Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bakom Beberkan Misi di Balik Kunjungan Prabowo ke Rusia
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari. (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • Bakom menyatakan kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia berlandaskan politik luar negeri bebas aktif untuk memperjuangkan kepentingan nasional di tengah dinamika global.
  • Di Vladivostok, Prabowo menjadi tamu kehormatan dan berpidato di Eastern Economic Forum ke-11, dengan agenda membuka peluang kerja sama ekonomi strategis bersama Rusia.
  • Pemerintah mendorong investasi dan peningkatan perdagangan Indonesia-Rusia, termasuk melalui kerja sama Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia, guna memperkuat industri, lapangan kerja, dan ekonomi nasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari,mengungkapkan misi di balik kunjungan Presiden Prabowo Subianto pada awal September 2026. Menurutnya, pemerintah menempatkan politik luar negeri sebagai salah satu cara untuk memperjuangkan kepentingan nasional di tengah perubahan situasi global.

Diplomasi Indonesia tidak hanya berfokus pada posisi negara dalam hubungan internasional, tetapi juga diarahkan agar memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi pijakan Indonesia. Setiap hubungan dan kerja sama dengan negara lain diupayakan mampu menghasilkan manfaat bagi kepentingan nasional.

“Berdasarkan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, dalam menjalankan politik luar negeri, Indonesia menganut prinsip bebas aktif yang diabdikan untuk kepentingan nasional,” ujar Qodari dalam keterangannya, dikutip Selasa (7/9/2026).

1. Dalam setiap kerja sama, harus ada kepentingan Indonesia

Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, Muhammad Qodari (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Qodari menilai, penerapan prinsip bebas aktif menuntut Indonesia untuk mengambil posisi dan berperan dalam berbagai dinamika internasional ketika kepentingan nasional ikut dipertaruhkan. Indonesia tidak cukup hanya mencermati perkembangan global tanpa mengambil langkah diplomatik.

Kerja sama dengan negara lain pun diarahkan melalui hubungan yang dilandasi kepercayaan dan kepentingan bersama. Pemerintah berupaya memastikan setiap bentuk kolaborasi tetap memberikan ruang bagi Indonesia untuk memperjuangkan kepentingan nasional.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Indonesia harus hadir, berbicara, dan memperjuangkan kepentingan nasional secara aktif,” kata dia.

2. Kehadiran Prabowo di Rusia peluang cari kerja sama ekonomi

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari saat ditemui usai acara di Graha Marinir Panti Perwira, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Menurut Qodari, prinsip tersebut turut tercermin dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Vladivostok, Rusia. Dalam lawatan itu, Prabowo mendapat posisi sebagai tamu kehormatan sekaligus menyampaikan pidato dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin.

Qodari menyebut, Rusia memiliki posisi penting dalam peta geopolitik dunia. Negara tersebut juga memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang membuat hubungan bilateral dengan Indonesia memiliki nilai strategis.

Atas dasar itu, agenda kunjungan presiden ke berbagai negara tidak dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial diplomatik. Pertemuan bilateral maupun kehadiran dalam forum internasional diarahkan untuk membuka peluang kerja sama yang dapat mendukung perekonomian Indonesia.

“Bagi Presiden Prabowo, setiap agenda kunjungan luar negeri selalu diarahkan sebagai bagian dari upaya mencari solusi, membuka peluang ekonomi, dan membawa manfaat nyata kembali ke Indonesia,” ucap Qodari.

3. Ingin ada potensi kerja sama investasi

Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, M. Qodari (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Diplomasi ekonomi menjadi salah satu fokus dalam pendekatan tersebut. Pemerintah berharap berbagai peluang yang muncul dari hubungan internasional dapat berkembang menjadi investasi, membuka lapangan pekerjaan, memperkuat sektor industri nasional, serta meningkatkan daya tahan perekonomian.

“Semakin besar peluang ekonomi yang dibuka melalui diplomasi, semakin besar pula potensi terciptanya investasi, lapangan kerja, penguatan industri nasional, serta ketahanan ekonomi Indonesia,” ujar Qodari.

Dalam EEF di Rusia, Prabowo juga memanfaatkan forum tersebut untuk mengundang pelaku usaha internasional berinvestasi di Indonesia. Pemerintah mendorong investasi yang tidak hanya mendatangkan modal, tetapi juga menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Ajakan tersebut menjadi bagian dari strategi diplomasi ekonomi pemerintah untuk memperkenalkan berbagai potensi Indonesia di hadapan dunia usaha global. Forum internasional dimanfaatkan sebagai sarana memperluas jaringan kerja sama sekaligus mencari peluang investasi.

Selain investasi, Prabowo mendorong Rusia meningkatkan hubungan perdagangan dengan Indonesia. Upaya tersebut dikaitkan dengan peluang peningkatan perdagangan bilateral setelah kerja sama perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia mulai berlaku.

Pemerintah memandang kerja sama perdagangan sebagai kesempatan untuk memperluas akses pasar bagi produk Indonesia. Peningkatan aktivitas perdagangan juga diharapkan dapat memberikan efek positif terhadap kegiatan ekonomi di dalam negeri.

“Langkah tersebut merupakan bagian dari diplomasi Indonesia untuk membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di dalam negeri,” ujar Qodari.

Curated For You

Editorial Team

Related Article