Peringatan 25 Tahun 9/11 di New York Tanpa Kehadiran Donald Trump

- New York memperingati 25 tahun serangan 9/11 di Ground Zero dengan pembacaan 2.977 nama korban dan dentang lonceng; Donald Trump memilih memberi penghormatan di Pentagon.
- Wakil Presiden JD Vance serta George W. Bush, Joe Biden, Barack Obama, dan Bill Clinton dijadwalkan hadir. Kehadiran Wali Kota Muslim Zohran Mamdani memicu penolakan kelompok sayap kanan.
- Mamdani merilis dokumen tentang toksisitas udara pascaserangan; lebih dari 9.400 orang meninggal akibat penyakit terkait 9/11. Pengamanan diperketat dengan barikade baja dan tim anti-drone.
Jakarta, IDN Times - Kota New York memperingati 25 tahun serangan teror 11 September 2001 di kawasan Ground Zero, Manhattan, pada Jumat (11/9/2026) waktu setempat. Peringatan peristiwa tragis yang merenggut ribuan nyawa ini diwarnai dengan ketidakhadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump di lokasi acara.
Trump memilih untuk memberikan penghormatan di Pentagon, alih-alih hadir di New York tempat pesawat yang dibajak menghancurkan World Trade Center. Sementara itu, upacara di Manhattan berlangsung tanpa adanya pidato resmi dan berfokus pada pembacaan nama-nama korban oleh keluarga yang berduka.
1. Kehadiran para mantan presiden dan pembacaan nama korban

Wakil Presiden AS JD Vance (The White House, Public Domain, via Wikimedia Commons) Meskipun Trump absen, Wakil Presiden JD Vance bersama empat mantan presiden AS yang masih hidup dijadwalkan hadir di Ground Zero. Tokoh yang hadir meliputi George W. Bush yang menjabat saat serangan terjadi, serta Joe Biden, Barack Obama, dan Bill Clinton.
Prosesi peringatan ditandai dengan dentang lonceng untuk mengenang momen-momen krusial saat serangan mematikan itu berlangsung. Para anggota keluarga yang berduka membacakan seluruh nama korban tewas yang berjumlah 2.977 orang.
Robert Kafka, seorang warga Chicago berusia 60-an tahun yang mengunjungi 9/11 Memorial, menekankan pentingnya merawat ingatan publik atas peristiwa tersebut. "Peringatan seperti ini dan diskusi mengenai peristiwa-peristiwa tersebut merupakan bagian penting untuk tetap menjaganya tetap hidup dan memahami bagaimana kita mencegah tragedi seperti ini terjadi lagi," ungkap dia seperti dilaporkan The Standard.
2. Kontroversi kehadiran wali kota Muslim pertama New York

Wali Kota New York Zohran Mamdani (Bingjiefu He, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Upacara peringatan tahun ini juga diiringi kemarahan kelompok sayap kanan terkait kehadiran Wali Kota New York Zohran Mamdani. Tokoh Partai Demokrat tersebut merupakan wali kota Muslim pertama yang memimpin kota berjuluk Big Apple itu.
Penolakan terhadap kehadiran Mamdani dimotori oleh mantan wali kota Rudy Giuliani dan media sayap kanan New York Post. Sebuah petisi bahkan telah mengumpulkan lebih dari 100 ribu tanda tangan dengan tuduhan bahwa Mamdani terhubung dengan pihak-pihak yang tidak menghargai institusi Amerika serta kurang kritis terhadap ideologi ekstremis.
Anggota dewan kota Shahana Hanif menyayangkan perlakuan berbeda yang ditujukan kepada sang wali kota. "Sangat memprihatinkan bagi saya bahwa wali kota diperlakukan berbeda hanya karena dia seorang Muslim," tutur Hanif kepada CNN.
3. Dampak debu beracun dan pengungkapan dokumen tingkat toksisitas udara

World Trade Center (Grandmaster E, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons) Terlepas dari tekanan politik tersebut, Mamdani menuai pujian setelah merilis ribuan dokumen mengenai apa yang diketahui pejabat kota terkait tingkat racun di udara Lower Manhattan setelah serangan. Runtuhnya menara kembar World Trade Center memicu awan debu dan polusi berbulan-bulan yang memicu kanker bagi ribuan penduduk hingga kini.
Mamdani melontarkan kritik keras terhadap sikap para pejabat masa lalu yang dinilai tidak transparan kepada publik. "Masyarakat jatuh sakit karena para pemimpin yang mereka percayai berbohong dan memberi tahu bahwa mereka aman menghirup udara beracun," kata Mamdani pada Selasa.
Menurut data program federal yang menangani perawatan medis korban, lebih dari 9.400 orang telah meninggal dunia akibat penyakit yang berkaitan dengan tragedi 11 September. Korban sakit berkepanjangan ini melengkapi duka dari 2.977 korban yang tewas dalam serangan empat pesawat yang dibajak oleh teroris Al-Qaeda pada 2001.
4. Pengamanan ketat dan memori antargenerasi

ilustrasi polisi (pexels.com/Kindel Media) Guna mengamankan kerumunan besar di Lower Manhattan, Secret Service memasang barikade pengamanan baja di sekitar 9/11 Memorial and Museum. Komisaris Polisi Jessica Tisch menyatakan tim anti-drone dikerahkan sebagai antisipasi, meski tidak ada laporan intelijen mengenai ancaman khusus terhadap acara.
Peringatan seperempat abad ini juga menyoroti sekitar 100 juta warga Amerika Serikat yang belum lahir atau terlalu muda untuk mengingat tragedi itu. Logan Miller, warga berusia 32 tahun yang kehilangan paman dan kakeknya akibat dampak serangan, menilai generasi baru memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
"Saya pikir generasi berikutnya tidak dapat membayangkan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana seseorang dapat terkena dampaknya, sehingga saya justru mendapati mereka mengajukan lebih banyak pertanyaan," ujar Miller kepada AFP. Menjelang upacara, pertunjukan drona dengan formasi 2.977 cahaya sempat menghiasi langit Pelabuhan New York untuk mengenang setiap korban tewas.






















