Beberapa hari setelah Lebaran, linimasa ramai dengan obrolan soal kencan pertama yang menghabiskan ratusan ribu rupiah lalu berujung pada satu kalimat: “what’s your bring to the table?”. Narasi ini kemudian melebar menjadi anggapan bahwa laki-laki wajib jadi provider, sementara perempuan dituntut memberi timbal balik yang sepadan.
Tidak sedikit yang merasa konsep ini jadi terlalu hitung-hitungan, padahal hubungan tidak selalu bisa diukur dari nominal. Di sisi lain, ada juga yang melihat pertanyaan itu sebagai bentuk kejelasan ekspektasi sejak awal. Berikut beberapa sudut pandang yang bisa membuka cara melihat persoalan ini dengan lebih jernih.
