Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BMKG Ungkap Dampak Negatif Hilangnya Es Abadi Jayawijaya Akhir 2026
Ilustrasi Puncak Gunung Jayawijaya, Papua (IDN Times/Mardya Shakti)
  • BMKG memproyeksikan es abadi Puncak Jaya habis pada akhir 2026 atau awal 2027, dipicu pemanasan global dan berpotensi dipercepat El Niño pertengahan 2026.
  • Tutupan es menyusut dari sekitar 19,3 km² pada 1850 menjadi 0,09 km² pada September 2025; pencairan mengganggu pasokan air, pertanian, ekosistem, dan habitat.
  • Hilangnya es mengancam identitas spiritual masyarakat adat Amungme dan Moni, menurunkan pariwisata, serta berkontribusi pada kenaikan muka laut; tidak ada manfaat ekologis yang dilaporkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
tahun 1850

Luas tutupan es di Puncak Jaya diperkirakan sekitar 19,3 km².

Februari 1991

Luas tutupan es menyusut menjadi 4,23 km².

awal tahun 2010

Pengeboran mencatat ketebalan es abadi mencapai 31,49 meter.

November 2015

Ketebalan es menyusut menjadi 26,23 meter.

Februari 2021

Ketebalan es kembali turun menjadi 8,03 meter.

April 2022

Luas tutupan es tinggal 0,23 km².

November Desember 2023

Ketebalan es menyusut menjadi 4,085 meter.

November 2024

Ketebalan es di East Northwall Firn mencapai nol meter. Tiang pemantau tersingkap penuh dan es di lokasi tersebut mencair seluruhnya.

September 2025

Luas es yang tersisa hanya 0,09 km² atau sekitar 9 hektare.

pertengahan tahun 2026

Kondisi El Niño berpotensi mempercepat kepunahan es abadi Jayawijaya.

akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027

BMKG memproyeksikan es abadi di Puncak Jaya hilang sepenuhnya. Kehilangannya berpotensi mengganggu air lokal, ekosistem, budaya adat, dan pariwisata.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BMKG memprediksi es abadi di Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya, akan hilang sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027.
  • Who?
    BMKG menyampaikan proyeksi tersebut melalui Pengamat Meteorologi dan Geofisika Madya Donaldi Sukma Permana; komunitas Amungme dan Moni di Desa Tsinga terdampak secara budaya.
  • Where?
    Es yang menyusut berada di Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya, Papua, termasuk lokasi East Northwall Firn.
  • When?
    Proyeksi kepunahan total berlaku pada akhir 2026 atau awal 2027. Luas es yang tersisa tercatat sekitar 0,09 km² pada September 2025.
  • Why?
    Pemanasan global meningkatkan suhu udara dan batas membeku, sementara El Niño pada pertengahan 2026 dapat mempercepat pencairan. Gletser lebih sering terkena hujan dibanding akumulasi salju baru.
  • How?
    Analisis citra Landsat dan Sentinel-2 mencatat penyusutan rata-rata 0,07 km² per tahun. Pencairan berpotensi mengganggu pasokan air, pertanian, ekosistem, budaya adat, dan pariwisata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Es abadi di Puncak Jaya, Papua, makin mencair karena bumi makin panas dan El Nino. BMKG bilang esnya mungkin habis akhir 2026 atau awal 2027. Sekarang es tinggal sedikit sekali. Suku Amungme dan Moni bisa sedih karena gunung ini penting bagi mereka. Air sungai, kebun, hewan, dan wisata juga bisa terganggu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah krisis lingkungan yang diproyeksikan menghilangkan es abadi Puncak Jaya, tersingkapnya batuan dasar yang lama tertutup membuka ruang penelitian geologi secara lebih langsung. Kondisi ini dapat membantu ahli mempelajari struktur batuan, kemungkinan fosil purba, serta proses pembentukan Pegunungan Sudirman tanpa terhalang lapisan es tebal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi es abadi di Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya, Papua habis pada akhir 2026 atau awal 2027. Pengamat Meteorologi dan Geofisika Madya BMKG, Donaldi Sukma Permana, mengatakan, salah satu pemicu yang mempercepat punahnya es abadi Jayawijaya adalah El Nino.

"Kepunahan total es abadi di Puncak Jaya diproyeksikan terjadi dalam kurun waktu yang sangat dekat. Proyeksi Konsensus (Tahun 2026/2027): Analisis spasial berbasis data satelit Landsat dan Sentinel-2 yang menghitung laju penyusutan area rata-rata sebesar -0,07 km² per tahun menunjukkan bahwa es abadi diperkirakan akan hilang sepenuhnya pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027. Hal ini mungkin dipercepat dengan adanya kondisi El Niño pada pertengahan tahun 2026," ujar Donaldi kepada IDN Times, dikutip Minggu (9/8/2026).

Donaldi menjelaskan, faktor utama yang mendorong pencairan cepat es abadi di Puncak Jaya adalah pemanasan global yang memicu peningkatan suhu udara secara signifikan.

