Klaim Unggul Lawan Iran, Trump Usul Hormuz Ganti Nama Jadi Selat Trump

- Donald Trump mengklaim AS unggul dalam perang melawan Iran dan mengendalikan Selat Hormuz, lalu mengusulkan jalur strategis itu diganti menjadi Selat Trump.
- Trump menjanjikan dividen tunai 5.000 dolar AS bagi tiap warga dewasa jika Partai Republik mempertahankan mayoritas Kongres, tanpa menjelaskan sumber anggarannya.
- Konflik tetap meningkat: serangan Iran dilaporkan merusak pesawat AS di Yordania, setelah AS menyatakan menyerang lima tanker minyak Iran.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan bahwa negaranya sedang memenangkan perang melawan Iran dan mengklaim telah mengendalikan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Pernyataan tersebut dia sampaikan dalam konvensi paruh waktu pertama Partai Republik di Dallas, Texas, pada Rabu (9/9/2026).
Di hadapan para pendukungnya, Trump melontarkan usulan untuk mengubah nama perairan penghubung Teluk Persia dan Teluk Oman tersebut. Dia menegaskan bahwa AS akan mengganti nama jalur perdagangan minyak vital itu menjadi Selat Trump.
1. Usulan pergantian nama dan klaim penurunan harga minyak

kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons) Trump secara terbuka mengumumkan keinginannya untuk mengganti nama Selat Hormuz di hadapan para peserta konvensi. "Kami mengendalikan perdagangan Hormuz. Saya pikir kita harus menyebut Selat Hormuz, kita harus menyebutnya Selat Trump. Saya seharusnya mendapatkan sesuatu dari ini. Selat Trump," kata Trump seperti dilaporkan TRT World. Dia bahkan berkelakar bahwa para pemimpin Iran akan merasa senang dengan penamaan baru tersebut.
Trump membela keterlibatan militer AS di kawasan itu dan mengaitkan kemenangannya dengan penurunan harga energi. Dia mengeklaim kebijakan pemerintahannya telah menurunkan harga makanan serta barang lainnya secara pesat, sementara harga minyak akan menyusul jatuh. "Harga minyak akan turun segera setelah kami memenangkan perang dengan Iran, yang sedang berlangsung saat ini," ujar Trump.
Selain itu, Trump menggambarkan Iran sebagai "perundung di Timur Tengah" selama 51 tahun terakhir, namun mengeklaim negara tersebut kini bukan lagi sosok perundung.
2. Janji dividen tunai dan seruan menangkal komunisme

ilustrasi mata uang dolar AS (pexels.com/John Guccione www.advergroup.com) Di samping isu konflik bersenjata, Trump menjanjikan pembagian uang tunai sebesar 5.000 dolar AS atau setara Rp87,61 juta kepada setiap warga dewasa AS jika Partai Republik berhasil mempertahankan kursi mayoritas di Kongres. Trump menjuluki pembagian dana tersebut sebagai dividen Trump. Kendati demikian, dia tidak memaparkan asal muasal anggaran program yang diperkirakan memakan biaya lebih dari 1 triliun dolar AS atau setara Rp17.523 triliun tersebut selain menyebut kas negara sedang menghasilkan banyak uang.
Trump meminta para pendukungnya untuk menganggap namanya berada di surat suara demi membantu Partai Republik melawan hasil jajak pendapat dan mempertahankan kendali di Kongres pada pemilihan umum 3 November mendatang. Dia juga mengangkat ancaman komunisme dengan menyebut AS akan menjadi "negara komunis" jika lawan politiknya memenangkan pemilihan umum. Trump menegaskan bahwa pilihan warga akan menentukan apakah langkah AS ke depan bakal tersandung atau melaju pesat.
3. Eskalasi serangan pangkalan udara dan kapal tanker

ilustrasi konflik AS-Israel dengan Iran (unsplash.com/Saifee Art) Klaim penguasaan wilayah yang digaungkan Trump berbanding terbalik dengan eskalasi pertempuran yang masih membara di lapangan. Dilansir CBS News, serangan rudal balasan Iran dilaporkan merusak sejumlah pesawat militer AS di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, pada Rabu (9/9/2026) dini hari. Sekitar delapan jet tempur F-15 mengalami kerusakan ringan sebelum kembali ditugaskan, sedangkan satu pesawat serang A-10 Thunderbolt yang dikenal sebagai Warthog dilaporkan kehilangan sayap setelah terhantam proyektil.
Pasukan AS di Yordania dilaporkan menembakkan lebih dari 30 rudal Patriot demi mencegat gempuran senjata dari Iran tersebut. Rentetan serangan dari Teheran itu merupakan respons balasan menyusul pernyataan militer AS pada Selasa (8/9/2026) bahwa pasukannya telah menyasar lima kapal tanker minyak Iran, setelah Teheran dilaporkan sempat berupaya menyerang kapal Angkatan Laut AS. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim bahwa mereka telah menghantam delapan kapal tanker, dua kapal perang, dan pangkalan militer AS di Yordania.





















