Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Marak Serangan Pemukim, Warga Palestina Khawatir Kirim Anak ke Sekolah

Marak Serangan Pemukim, Warga Palestina Khawatir Kirim Anak ke Sekolah
ilustrasi tank-tank Israel di Tepi Barat (Aokiji Sama, CC BY-SA 4.0 , via Wikimedia Commons)
  • Lonjakan serangan pemukim Israel di al-Mughayyir, Tepi Barat, membuat orang tua Palestina khawatir mengirim anak ke sekolah karena akses desa juga kerap diblokir pasukan Israel.
  • Sepanjang 2026, enam warga al-Mughayyir tewas, termasuk tiga siswa. Aws al-Naasan, 14 tahun, ditembak di luar gerbang sekolah; Israel menyatakan penyelidikan telah diluncurkan.
  • Sekolah memperketat pengamanan dengan pagar, gerbang, ambulans, dan penjagaan orang tua. Laporan PBB menyebut anak-anak ditargetkan dalam strategi koersif, tuduhan yang dibantah Israel.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Lonjakan serangan pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua Palestina. Sebagian dari mereka bahkan enggan mengirim anak-anak mereka kembali ke sekolah pada tahun ajaran baru.

"Kami merasa takut. Para siswa merasa takut, begitu pula orang tua mereka," kata kepala sekolah khusus putra al-Mughayyir, Bassam al-Assaf, dikutip BBC.

Sekolah tersebut terletak di pinggiran al-Mughayyir, sebuah desa terpencil di timur laut Ramallah yang dikelilingi pos-pos permukiman Yahudi. Akses menuju desa itu juga kerap diblokir oleh pasukan Israel, yang sering mendirikan pos pemeriksaan sementara di pintu masuk desa.

  1. 1. 3 siswa sekolah putra al-Mughayyir tewas dibunuh sepanjang 2026

    pasukan Israel
    pasukan Israel ( / IDF Spokesperson's Unit)

    Sepanjang 2026, sedikitnya enam orang, termasuk tiga siswa sekolah tersebut, telah terbunuh di al-Mughayyir. Salah satunya adalah Aws al-Naasan, remaja berusia 14 tahun yang ditembak mati oleh seorang pemukim Israel di luar gerbang sekolah pada April.

    “Saya sedang berada di dalam kelas ketika dua siswa kecil berlari menghampiri saya dan memberi tahu bahwa ada pemukim di dekat tembok sekolah,” kata guru bahasa Inggris, Waheed Abu Naem.

    Ia menuturkan bahwa dirinya berusaha mengevakuasi para siswa ke tempat yang aman ketika pemukim tersebut melepaskan tembakan. Rekaman ponsel memperlihatkan detik-detik ketika Aws tertembak.

    "Saat saya membalikkan tubuhnya hingga telentang, saya melihat banyak darah mengucur dari hidung dan mulutnya, serta peluru bersarang di kepalanya. Kami kehilangan dia," ujar Waheed, yang juga kehilangan saudara laki-lakinya, Jihad, dalam serangan yang sama.

    Militer Israel saat itu menyatakan bahwa sebuah mobil yang membawa warga sipil, termasuk seorang tentara cadangan, dilempari batu. Tentara cadangan tersebut kemudian keluar dari kendaraan dan melepaskan tembakan ke arah pelaku pelemparan. Laporan media Israel menyebutkan bahwa tentara tersebut telah diskors dari tugasnya dan penyelidikan diluncurkan.

  2. 2. Sekolah dan para orangtua berusaha tingkatkan pengamanan

    ilustrasi siswa sekolah (unsplash.com/Haseeb Modi)
    ilustrasi siswa sekolah (unsplash.com/Haseeb Modi)

    Demi menenangkan para orangtua, kepala sekolah berinisiatif memasang pagar kawat berduri di sekeliling area sekolah dan memperkuat gerbang. Sejumlah kru ambulans juga ditempatkan di pinggir jalan, sementara beberapa orang tua secara sukarela berjaga di luar sekolah sepanjang hari.

    "Saya datang karena hal ini membuat anak-anak merasa orang tua mereka ada bersama mereka, bahwa mereka aman. Ini memberikan semacam rasa aman bagi mereka," kata Haroon Bishara, yang anak laki-lakinya duduk di kelas 1 dan 2.

    Ia mengungkapkan bahwa para orang tua tahun ini lebih mengkhawatirkan keselamatan anak-anak mereka, mengingat situasi di sekolah yang tidak aman. Meski demikian, mereka bertekad untuk tidak membiarkan ancaman serangan pemukim memaksa mereka meninggalkan tempat tinggal mereka.

  3. 3. Pemukim Israel targetkan anak-anak demi usir warga Palestina

    anak-anak Palestina
    anak-anak Palestina (Picture taken by Justin McIntosh,, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

    Hadi al-Naasan, seorang sopir ambulans di al-Mughayyir, menyoroti adanya perubahan perilaku pada pasukan Israel selama setahun terakhir. Hal ini tercermin dalam peningkatan jumlah warga Palestina yang tewas dan terluka di desa tersebut tahun ini.

    "Pada awal 2025, serangan pemukim masih jarang terjadi berkat intervensi militer. Pada 2026, situasinya berubah total. Para pemukim mendapatkan perlindungan penuh dari tentara pendudukan. Tahun ini, jumlah korban jiwa lebih banyak, jumlah korban luka juga jauh lebih tinggi, termasuk anak-anak," jelasnya.

    Hadi dan warga al-Mughayyir lainnya meyakini bahwa sebagian pemukim Israel kini sengaja menargetkan anak-anak untuk menekan warga Palestina agar meninggalkan rumah mereka.

    Komisi Penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam laporannya yang diterbitkan pada Juni 2026, menemukan bahwa para pemukim telah menargetkan anak-anak sebagai bagian dari strategi koersif yang lebih luas untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka. Namun, Israel membantah laporan tersebut dengan menyebutnya sebagai fitnah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More