Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perkuat Layanan JKN, BPJS Kesehatan Dorong Optimalisasi Sistem Rujukan
Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Lula Kamal bersama Kepala Humas BPJS Kesehatan Rizzky Anugerah, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio, dan Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia Tulus Abadi melakukan spot check layanan di RS Oen Solo Baru, Surakarta, Jumat (07/08). (Dok. BPJS Kesehatan)
  • BPJS Kesehatan melakukan spot check di RS Oen Solo Baru untuk meninjau antrean, tempat tidur, keluhan pasien, dan layanan digital JKN.
  • Ketersediaan tempat tidur masih menjadi tantangan; rasio Indonesia sekitar 1,4 per 1.000 penduduk, sehingga kapasitas IGD dan ruang perawatan perlu diperkuat.
  • BPJS Kesehatan mendorong rujukan berjenjang dan pembaruan data tempat tidur real time melalui Mobile JKN agar distribusi pasien serta transparansi layanan lebih optimal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BPJS Kesehatan mendorong optimalisasi sistem rujukan, transparansi ketersediaan tempat tidur, dan penguatan layanan JKN setelah melakukan pemantauan layanan di rumah sakit.
  • Who?
    Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Lula Kamal, Kepala Humas Rizzky Anugerah, Agus Pambagio, Tulus Abadi, serta manajemen RS Oen Solo Baru terlibat dalam pemantauan.
  • Where?
    Pemantauan dilakukan di RS Oen Solo Baru, Surakarta. Pembahasan juga menyoroti rumah sakit rujukan nasional serta fasilitas kesehatan kelas B dan C.
  • When?
    Kunjungan spot check berlangsung pada Jumat, 7 Agustus. Tahun pelaksanaan per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Ketersediaan tempat tidur, kapasitas IGD, dan ruang perawatan dinilai masih perlu diperkuat. Transparansi informasi diperlukan untuk membantu akses pasien dan mencegah kesalahpahaman.
  • How?
    RS Oen Solo Baru menggunakan pendaftaran online terintegrasi, Duta Mobile JKN, layanan pelanggan, dan pojok informasi. BPJS Kesehatan meminta fasilitas kesehatan memperbarui data tempat tidur secara berkala.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Di tengah perhatian publik terhadap isu akses layanan kesehatan dan ketersediaan ruang rawat inap yang belakangan ramai diperbincangkan, transparansi informasi, penguatan kapasitas layanan, serta respons cepat terhadap keluhan pasien dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Pandangan tersebut mengemuka saat Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Lula Kamal bersama Kepala Humas BPJS Kesehatan Rizzky Anugerah, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio, dan Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia Tulus Abadi melakukan spot check layanan di RS Oen Solo Baru, Surakarta, Jumat (07/08). Kunjungan tersebut bertujuan melihat langsung implementasi pelayanan peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), mulai dari pengelolaan antrean, ketersediaan tempat tidur, penanganan keluhan peserta, hingga pemanfaatan layanan digital di rumah sakit.

1. Kapasitas layanan masih jadi tantangan

ilustrasi rumah sakit (pexels.com/marcus)

Dalam kesempatan tersebut, Tulus Abadi menekankan pentingnya transparansi informasi layanan untuk mencegah kesalahpahaman yang dapat berkembang menjadi persepsi negatif di masyarakat.

"Di era digital saat ini, sedikit saja persoalan pelayanan bisa menjadi perhatian publik. Oleh karena itu, keluhan sekecil apa pun harus ditangani dengan cepat. Selain itu, transparansi informasi, termasuk mengenai ketersediaan tempat tidur rumah sakit, menjadi penting untuk menghindari tuduhan yang tidak benar maupun kesalahpahaman dari masyarakat. Beberapa rumah sakit yang saya kunjungi sudah menerapkan hal tersebut dan hasilnya cukup baik," ujar Tulus.

Sementara itu, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengingatkan bahwa persoalan ketersediaan tempat tidur tidak hanya menyangkut tata kelola rumah sakit, tetapi juga kapasitas layanan kesehatan secara keseluruhan yang perlu terus diperkuat.

