Era AI dan Medsos, Wamenkomdigi Singgung Propaganda-Agenda Setting

- Wamenkomdigi Nezar Patria menyebut AI mengubah produksi dan konsumsi informasi; penggunaan AI untuk meringkas sumber jurnalistik berpotensi memicu disinformasi.
- Transformasi dari media cetak ke platform digital membuat media kehilangan kontrol audiens, sementara algoritma mengumpulkan data, membentuk profil pengguna, dan menciptakan ruang gema.
- Media sosial menjadikan publik sebagai konsumen sekaligus produsen informasi, tetapi derasnya konten belum terverifikasi membuka ruang agenda tertentu, disinformasi, dan propaganda.
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengatakan kecerdasan buatan atau Artificial intelligence (AI) telah mengubah cara informasi diproduksi dan dikonsumsi publik. Fenomena ini ditandai dengan maraknya penggunaan AI untuk meringkas atau menyimpulkan sebuah infromasi dari sumber asli atau media jurnalistik, yang kemudian memicu disinformasi.
Hal ini disampaikan Nezar dalam diskusi panel Dewan Profesor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Artificial Intelligence dan Mediatisasi Transformasi Komunikasi, Media, dan Masyarakat Digital di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Kamis (10/9/2026).
Nezar menyinggung perihal teknologi yang mendisrupsi satu proses produksi di bidang komunikasi. Berangkat dari perjalanan karirnya sebagai jurnalis sejak 1999, ia mengalami transformasi industri dari media cetak atau konvensional ke media digital.
Nezar menyebut, perubahan dari lanskap komunikasi itu adalah media kehilangan audiensinya, dan beralih dikendalikan platform media sosial.
"Satu hal yang terjadi secara fundamental, perubahan dari lanskap komunikasi itu adalah media kehilangan audiens. Yang mengontrol audiensi adalah platform. Kenapa demikian? Karena semua produk dari media, produk jurnalistik, itu sampai ke audiensi lewat platform media sosial," ucapnya.
1. Transformasi media digital dan dampaknya pada masyarakat

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria S.Fil., M.Sc., M.B.A dalam Diskusi Panel Dewan Profesor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Artificial Intelligence dan Mediatisasi Transformasi Komunikasi, Media, dan Masyarakat Digital di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Kamis (10/9/2026). (IDN Times/Umi Jari Widayah) Nezar menyampaikan, perjalanan industri media mengalami transformasi besar dari media cetak atau konvensional ke media digital berbasis platform seperti Google, Facebook, Instagram, dan TikTok.
Perubahan berikutnya yang dialami media konvensional ialah kehilangan kontrol langsung atas audiensinya, sebab arus informasi yang beredar kini dikendalikan oleh masing-masing platform media sosial, khususnya sejak adanya algoritma.
Keberadaan algoritma dibangun untuk kepentingan bisnis seperti profiling pengguna dan micro-targeting advertisement. Lambat laun, algoritma membentuk fenomena echo chamber (ruang gema) bagi pengguna, di mana mereka akan selalu disuguhkan dengan konten-konten yang disukainya.
Melalui proses inilah, kata Nezar, pengguna dipengaruhi untuk melakukan suatu tindakan untuk kepentingan bisnis, politik, sosial, dan lainnya.
Lebih lajut, Nezar menekankan, adanya fakta di balik kemudahan fitur-fitur yang diberikan dalam media sosial, yaitu pengambilan data pengguna yang dihimpun dalam big data.
"Kita memang dimudahkan untuk masuk ke sana, tetapi data kita dicatat, data kita diambil, data kita direkam dan menjadi semesta data, menjadi big data. Dari sana dengan machine learning lalu dibuat profiling," jelas Nezar.
2. Masyarakat sebagai produsen sekaligus konsumen informasi

Diskusi Panel Dewan Profesor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Artificial Intelligence dan Mediatisasi Transformasi Komunikasi, Media, dan Masyarakat Digital di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Kamis (10/9/2026). (IDN Times/Umi Jari Widayah) Dengan perkembangan media yang semakin masif ini, setiap pengguna tidak hanya bertindak sebagai konsumen informasi, melainkan juga sebagai produsen informasi atau konten-konten media sosial.
Nezar menyebut, kini platform-platform yang bergerak dengan begitu cepat dan memberikan ruang diskusi untuk publik. Namun, karena berbasis alogritma, maka ruang-ruang tersebut disesuaikan dengan hal yang disukai pengguna.
"Dan itulah sebabnya mengapa informasi, lalu lintas informasi karena ada perubahan yang sangat substansial di dalam platform digital dan media sosial pada hari ini, informasi bisa diproduksi oleh siapa saja, bukan hanya oleh media. Kita adalah konsumen, kita juga produsen dari informasi itu. Semua orang bisa produksi konten, pada hari ini semua orang bisa produksi informasi," tuturnya.
3. Munculnya disinformasi dan propaganda

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria S.Fil., M.Sc., M.B.A dalam Diskusi Panel Dewan Profesor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Artificial Intelligence dan Mediatisasi Transformasi Komunikasi, Media, dan Masyarakat Digital di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Kamis (10/9/2026). (IDN Times/Umi Jari Widayah) Sosok yang telah menggeluti dunia jurnalistik selama 25 tahun ini menyoroti masifnya aktivitas memproduksi informasi yang dapat dilakukan siapa pun melalui media sosial. Sebab, yang dihasilkan begitu banyak informasi-informasi yang unverified atau belum terverifikasi kebenarannya.
"Nah, yang terjadi begitu banyak informasi-informasi yang unverified. Ada banyak agenda-agenda setting yang dibuat dengan menggunakan platform media sosial, untuk tujuan-tujuan tertentu," ucapnya.
Di samping itu, Nezar menyoroti pemanfaatan media sosial dari kacamata Edward Bernays perihal propaganda. Jika demikian, massa atau pun kerumunan itu dapat dimanipulasi, sebab mereka adalah orang-orang yang tidak sadar. Oleh karena itu, mereka harus diarahkan dan dibuatlah propaganda-propaganda.
Nezar juga menyinggung perkembangan teknologi dan AI tidak hanya menghadirkan kemudahan dalam memperoleh dan menyebarkan informasi, melainkan membawa konsekuensi. Masyarakat dituntut tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memeriksa, memahami, dan menilai informasi secara kritis sebelum mempercayai maupun membagikannya.



















