun yang sedang berada di sana bisa ikut mendengarkan, kemudian tertarik untuk mulai membaca.
6. Menghidupkan perpustakaan

ilustrasi perpustakaan (pexels.com/Alan Wang) Perpustakaan berperan sangat besar dalam memajukan literasi masyarakat. Ketika harga buku masih dirasa terlalu mahal, banyak orang mengandalkan perpustakaan. Maka dari itu, pemerintah harus berusaha membuat perpustakaan ada di mana-mana.
Agar masyarakat bisa pergi ke perpustakaan yang terdekat. Niat orang pribadi untuk membuat perpustakaan umum juga mesti didukung. Misalnya, dengan bantuan pengadaan buku dan rak-raknya. Layanan perpustakaan digital pun harus terus diperbaiki agar tidak sering mengalami gangguan.
7. Buku sebagai bagian dari konten

ilustrasi foto promosi kafe (pexels.com/Mikey Dabro) Terakhir, buku perlu menjadi pemandangan yang makin umum bagi masyarakat. Pameran buku saja tidak cukup karena cuma menjangkau orang-orang yang memang sudah gemar membaca. Kampanye semangat literasi mesti disisipkan ke berbagai konten.
Misalnya, konten promosi kafe. Bukan hanya menunya yang ditonjolkan. Tambahkan buku sebagai properti dalam foto atau video. Posisikan buku agar terlihat cukup mencolok.
Demikian pula promosi properti memasukkan rak buku minimalis di salah satu sudut. Gunakan buku-buku asli. Bukan sekadar dummy book atau buku tiruan. Para pengusaha dan kreator konten harus memiliki kepedulian untuk mendorong kemajuan literasi masyarakat.
Meningkatkan literasi di Tanah Air memerlukan partisipasi semua pihak. Mustahil Indonesia akan menjadi bangsa yang maju jika literasi tidak terus digenjot. Oleh sebab itu, kolaborasi untuk meningkatkan literasi harus terwujud. Kamu bisa ambil peran sesuai tugas dan kemampuan masing-masing, lalu bersinergi.






















