Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Di EEF, Prabowo Buka Peluang Kerja Sama Nuklir RI-Rusia

Di EEF, Prabowo Buka Peluang Kerja Sama Nuklir RI-Rusia
Presiden Prabowo Subianto ketika menyampaikan pidato kunci di Forum Ekonomi Timur ke-11 di Vladivostok pada 2026. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)
  • Prabowo Subianto membuka peluang kerja sama energi nuklir damai Indonesia dan Rusia di EEF ke-11.
  • Indonesia menyatakan terbuka pada energi terbarukan, smart grid, serta teknologi nuklir modular dan skala penuh.
  • Peluang kerja sama itu ditekankan harus memenuhi standar keselamatan tertinggi dan safeguards internasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah kerja sama nuklir damai RI-Rusia perlu dijajaki?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto membuka peluang kerja sama Indonesia dan Rusia di bidang energi nuklir untuk tujuan damai. Kerja sama tersebut menjadi salah satu bidang yang disebut Prabowo dalam pidatonya pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).

Prabowo mengatakan Indonesia tengah berupaya memperkuat ketahanan dan kemandirian energi di tengah perubahan lanskap ekonomi serta geopolitik global. Menurut dia, kerja sama energi dengan Rusia dapat menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut.

Dalam pidatonya di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin dan para peserta forum, Prabowo menyebut Indonesia terbuka terhadap kerja sama di sektor energi terbarukan hingga teknologi nuklir.

  1. 1. Indonesia terbuka untuk energi nuklir damai

    Prabowo, Vladimur Putin, Rusia
    Presiden Prabowo Subianto ketika menyampaikan pidato kunci di Forum Ekonomi Timur ke-11 di Vladivostok pada 2026. (Dokumentasi Biro Pers Istana)

    Prabowo mengatakan kerja sama Indonesia-Rusia tidak hanya dapat dikembangkan dalam perdagangan barang, tetapi juga pada sektor strategis seperti energi. Salah satu bidang yang disebut secara khusus adalah pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai.

    “Indonesia juga terbuka untuk kerja sama di bidang energi terbarukan, smart grid, dan energi nuklir damai,” kata Prabowo dalam pidatonya.

    Menurut Prabowo, pembahasan mengenai nuklir tersebut mencakup kemungkinan kerja sama teknologi dengan Rusia. Indonesia, kata dia, melihat teknologi nuklir sebagai salah satu bidang yang dapat dikembangkan bersama selama pemanfaatannya diarahkan untuk kepentingan sipil dan berada dalam kerangka keselamatan yang ketat.

  2. 2. Bahas teknologi modular hingga skala penuh

    Prabowo, Putin, Vladivostok
    Presiden Prabowo Subianto (kiri) ketika berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) sebelum mengikuti jamuan makan siang di Vladivostok pada September 2026. (Dokumentasi Biro Pers Istana)

    Dalam pidatonya, Prabowo menyebut Indonesia tertarik menjajaki teknologi nuklir dalam berbagai skala. Pembahasan itu mencakup teknologi modular maupun teknologi nuklir berskala penuh.

    Teknologi modular menjadi salah satu opsi yang berkembang dalam pembahasan energi nuklir karena dapat menawarkan pendekatan pembangunan pembangkit yang berbeda dari reaktor konvensional berskala besar. Namun, Prabowo tidak menyebut bahwa Indonesia telah memutuskan untuk membeli atau membangun reaktor tertentu dari Rusia.

    Ia menekankan, kerja sama teknologi tersebut harus memenuhi standar keselamatan tertinggi serta tetap berada dalam mekanisme pengamanan internasional.

    “Kami terbuka untuk teknologi modular dan full-scale dengan standar keselamatan tertinggi dan safeguards internasional,” ujar Prabowo.

    Dengan demikian, pembicaraan nuklir RI-Rusia yang disampaikan Prabowo masih berada dalam kerangka peluang kerja sama. Fokus yang ditekankan adalah pemanfaatan teknologi untuk tujuan damai dengan mempertimbangkan aspek keamanan, keselamatan, serta ketentuan internasional.

  3. 3. Energi jadi bagian hubungan strategis RI-Rusia

    Prabowo, Vladimir Putin, Rusia, Vladivostok
    Presiden Prabowo Subianto ketika menyampaikan pidato kunci di Forum Ekonomi Timur ke-11 di Vladivostok pada 2026. (Dokumentasi Biro Pers Istana)

    Pembukaan peluang kerja sama nuklir tersebut sejalan dengan upaya Indonesia memperluas hubungan ekonomi dengan Rusia. Prabowo dalam pidatonya menilai hubungan kedua negara memiliki ruang yang besar untuk dikembangkan, bukan hanya melalui perdagangan, tetapi juga investasi dan kerja sama teknologi.

    Bagi Indonesia, diversifikasi sumber dan teknologi energi menjadi semakin penting ketika rantai pasok global menghadapi ketidakpastian. Prabowo sebelumnya juga menyinggung perubahan lanskap perdagangan dunia dan kebutuhan negara-negara untuk membangun hubungan ekonomi yang lebih beragam.

    Kerja sama energi nuklir, jika nantinya ditindaklanjuti, akan menjadi bidang yang berbeda karakter dibandingkan perdagangan komoditas. Sektor ini membutuhkan pembahasan panjang mengenai teknologi, regulasi, pembiayaan, keselamatan, sumber daya manusia, hingga pengawasan internasional.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More