Ilustrasi penasaran suatu hal (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Akun yang minim unggahan justru lebih mudah membuat orang penasaran. Ketika kita tidak mendapatkan gambaran lengkap tentang seseorang, masih ada bagian yang terasa belum diketahui. Otak manusia kemudian terdorong untuk mencari tahu bagian yang kosong tersebut.
Dalam Psychology Today, Ilmuwan Senior di MacroCognition LLC, Gary Klein, Ph.D., menjelaskan bahwa “informasi yang hilang atau bahkan tidak dapat diakses” dapat menjadi salah satu pemicu rasa penasaran. Ia juga menjelaskan konsep information gap dari George Loewenstein, yaitu adanya jarak antara apa yang sudah kita ketahui dan apa yang ingin kita ketahui.
Hal ini bisa terjadi ketika kita melihat akun seseorang yang jarang update. Bukan berarti orang tersebut sengaja membuat dirinya sulit ditebak, tetapi unggahan yang minim membuat kita menyadari bahwa masih ada banyak hal tentang dirinya yang belum kita tahu. Dari celah kecil itulah rasa penasaran muncul.
Jadi, orang yang jarang update media sosial belum tentu sedang berusaha terlihat misterius. Bisa jadi mereka memang lebih nyaman menjaga privasi, memilih berbagi secara terbatas, atau sekadar tidak menjadikan media sosial sebagai catatan harian.
Namun, kebiasaan tersebut membuat orang lain memiliki lebih sedikit informasi tentang mereka. Ketika informasi yang tersedia sedikit, rasa penasaran pun lebih mudah muncul. Pada akhirnya, kesan misterius sering kali bukan sesuatu yang sengaja dibangun, tetapi muncul dari hal-hal yang tidak kita ketahui tentang seseorang.