BMKG Prediksi Musim Kemarau Tiba Lebih Awal, Memuncak di Agustus 2026

- BMKG memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih cepat, dimulai April dan mencapai puncak pada Agustus, dipicu peralihan dari La Nina lemah menuju kondisi netral.
- Sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami kemarau lebih kering dari biasanya, dengan 64,5 persen zona musim diproyeksikan bersifat bawah normal.
- BMKG mengimbau petani dan pemerintah daerah melakukan mitigasi dini seperti penyesuaian jadwal tanam serta penguatan infrastruktur air untuk menghadapi risiko kekeringan.
Jakarta, IDN Times - Usai memasuki musim hujan yang cukup intens, Indonesia diprediksi memasuki musim kemarau lebih cepat dari biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi mayoritas wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau pada April 2026. Puncak kondisi kering diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan kondisi itu dipicu berakhirnya fenomena La Nina yang lemah pada Februari 2026 yang telah bergeser menuju ke fase netral. Berdasarkan pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik, nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 yang menunjukkan kondisi netral dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026.
Namun demikian, mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Nino kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60 persen mulai semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian.
"Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun," ujar Faisal di dalam keterangannya yang dikutip pada Sabtu (7/3/2026).
1. Sebagian area di Indonesia mulai masuk kemarau pada April 2026

Lebih lanjut, pada April 2026 sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3 persen wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian kecil wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci bahwa 184 ZOM atau 26,3 persen wilayah akan menyusul memasuki musim kemarau pada Mei 2026, sementara 163 ZOM atau 23,3 persen wilayah lainnya diperkirakan mulai mengalami musim kemarau pada Juni 2026.
Ardhasena menegaskan awal musim kemarau di 325 ZOM atau 46,5 persen wilayah diprediksi maju atau terjadi lebih cepat dari biasanya, sementara 173 ZOM atau 24,7 persen diperkirakan sama dengan kondisi normal, dan 72 ZOM atau 10,3 persen diprediksi mundur. Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.
2. Musim kemarau diprediksi lebih kering

Berdasarkan analisis BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Pada periode ini, sebanyak 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak musim kemarau.
Selain itu, sebagian wilayah diprediksi mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli, yaitu sekitar 12,6 persen wilayah.
Wilayah tersebut meliputi sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua. Memasuki September, puncak musim kemarau diperkirakan masih terjadi di sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, dan sebagian besar Nusa Tenggara Timur.
Selain itu, kondisi puncak kemarau juga diprediksi terjadi di wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian kecil Pulau Papua. BMKG memproyeksikan sifat musim kemarau 2026 secara umum akan bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM atau sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia. Sementara itu, 245 ZOM atau sekitar 35,1 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau dengan sifat normal.
3. BMKG minta para petani untuk ambil langkah mitigasi musim kemarau yang lebih kering

Lantaran musim kemarau tahun ini diprediksi akan lebih kering, maka BMKG mengingatkan pentingnya langkah antisipasi menghadapi berbagai risiko yang mungkin muncul. Di sektor pangan, para petani diminta menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat.
Selain itu, penguatan sektor sumber daya air juga perlu dilakukan melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional pembangkit listrik tenaga air.
BMKG juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi penurunan kualitas udara serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
"BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia," ujar Faisal.


















