- Sebagian Sumatra
- Sebagian kecil Kalimantan dan Jawa
- Nusa Tenggara Timur bagian selatan
- Sulawesi Barat bagian utara
- Sulawesi Tengah bagian barat
- Sebagian kecil Maluku
- Papua Barat Daya bagian selatan
- Papua Barat bagian tengah
- Papua bagian timur
Jadwal dan Wilayah di Indonesia yang Alami Puncak Musim Kemarau

- BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Juli–September dengan cakupan terluas di Agustus, meliputi hampir setengah wilayah Indonesia.
- Fenomena El Nino diperkirakan bertahan hingga awal 2027 dengan peluang moderat hingga kuat, berdampak langsung pada cuaca Indonesia sampai Oktober 2026.
- BMKG mengimbau langkah antisipasi lintas sektor seperti penyesuaian jadwal tanam, pengelolaan air, menjaga kapasitas PLTA, serta pemantauan kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Melalui akun Instagram resminya, @infobmkg, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada bulan Juli-September di sebagian besar wilayah Indonesia. Selain itu, potensi terjadinya El Nino pada musim kemarau ini mencapai kategori moderat hingga kuat. Musim kemarau yang terjadi pada tahun ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dari biasanya.
Oleh karena itu, BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk mempersiapkan langkah untuk mengantisipasi terjadinya kerugian akibat El Nino yang memengaruhi cuaca dan iklim selama musim kemarau.
“Kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan lebih panjang dari biasanya. BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Juli-September 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia. Di saat yang sama, peluang El Nino mencapai kategori moderat hingga kuat, yang dapat memengaruhi kondisi cuaca dan iklim selama musim kemarau. Siapkan langkah antisipasi sejak dini, terutama terkait ketersediaan air, potensi kekeringan, dan kebakaran hutan/lahan,” tulis BMKG di akun Instagram @infobmkg, dikutip Sabtu (18/7/2016).
1. Jadwal puncak musim kemarau pada wilayah di Indonesia

BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi secara bertahap pada Juli, Agustus, dan September. Puncak kemarau terluas diperkirakan berlangsung pada Agustus dengan cakupan 369 Zona Musim (ZOM) atau 48,84 persen wilayah Indonesia. Berikut jadwal dan wilayah yang diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada masing-masing bulan.
Juli (83 ZOM atau 12,26 persen wilayah)
Agustus (369 ZOM atau 48,84 persen wilayah)
- Sumatra bagian tengah
- Sebagian besar Jawa
- Bali
- Nusa Tenggara Barat
- Sebagian Nusa Tenggara Timur
- Sebagian besar Kalimantan
- Sebagian Sulawesi
- Sebagian Maluku dan Maluku Utara
- Sebagian besar Pulau Papua
September (169 ZOM atau 25,41 persen wilayah)
- Kepulauan Bangka Belitung
- Sebagian besar Sumatra Selatan
- Lampung
- Sebagian kecil Jawa
- Sebagian besar Nusa Tenggara Timur
- Kalimantan bagian selatan
- Sebagian besar Sulawesi
- Sebagian besar Maluku Utara
- Sebagian Maluku
- Papua Pegunungan bagian tengah
2. BMKG prediksi El Nino bertahan hingga awal 2027

Selain itu, BMKG juga memprediksi bahwa fenomena El Nino masih akan bertahan hingga awal 2027 berdasarkan perhitungan awal pada Juni 2026. BMKG menyebut, peluang El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98 persen, sedangkan peluang mencapai kategori kuat sebesar 62 persen.
Namun, meskipun El Nino diprediksi bertahan hingga awal 2027, fenomena tersebut hanya akan berdampak langsung bagi wilayah Indonesia sepanjang musim kemarau hingga Oktober 2026.
"Meskipun begitu, fenomena ini hanya akan memberi dampak langsung bagi wilayah Indonesia sepanjang musim kemarau hingga Oktober 2026," tulis BMKG.
3. Rekomendasi BMKG untuk menghadapi puncak musim kemarau 2026

Oleh sebab itu, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah untuk melakukan langkah antisipasi guna mengurangi dampak musim kemarau 2026. Rekomendasi tersebut mencakup sektor pangan, sumber daya air, energi, hingga kesehatan.
Pada sektor pangan, BMKG menyarankan penyesuaian jadwal tanam serta pemilihan varietas tanaman yang hemat air dan tahan terhadap kondisi kering. Sementara itu, pada sektor sumber daya air, BMKG merekomendasikan revitalisasi waduk serta perbaikan jaringan pipa air bersih bagi masyarakat.
Di sektor energi, BMKG mengimbau agar kapasitas air di bendungan tetap terjaga sehingga operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dapat berjalan optimal.
Adapun di sektor kesehatan, BMKG meminta pemerintah memperkuat pemantauan kualitas udara dan menyiapkan respons cepat untuk mengantisipasi peningkatan polusi udara serta kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
4. BMKG berkomitmen untuk berkoordinasi dalam menghadapi musim kemarau

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dan memberikan pendampingan kepada para pemangku kepentingan di daerah dalam menghadapi dampak musim kemarau 2026.
Pendampingan tersebut dilakukan kepada pemerintah daerah (Pemda), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pihak lain yang membutuhkan informasi cuaca dan iklim.
"BMKG secara aktif berkomunikasi, berkoordinasi, serta melakukan pendampingan kepada pemangku kepentingan di tingkat daerah, seperti pemerintah daerah (Pemda), Forkopimda, BPBD, dan semua pihak yang membutuhkan informasi yang lebih detail dan bagaimana cara memitigasi serta beradaptasi terkait dengan kondisi iklim yang terjadi saat ini," kata Teuku dikutip dari postingan Instagram resmi BMKG.



















