Jakarta, IDN Times - Media sosial sedang membahas mengenai konspirasi bencana alam bisa dipicu oleh suatu teknologi. Alat tersebut disebut bernama High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) yang berada d Gakona, Alaska, Amerika Serikat.
Terlebih, salah satu orang yang bekerja di pemerintahan dalam sebuah podcast memunculkan spekulasi, bencana bisa diciptakan akibat sedang berkonflik dengan Amerika Serikat (AS).
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan HAARP itu digunakan untuk mempelajari sifat serta perilaku ionosfer, yaitu bagian atmosfer atas yang mengandung ion dan elektron bebas serta berinteraksi kuat dengan radiasi matahari dan gelombang radio.
"Instrumen utamanya, Ionospheric Research Instrument (IRI), terdiri atas 180 antena radio HF yang tersusun sebagai phased array dan mampu memancarkan daya radio hingga sekitar 3,6 MW ke ionosfer. HAARP memang menggunakan gelombang radio berfrekuensi tinggi untuk memberikan gangguan kecil dan terkontrol pada plasma ionosfer, kemudian mengamati responsnya," ujar Daryono dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, HAARP merupakan teknologi nyata yang memiliki pemancar berdaya tinggi yang dikembangkan bersama unsur militer.
"Dalam narasi tersebut, HAARP dituduh mampu mengendalikan cuaca, memicu gempa bumi, menghasilkan tsunami, memicu letusan gunung api, bahkan menciptakan berbagai bencana alam," ucap dia.
"Persoalannya bukan apakah HAARP benar-benar ada, HAARP memang ada, melainkan apakah kemampuan luar biasa yg dituduhkan kepadanya sesuai dengan hukum fisika dan bukti observasional. Di sinilah persoalan tersebut harus dikembalikan dari ranah spekulasi ke ranah sains," sambungnya.
