Ilustrasi gempa. (IDN Times)
Lebih lanjut, Daryono menyampaikan, meski sejumlah gunung di Indonesia mengalami erupsi, hal itu tidak bisa dianggap sebagai fase erupsi nasional. Apalagi, erupsi dianggap memicu aktivitas gunung yang lain.
"Aktivitas beberapa gunung api secara bersamaan tidak otomatis berarti Indonesia sedang memasuki fase 'erupsi nasional' atau bahwa satu gunung memicu gunung lainnya. Indonesia memang memiliki banyak gunung api aktif, karena berada pada zona subduksi dan pertemuan lempeng yang sangat aktif. Aktivitas masing-masing gunung pada dasarnya dikontrol oleh sistem magmatik lokal, sehingga harus dianalisis berdasarkan parameter masing-masing gunung," kata dia.
Daryono menyebut potensi bahaya erupsi ada pada setiap gunung berapi. Oleh karena itu, diperlukan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung berapi aktif.
"Potensi bahayanya juga berbeda, erupsi dapat menghasilkan awan panas, lava, lontaran batu pijar, hujan abu, gas vulkanik, dan lahar. Pada gunung yang berada dekat laut, seperti Anak Krakatau, perlu pula diperhatikan potensi gangguan laut atau tsunami akibat proses vulkanik, meski mekanismenya berbeda dengan tsunami akibat gempa megathrust," ujar dia.