Ilustrasi couple (pexels.com/Alex Green)
Keintiman yang sejati bukanlah tentang kedamaian dan ketenangan, melainkan tentang kemampuan untuk menerima perbedaan, menahan ketegangan, dan cukup fleksibel untuk mengatasi konflik dan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih besar.
Mitos bahwa cinta harus tenang, tanpa cela, dan selalu harmonis telah diam-diam merusak hubungan. Kita telah salah mengartikan ketiadaan konflik sebagai kehadiran koneksi, padahal jika menghindari konflik, kita mengorbankan pertumbuhan.
"Konflik jadi jembatan untuk perubahan positif, bukan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Konflik adalah kesempatan bagi dua orang untuk benar-benar tumbuh dan memahami diri mereka sendiri dengan lebih baik. Lebih baik melihat konflik sebagai katalisator daripada sesuatu yang harus dihindari," kata Maria Thestrup, PhD, psikolog klinis berlisensi di Washington, DC, dikutip dari laman Everyday Health.
Konflik bukanlah kebalikan dari cinta, melainkan, ketidakpedulianlah yang jadi kebalikannya. Ketika dua orang sangat peduli, gesekan tak terhindarkan. Dua sejarah yang berbeda, dua sistem saraf, dua nilai, dan dua individu yang berkembang tidak dapat berbagi ruang tanpa sesekali bertabrakan.
Pertanyaannya bukanlah apakah pasangan akan mengalami konflik, tetapi bagaimana mengelola konflik tersebut. Jika ditangani dengan buruk, konflik akan menghancurkan kepercayaan. Sebaliknya, jika diatasi secara sadar dan dengan niat positif, konflik akan menjadi pendorong pertumbuhan pribadi dan hubungan.