Auriga: Deforestasi Hutan 2025 Naik 66 Persen, Terjadi di Semua Pulau

- Laporan Auriga Nusantara 2025 mencatat deforestasi nasional naik 66 persen menjadi 433.751 hektare, dengan Kalimantan tetap tertinggi dan Papua serta Jawa alami lonjakan signifikan.
- Deforestasi terjadi di 74 persen wilayah Indonesia, mayoritas di kawasan hutan; sepuluh kabupaten utama menyumbang hampir seperlima total kehilangan hutan nasional.
- Kebijakan program ketahanan pangan pemerintah disebut memicu deforestasi tambahan, dengan sekitar 18 persen kehilangan hutan terjadi di area yang dialokasikan untuk proyek tersebut.
Jakarta, IDN Times - Laju kehilangan hutan melonjak tajam pada 2025 menurut data terbaru yang dirilis Auriga Nusantara melalui Indonesia Deforestation Status 2025 (STADI 2025). Data mereka mencatat, deforestasi mencapai 433.751 hektare, naik 66 persen dibandingkan 261.575 hektare pada 2024.
Secara wilayah, Kalimantan kembali menjadi kontributor deforestasi terbesar, melanjutkan tren sejak 2013. Namun lonjakan juga terjadi di seluruh pulau besar Indonesia. Papua mencatat kenaikan terbesar secara absolut dengan tambahan 60.337 hektare, sementara Jawa mengalami lonjakan persentase tertinggi hingga 440 persen dibanding tahun sebelumnya.
"Kalimantan sekali lagi mencatat tingkat deforestasi terbesar, menjadikannya wilayah dengan tingkat deforestasi tertinggi selama beberapa tahun berturut-turut sejak 2013. Pada tahun 2025, semua pulau besar di Indonesia mengalami perluasan deforestasi dengan Papua mengalami peningkatan terbesar sebesar 60.337 hektare dibandingkan tahun 2024. Peningkatan persentase terbesar terjadi di Jawa, di mana deforestasi meningkat sebesar 440 persen dibandingkan tahun 2024," tulis Auriga Nusantara, dikutip Rabu (1/4/2026).
1. Deforestasi meluas ke hampir seluruh provinsi, Papua masuk daftar teratas

Temuan Auriga Nusantara juga mengungkapkan hampir seluruh provinsi di Indonesia mengalami deforestasi, kecuali DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Peringkat provinsi dengan deforestasi tertinggi juga mengalami perubahan.
Jika pada 2024 didominasi Kalimantan dan Sumatra, maka pada 2025 muncul wilayah Papua dalam daftar atas. Tiga provinsi di Sumatra yang mengalami bencana longsor dan banjir besar pada akhir 2025 justru mencatat lonjakan deforestasi signifikan, yakni Aceh (426 persen), Sumatra Utara (281 persen), dan Sumatra Barat (1.034 persen).
2. Terjadi di 74 persen wilayah, mayoritas di kawasan hutan

Dari sisi administrasi, deforestasi terjadi di 383 kabupaten/kota atau sekitar 74 persen wilayah Indonesia. Sebanyak 10 kabupaten teratas menyumbang 22 persen dari total deforestasi nasional yang didominasi wilayah Kalimantan dan Papua.
Sementara itu, 71 persen deforestasi terjadi di dalam kawasan hutan yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Kehutanan, sisanya di area penggunaan lain.
"Deforestasi bulanan di Indonesia pada tahun 2025 mencapai rata-rata 36.146 hektare dengan periode puncak deforestasi terjadi antara April dan Oktober dan tingkat tertinggi tercatat pada bulan Mei," tulis Auriga Nusantara.
3. Pogram ketahanan pangan disebut dorong lonjakan deforestasi

Salah satu faktor yang disorot adalah kebijakan pemerintah terkait program ketahanan pangan yang mengalokasikan 20,6 juta hektare kawasan hutan. Tercatat 78.123 hektare atau 18 persen deforestasi nasional terjadi di area tersebut. Program populis, termasuk proyek berlabel Proyek Strategis Nasional, disebut berkontribusi terhadap peningkatan deforestasi.
"Pada akhir Desember 2024, dua bulan setelah pelantikan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Pemerintah Indonesia meluncurkan program ketahanan pangan dengan mengalokasikan 20,6 juta hektar lahan hutan untuk cadangan pangan, energi, dan air," tulis Auriga.
Auriga Nusantara sendiri sejak 2023 rutin mempublikasikan data deforestasi. Mereka menilai demokratisasi data penting untuk mencegah monopoli informasi yang berpotensi menjauhkan kebijakan publik dari realitas di lapangan.
Dalam penyusunannya, data 2025 dihasilkan melalui kombinasi pemodelan spasial menggunakan citra satelit Sentinel-2 resolusi 10 meter, inspeksi visual, hingga verifikasi lapangan. Auriga bahkan melakukan kunjungan langsung ke area seluas 49.321 hektare yang tersebar di 38 desa dan 28 kabupaten di 16 provinsi.



















