Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BGN Bakal Bangun 13 Ribu Dapur, Wilayah Tinggi Stunting Jadi Prioritas
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono ketika memberikan keterangan di kantor BGN. (IDN Times/Santi Dewi)
  • BGN menegaskan 13 ribu SPPG tidak dibangun sekaligus; sekitar 1.700 titik berada di wilayah stunting tinggi dan 3T, dengan aktivasi bertahap mulai sekitar 300 dapur pekan depan.
  • BGN meminta masyarakat melaporkan pihak yang mengaku dekat dengan pejabat atau menjual titik dapur. Penyisiran lokasi terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan dan kesiapan operasional.
  • Keracunan MBG di Kabupaten Jayapura menimpa 527 orang. Investigasi awal menyoroti makanan dimasak terlalu dini, dugaan tempe bacem rusak, serta paket yang dikonsumsi terlambat; dapur terkait akan disuspend dan dievaluasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Gizi Nasional (BGN) mengklarifikasi narasi yang beredar di media bakal membangun 13 ribu dapur atau Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) baru. Padahal, sebelumnya sudah menutup 800 dapur.

Kepala BGN, Sudaryono menepis narasi pemborosan anggaran. Sebab, belasan ribu dapur baru itu tidak dibangun secara simultan dan sekaligus. Selain itu, dapur MBG bakal diprioritaskan di wilayah yang masih banyak terdapat anak-anak stunting.

"Saya mau jelaskan 13 ribu (dapur baru) itu adalah dapur yang either baru titik, tapi ada juga yang sudah selesai (dibangun). 13 ribu (dapur) akan kami sisir, terdapat 1.700 dapur yang inline dibangun di wilayah yang tinggi stunting," ungkap Sudaryono seperti dikutip dari akun media sosialnya pada Minggu (9/8/2026).

"Jadi, bukan berarti besok 13 ribu (dapur) aktif semua. Tapi, kami prioritaskan pada titik-titik yang sangat dibutuhkan karena stuntingnya tinggi dan berlokasi di 3T," katanya.

Mantan Wakil Pertanian itu menyadari bila ada oknum tertentu yang bakal mendekati dan mengaku dekat dengannya untuk bisa menipu calon mitra. Sudaryono pun mendorong bila ditemukan ada pihak-pihak yang menjual titik segera dilaporkan ke polisi.

"Jadi, kalau ada orang yang ngaku-ngaku, saya dukung untuk dilaporkan. Saya sampaikan kepada masyarakat jangan percaya, kalau ada minta KTP-nya dan foto, lalu laporkan ke polisi," imbuhnya.

1. 1.700 dapur baru siap dioperasikan

Ilustrasi SPPG yang menyajikan Makan Bergizi Gratis (MBG). (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Sementara, menurut hasil pemetaan sementara menunjukkan sekitar 1.700 dapur telah selesai dibangun dan siap beroperasi. BGN akan mengaktifkannya secara bertahap mulai pekan depan.

"Dari data overlay tadi ada sekitar 1.700 dapur yang sudah siap, jadi tinggal operasional yang berada di daerah dengan stunting tinggi dan tinggi sekali. Nanti, insyaallah minggu depan kami ada sekitar 300-an kami aktivasi, minggu depannya lagi," ujar Sudaryono.

Ia menambahkan, penyisiran terhadap seluruh titik dapur masih terus dilakukan untuk memastikan lokasi yang benar-benar dibutuhkan dan siap dioperasikan.

2. Keracunan MBG masih terjadi, terbaru di Papua

Bupati Jayapura, Yunus Wonda, ketika menengok warga yang jadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua. (Dokumentasi Istimewa)

Di sisi lain Sudaryono mengakui hingga saat ini belum bisa menyetop terjadinya keracunan menu MBG. Terbaru, keracunan MBG terjadi di Kabupaten Jayapura, Papua. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua, total korban yang mengalami keracunan mencapai 527 orang. Korban didominasi anak-anak dan orang tua. Gejala yang dialami meliputi sakit perut, mual, muntah, diare, demam, hingga badan lemas.

Politisi Partai Gerindra itu mengakui peristiwa keracunan penerima MBG yang masih terjadi tak sejalan dengan tekadnya yang ingin menihilkan tragedi keracunan. Insiden di Papua, kata Sudaryono, tengah ditelusuri oleh Wakil Kepala BGN, Mayjen TNI (Purn) Trenggono.

"Saat ini Wakil Kepala BGN, Bapak (Purn) Mayjen Trenggono sedang berada di Jayapura. Beliau ke sana didampingi Ibu Wakil Menteri Dalam Negeri (Ribka Haluk)," ungkap Sudaryono ketika memberikan keterangan di kantor BGN, Jumat, 7 Agustus 2026.

Kedatangan Trenggono dan Ribka Haluk ke Bumi Cendrawasih untuk menengok dan memastikan kondisi korban yang dirawat akibat keracunan MBG. Sudaryono menggarisbawahi akan ada sanksi yang tegas bagi SPPG yang menyebabkan tragedi keracunan berulang.

"Pasti dapurnya kami suspend, kemudian kami kirim tim untuk investigasi. Lalu, kami cek apa masalahnya. Sampel (makanan) akan dicek oleh dinas kesehatan. Kepala dapurnya pun kami copot untuk kami evaluasi," tutur dia.

3. Masak terlalu dini dan tempe bacem rusak jadi penyebab keracunan

Ilustrasi peta Papua. (IDN Times/Sukma Shakti)

Berdasarkan penelusuran log operasional dapur, menunjukkan adanya proses pengolahan makanan yang menyalahi jadwal. Makanan dimasak terlalu cepat dari jam penyajian sehingga kondisi hidangan mengalami penurunan kualitas sebelum disantap.

"Kalau di Papua, kami lihat dari log dapurnya, kan kami ada sistem log-nya, kapan persiapan, kapan masak. Jadi memang memulai masaknya kecepatan, kalau gak salah jam 07.00 atau 07.30 malam di hari sebelumnya untuk dikirimkan di hari berikutnya di jam 11.00," ungkap Sudaryono.

Penelusuran awal BGN mengarah pada dugaan penurunan kualitas menu tempe bacem. Makanan yang diolah belasan jam sebelum dibagikan membuat masakan dalam kondisi rusak saat sampai ke tangan siswa.

Selain pengolahan yang terlalu dini dari pihak dapur, BGN memvalidasi temuan bahwa sejumlah siswa membawa pulang paket MBG dan baru mengonsumsinya pada sore hari.

"Kami validasi lagi adalah ada anak yang membawa pulang MBG-nya. Nah jadi dia harusnya kan disantap misalnya jam 11 itu harus dimakan, dia dibawa pulang dimakan jam 3 jam 4 (sore), jadi sudah rusak," tutur dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article