"Peningkatan suhu ini menyebabkan kenaikan batas membeku (freezing level altitude / 0°C isotherm) sehingga area es lebih sering terpapar suhu di atas titik beku. Akibatnya, alih-alih menerima akumulasi salju baru, wilayah gletser lebih sering diguyur oleh air hujan yang mempercepat proses pelelehan es di permukaan (ablation)," ujar dia.

1. Data terkini ketebalan es abadi di Jayawijaya

ilustrasi Gunung Jayawijaya (pexels.com/Tessa M)

Donaldi menjelaskan, pada pengeboran awal tahun 2010, ketebalan es berada di angka 31,49 meter. Ketebalan tersebut terus menyusut menjadi 26,23 meter pada November 2015.

Angka ketebalan terus menyusut menjadi 8,03 meter pad Februari 2021. Kemudian penyusutan kembali terjadi pada November Desember 2023 menjadi 4,085 meter.

"Hingga akhirnya mencapai nol meter pada November 2024, di mana tiang (stake) pemantau di East Northwall Firn (ENF) dilaporkan telah tersingkap penuh dan es di lokasi tersebut telah mencair seluruhnya," kata dia.

"Luas tutupan es, berdasarkan citra satelit Landsat dan Sentinel-2, luas es menyusut dari kisaran ~19,3 km² pada tahun 1850, menjadi 4,23 km² (Februari 1991), 0,23 km² (April 2022), dan hanya tersisa 0,09 km² (sekitar 9 hektare) pada September 2025. Angka ini mencerminkan es abadi hanya tersisa sekitar 2 persen dari luasannya di tahun 1988," lanjut dia.

2. Dampak negatif hilangnya es di Puncak Jayawijaya

ilustrasi salju abadi (commons.wikimedia.org/Vyacheslav Argenberg)

BMKG kemudian menyampaikan sejumlah dampak negatif akibat hilangnya es abadi Jayawijaya. Salah satunya adalah kehilangan identitas budaya dan spiritual adat. Hal itu karena bagi komunitas adat di sekitar pegunungan (khususnya suku Amungme dan Moni di Desa Tsinga), Puncak Jaya (yang mereka sebut Nemangkawi Ninggok atau Puncak Panah Putih) merupakan situs sakral.

"Gunung dianggap sebagai wujud 'ayah' dan tanah sebagai ibu.' Hilangnya es abadi dipandang sebagai hilangnya berkah spiritual sekaligus rusaknya salah satu pilar identitas budaya utama mereka," kata BMKG.

Dampak negatif lainnya adalah terganggunya siklus hidrologi lokal. BMKG mengatakan, melelehnya gletser akan merusak keseimbangan pasokan air tawar alami yang mengalir dari puncak menuju lembah. Hal ini memicu penurunan suplai air pada sungai-sungai dan danau di lembah pegunungan.

Selain itu, adapula ancaman kekeringan lahan pertanian yang dalam jangka panjang, terganggunya siklus hidrologi dan hilangnya cadangan air es berpotensi memicu bencana kekeringan pada lahan-lahan pertanian milik masyarakat yang berada di sekitar kaki gletser.

Selanjutnya adalah kerusakan ekosistem dan pergeseran habitat. Menurut BMKG, kenaikan suhu yang cepat dan keterbatasan air akan memaksa terjadinya pergeseran habitat vegetasi (tanaman) dan satwa.

"Beberapa spesies burung dan hewan pegunungan tinggi yang kelangsungan hidupnya bergantung pada ketersediaan air sungai/danau lembah akan terancam kehilangan habitat aslinya," ujar BMKG.

Penurunan pendapatan daerah dan pariwisata juga termasuk dalam dampak negatif hilangnya es abadi Jayawijaya. Menurut BMKG, es abadi di wilayah tropis merupakan fenomena alam unik yang memiliki daya tarik luar biasa bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Lenyapnya es ini akan menurunkan minat pariwisata khusus (pendakian es tropis) yang berdampak langsung pada berkurangnya pemasukan daerah.

Kemudian, kontribusi terhadap kenaikan permukaan air laut: Secara global dan akumulatif, mencairnya seluruh gletser tropis di dunia, termasuk di Papua akan melepaskan volume air dalam jumlah besar yang bermuara ke samudra dan berkontribusi terhadap kenaikan tinggi muka air laut secara global (sea level rise).

3. Apakah ada dampak positif?

ilustrasi gunung Puncak Jaya (commons.wikimedia.org/Alfindra Primaldhi)

Dalam seluruh dokumen ilmiah dan laporan ekspedisi resmi, tidak ada dampak positif yang bersifat ekologis maupun lingkungan dari hilangnya es abadi ini.

BMKG mengatakan, fenomena ini murni dikategorikan sebagai krisis lingkungan riil akibat pemanasan global . Namun, dari sudut pandang ilmiah dan operasional teknis, terdapat satu aspek pemanfaatan, yaitu terbukanya akses batuan purba untuk studi Geologi.

"Secara teknis, tersingkapnya batuan dasar (bedrock) yang selama ribuan tahun tertutup es memberikan kesempatan bagi para ahli geologi untuk meneliti struktur batuan, mencari fosil purba, atau mempelajari pembentukan geologis Pegunungan Sudirman secara langsung tanpa terhalang lapisan es tebal," ucap BMKG.

Curated For You

Editorial Team

Related Article