Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca Cegah Karhutla dan Kekeringan saat Kemarau

BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca Cegah Karhutla dan Kekeringan saat Kemarau
Ilustrasi teknologi modifikasi cuaca. (dok. BNPB)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • BMKG telah menjalankan OMC untuk mitigasi karhutla di 17 titik selama 291 hari operasi, serta pengisian danau atau waduk di tiga titik selama 66 hari.
  • Pada semester kedua 2026, OMC direncanakan untuk Danau Toba serta DAS Citarum, Brantas, dan Mamasa; mitigasi karhutla diperluas ke sejumlah provinsi hingga September.
  • Puncak kemarau diprediksi terjadi Agustus–September 2026, sementara BMKG mencatat 5.019 titik api; Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau menyumbang hotspot terbanyak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Deputi Bidang Modifikasi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Tri Handoko Seto, mengungkapkan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digunakan untuk memitigasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mengisi danau/waduk akibat musim kemarau tahun 2026 telah dilakukan di beberapa wilayah.

Dia mengatakan, operasi modifikasi cuaca yang dilakukan untuk mitigasi karhutla sudah dilakukan di 17 titik selama 291 hari operasi. Sementara itu, OMC yang dilakukan untuk mengisi air di danau/waduk sudah dilakukan di tiga titik selama 66 hari operasi. 

“Kita sudah melakukan 17 project, 17 kegiatan yang dilakukan dalam 169 hari operasi, 291 sorti penerbangan. Sementara itu yang untuk pengisian danau atau waduk ini kita lakukan sudah kita lakukan di tiga lokasi,” kata Tri, pada konferensi pers yang dilakukan secara online dari siaran langsung akun YouTube resmi BMKG, Info BMKG, Kamis (30/07/2026). 


1. BMKG ungkap rencana OMC semester kedua tahun 2026

Screenshot_2025-12-06-10-05-39-89_1c337646f29875672b5a61192b9010f9.jpg
Modifikasi cuaca yang dilakukan Pemprov Jatim. (Instagram/@khofifah.ip).

Tri juga menjelaskan rencana operasi modifikasi cuaca yang dilakukan pada semester kedua tahun 2026 terbagi menjadi dua, yaitu untuk pengisian danau/waduk dan mitigasi karhutla. 

Untuk rencana OMC yang ditujukan untuk mengisi danau/waduk, kata dia, sudah ada beberapa titik yang direncanakan, yaitu DTA Danau Toba di Sumatra Utara, DAS Citarum di Jawa Barat, DAS Brantas di Jawa Timur, dan DAS Mamasa di Sulawesi Barat. 

“Operasi modifikasi cuaca untuk pengisian waduk ada di Danau Toba rencananya akan kita lakukan lagi, di DAS Citarum, kemudian DAS Brantas, Jawa Timur dan juga DAS Mamasa di Sulawesi,” kata dia.

Dia juga menyebutkan rencana operasi modifikasi cuaca untuk memitigasi karhutla. Tri mengatakan, terdapat empat wilayah yang sudah melaksanakan OMC pada bulan Juli 2026, yaitu Aceh, Palembang, Pekanbaru dan Palangkaraya. 

Selain itu, OMC juga akan dilakukan pada bulan Agustus dan September di sejumlah provinsi di Indonesia seperti Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. 

2. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus–September 2026

Ilustrasi kekeringan akibat kemarau panjang. Cover Grafis IDN Times
Ilustrasi kekeringan akibat kemarau panjang. Cover Grafis IDN Times

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan, prediksi puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September dengan 48,84 persen wilayah Indonesia mencapai puncaknya pada Agustus dan 25,41 persen pada September. 

Selain itu, sebanyak 437 zona musim (48,77 persen dari luas daratan Indonesia) diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dengan durasi yang lebih panjang dari biasanya.

“Juga konsisten dengan press release yang kami sampaikan di bulan Maret dan Mei yang lalu bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang di bawah normal atau lebih kering dan juga mengalami durasi yang lebih panjang dari normalnya,” lanjut dia. 


3. BMKG ungkap jumlah titik api di Indonesia mencapai lebih dari 5.000 titik

Ilustrasi karhutla api membakar lahan
Ilustrasi karhutla api membakar lahan (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

Ardhasena mengatakan, berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan hingga Kamis malam, jumlah titik api yang ada di wilayah Indonesia saat ini mencapai 5.019 titik.  

“Hingga tadi malam, monitoring jumlah titik api atau hot spot yang dilakukan BMKG mencatat lebih dari 5.000 titik atau 5.019 titik,” kata Ardhasena dalam konferensi pers di akun YouTube resmi BMKG, Kamis (30/07/2026). 

Dia mengatakan, berdasarkan hasil grafik akumulasi, jumlah titik api dari bulan Januari hingga pertengahan bulan Juli tahun 2026 meningkat lebih cepat dibandingkan kondisi tahun-tahun El Niño sebelumnya. Menurut dia, Provinsi Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau menjadi provinsi dengan kontribusi titik panas terbanyak.

“Grafik akumulasi di kanan bawah ini menunjukkan jumlah hot spot dari awal tahun, Januari hingga pertengahan bulan Juli tahun 2026 ini menunjukkan peningkatan yang lebih cepat dibandingkan kondisi tahun-tahun El Nino yang lalu, yaitu tahun 2015, 2019, dan juga 2023. Kalimantan Barat, Papua Selatan dan Riau tercatat sebagai provinsi dengan kontribusi titik panas terbanyak,” ucap dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More