Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Daryono Ingatkan Ancaman Banjir dan Angin Kencang Jelang Musim Hujan
ilustrasi hujan deras sebagai bagian dari kondisi cuaca harian (pexels.com/Md Nadim Mahmud)
  • Hujan di Jabodetabek, termasuk Cibinong dan Bekasi, memicu genangan di Babelan serta menjadi pengingat ancaman banjir dan cuaca ekstrem menjelang musim hujan.

  • Awan Cumulonimbus dapat memicu downdraft dan downburst, menghasilkan angin kencang mendadak yang berpotensi menumbangkan pohon serta merusak bangunan.

  • Hujan deras di Bogor dapat meningkatkan debit sungai ke Bekasi dan Jakarta; masyarakat serta pemerintah diminta memperkuat kesiapsiagaan, drainase, pemantauan, dan peringatan dini.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
24 Oktober 2026

Hujan mengguyur sejumlah wilayah Jabodetabek, termasuk Cibinong dan Bekasi. Genangan terjadi di kawasan Babelan.

27 Oktober 2026

Daryono mengingatkan ancaman banjir dan cuaca ekstrem menjelang musim hujan. Ia menyoroti risiko hujan lebat, petir, dan angin kencang akibat awan Cumulonimbus serta pentingnya kesiapsiagaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Hujan di sejumlah wilayah Jabodetabek memicu genangan di Babelan, sementara ancaman banjir, petir, dan angin kencang meningkat menjelang musim hujan.
  • Who?
    Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem dan banjir.
  • Where?
    Hujan melanda wilayah Jabodetabek, termasuk Cibinong dan Bekasi. Genangan dilaporkan terjadi di kawasan Babelan; risiko aliran sungai juga mencakup Bogor, Bekasi, dan Jakarta.
  • When?
    Hujan terjadi pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Peringatan Daryono disampaikan pada Selasa, 27 Oktober 2026, menjelang musim hujan.
  • Why?
    Awan Cumulonimbus dapat menghasilkan arus udara turun yang memicu angin kencang. Hujan deras di hulu serta drainase terbatas, sedimentasi, dan hambatan aliran meningkatkan risiko banjir di hilir.
  • How?
    Masyarakat diminta membersihkan saluran air, mengamankan barang, memantau cuaca dan tinggi muka air, serta menyiapkan evakuasi. Pemerintah daerah perlu memastikan drainase, sungai, pompa, pintu air, dan peringatan dini berfungsi optimal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Hujan deras turun di Cibinong dan Bekasi, lalu ada genangan di Babelan. Pak Daryono bilang musim hujan bisa membawa banjir, petir, dan angin kencang. Hujan di Bogor juga bisa membuat sungai menuju Bekasi dan Jakarta makin penuh. Sekarang orang diminta bersihkan saluran air dan lihat kabar cuaca.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Peringatan menjelang musim hujan ini membuka ruang bagi kesiapsiagaan yang lebih terarah. Pemahaman mengenai pemicu angin kencang, hubungan hulu-hilir, serta langkah praktis seperti membersihkan saluran dan memantau informasi cuaca dapat membantu masyarakat dan pemerintah menekan risiko. Dengan mitigasi dini dan respons terhadap peringatan, dampak hujan ekstrem dapat dikurangi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Jabodetabek pada Sabtu (24/10/2026) menjadi pengingat akan ancaman banjir dan cuaca ekstrem menjelang musim hujan. Hujan tersebut melanda sejumlah wilayah, termasuk Cibinong dan Bekasi, hingga menimbulkan genangan di kawasan Babelan.

Menjelang musim hujan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat berdurasi singkat yang dapat terjadi secara mendadak, disertai petir dan angin kencang.

“Hujan deras yang disertai angin kencang umumnya berkaitan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb),” kata Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, dikutip pada Selasa (27/10/2026).

Berikut sejumlah hal yang perlu diwaspadai menjelang musim hujan, termasuk penyebab angin kencang yang menyertai hujan deras.

1. Awan Cumulonimbus dapat memicu angin kencang

ilustrasi pohon tumbang di jalan (pexels.com/Jimmy Liao)

Daryono menjelaskan hujan deras yang disertai angin kencang umumnya berkaitan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb). Awan tersebut terbentuk ketika udara hangat dan lembap naik dan berkembang menjadi awan hujan yang menjulang tinggi. Di dalam awan, sebagian udara mengalami pendinginan dan bergerak turun dengan cepat.

Pergerakan udara turun ini disebut downdraft, yang dapat memicu embusan angin kencang ketika mencapai permukaan tanah. Ketika arus udara turun mencapai permukaan tanah, udara menyebar secara horizontal dan menimbulkan hembusan angin kencang secara tiba-tiba.

Dalam kondisi ekstrem, fenomena ini dapat berkembang menjadi downburst, yang berpotensi menyebabkan pohon tumbang dan kerusakan bangunan.

“Fenomena ini dapat terjadi pada musim hujan maupun masa peralihan musim, terutama ketika atmosfer tidak stabil dan pertumbuhan awan konvektif sangat kuat,” katanya.

2. Hujan di wilayah hulu bisa meningkatkan risiko banjir di hilir

ilustrasi jalan yang terendam banjir (unsplash.com/Wes Warren)

Daryono mengingatkan bahwa risiko banjir perlu dicermati secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Hujan deras di kawasan Bogor dan sekitarnya dapat meningkatkan debit sungai yang mengalir menuju Bekasi dan Jakarta.

Sementara itu, kondisi dataran rendah, kapasitas drainase yang terbatas, sedimentasi, serta hambatan aliran di wilayah hilir dapat memperbesar risiko genangan.

“Risiko banjir juga perlu dicermati secara terintegrasi dari hulu hingga hilir,” kata dia.

Karena itu, penanganan banjir perlu memperhatikan kondisi wilayah secara menyeluruh, bukan hanya daerah yang mengalami genangan.

3. Masyarakat dan pemerintah perlu meningkatkan kesiapsiagaan

ilustrasi tanda peringatan (IDN Times/NRF)

Daryono mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko banjir dan cuaca ekstrem. Masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah, seperti membersihkan saluran air, mengamankan barang berharga, memantau informasi cuaca dan tinggi muka air, serta menyiapkan langkah evakuasi.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga perlu memastikan drainase, sungai, pompa, dan pintu air berfungsi optimal. Selain itu, sistem peringatan dini juga perlu diperkuat agar masyarakat dapat melakukan langkah evalusi dengan cepat.

“Hujan adalah fenomena alam yang tidak dapat dicegah, tetapi risiko banjir dan dampaknya dapat dikurangi. Kuncinya adalah mitigasi sejak dini, kesiapsiagaan bersama, dan kecepatan merespons peringatan dini,” ujar Daryono.

Curated For You

Editorial Team

Related Article