"Kapasitas IGD dan jumlah ruang perawatan yang dibutuhkan masyarakat saat ini memang masih perlu ditingkatkan. Kebutuhan layanan kesehatan kian bertambah sehingga kapasitas pelayanan harus ikut diperkuat, ini tugas pemerintah" katanya.

Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Lula Kamal menyebutkan, saat ini rasio tempat tidur Indonesia masih sekitar 1,4 per 1.000 penduduk, sementara Malaysia sudah sekitar 2,0 per 1.000 penduduk.

”Artinya, tantangan kita bukan hanya pada tata kelola layanan, tetapi juga bagaimana memperkuat kapasitas layanan kesehatan ini," kata Lula.

2. Penguatan rujukan jaga kapasitas rumah sakit

Ilustrasi BPJS Kesehatan (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Dari hasil pemantauan di lapangan, rombongan melihat berbagai upaya yang telah dilakukan RS Oen Solo Baru untuk meningkatkan kualitas pelayanan peserta JKN, mulai dari pemanfaatan sistem pendaftaran online yang terintegrasi dengan BPJS Kesehatan, penyediaan Duta Mobile JKN, penguatan layanan pelanggan, hingga penyediaan pojok informasi khusus BPJS Kesehatan.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menilai isu ketersediaan tempat tidur rumah sakit perlu dilihat secara lebih komprehensif dalam konteks penguatan sistem rujukan berjenjang. Menurutnya, tingginya konsentrasi pasien di sejumlah rumah sakit rujukan nasional dapat berdampak pada tingginya tingkat keterisian tempat tidur apabila tidak diimbangi dengan optimalisasi peran fasilitas kesehatan pada jenjang pelayanan lainnya.

"Mungkin ini juga menjadi fenomena di rumah sakit rujukan nasional. Jangan sampai rumah sakit rujukan nasional akhirnya menjadi puskesmas raksasa. Padahal rumah sakit tersebut seharusnya fokus menangani kasus-kasus yang memang membutuhkan pelayanan spesialistik dan subspesialistik," ujar Rizzky.

Rizzky juga menekankan pentingnya penguatan sistem rujukan agar distribusi pasien dapat berjalan lebih proporsional sesuai kebutuhan medis dan kompetensi fasilitas kesehatan. Dengan sistem rujukan yang berjalan optimal, ketersediaan tempat tidur di rumah sakit rujukan nasional dapat lebih terjaga sehingga dapat dimanfaatkan bagi pasien dengan kondisi yang benar-benar membutuhkan penanganan lanjutan dan kompleks.

"Sistem rujukan harus diperkuat agar ketersediaan tempat tidur tetap terjaga. Rumah sakit kelas C maupun kelas B dapat menjalankan perannya secara optimal sebagai rujukan sesuai kapasitas dan kompetensi yang dimiliki sebelum dilakukan eskalasi ke rumah sakit rujukan nasional," katanya.

3. Komitmen BPJS Kesehatan perkuat transparansi informasi

Ilustrasi BPJS Kesehatan (IDN Times/Rahmat Arief)

Menanggapi pentingnya transparansi informasi ketersediaan tempat tidur yang disampaikan Tulus Abadi, Rizzky mengatakan BPJS Kesehatan sebenarnya telah mendorong seluruh fasilitas kesehatan untuk secara rutin memperbarui data ketersediaan tempat tidur agar dapat diakses masyarakat secara real time.

"BPJS Kesehatan sejak lama telah meminta fasilitas kesehatan untuk secara berkala memperbarui informasi ketersediaan tempat tidur. Informasi tersebut tidak hanya ditampilkan pada dashboard ketersediaan tempat tidur di rumah sakit, tetapi juga terintegrasi dengan aplikasi Mobile JKN sehingga dapat diakses langsung oleh peserta maupun keluarga pasien," ujar Rizzky.

Menurutnya, keterbukaan informasi tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan kemudahan akses layanan sekaligus menghindari terjadinya kesalahpahaman di masyarakat terkait kondisi kapasitas rumah sakit.

"Dengan informasi yang terbuka dan terbarui, peserta dapat memperoleh gambaran mengenai ketersediaan tempat tidur sebelum mengakses layanan. Ini juga menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan transparansi layanan sekaligus membantu peserta mendapatkan informasi yang akurat," katanya. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Editorial Team

Related Article