Ribuan Warga Madrid Geruduk Jalanan Tuntut Jaminan Pensiun Negara

- Sekitar 25 ribu warga Madrid berunjuk rasa menjelang pemilu 29 November 2026, menuntut pensiun mengikuti inflasi, penghapusan kesenjangan gender, dan nominal minimum setara upah minimum.
- Tagihan pensiun bulanan Spanyol hampir mencapai 14,5 miliar euro. Perbedaan metode menghitung defisit memunculkan angka 7,387 miliar euro versi pemerintah dan 69,783 miliar euro versi Fedea.
- Penuaan penduduk menekan skema iuran langsung: rasio hanya 2,37 pekerja per pensiunan, sementara dana cadangan 15,267 miliar euro cukup membiayai pembayaran sedikit lebih dari sebulan.
Jakarta, IDN Times – Sekitar 25 ribu warga pada Sabtu (24/10/2026) turun ke jalan di Madrid, bergerak dari Stasiun Atocha menuju Gran Via untuk menuntut perlindungan pensiun menjelang pemilihan umum pada 29 November 2026. Mereka mendesak agar nilai pensiun tetap disesuaikan dengan inflasi dan kesenjangan pensiun antara laki-laki dan perempuan dihapuskan.
Tuntutan tersebut muncul ketika total tagihan pensiun bulanan Spanyol mencetak rekor baru tahun ini, hampir mencapai 14,5 miliar euro (sekitar Rp293,8 triliun). Sistem pensiun negara itu menggunakan skema bayar langsung, yakni iuran pekerja yang masih aktif digunakan untuk membiayai pensiunan saat ini, bukan disimpan dalam rekening pribadi.
Dilansir Al Jazeera, wakil juru bicara partai sayap kiri Mas Madrid di Majelis Madrid, Emilio Delgado, menilai pensiun harus menjamin penghargaan yang layak bagi masyarakat yang telah bekerja sepanjang hidupnya. Ia menyatakan bahwa tidak ada pensiun yang boleh berada di bawah upah minimum karena orang yang telah bekerja seumur hidup berhak memperoleh penghargaan yang bermartabat.
1. Perbedaan perhitungan defisit memperlihatkan beban fiskal

ilustrasi warga Spanyol (pexels.comGotta Be Worth It) Perbedaan metode akuntansi menghasilkan angka defisit yang terpaut jauh dalam analisis Yayasan Studi Ekonomi Terapan (Fedea). Kementerian Inklusi, Jaminan Sosial dan Migrasi Spanyol mencatat defisit sebesar 7,387 miliar euro (sekitar Rp149,7 triliun) pada 2025, sedangkan Fedea menghitung defisit mendasar mencapai 69,783 miliar euro (sekitar Rp1.414 triliun), setara 4,15 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) setelah dukungan pemerintah dikeluarkan dari perhitungan.
Sementara itu, Otoritas Independen Tanggung Jawab Fiskal (AIReF) memperkirakan rata-rata pengeluaran pensiun pada periode 2022–2050 mencapai 13,0 persen dari PDB. Angka tersebut masih berada di bawah ambang batas yang disepakati dengan Brussels, meski utang publik Spanyol diproyeksikan meningkat hingga 123 persen dari PDB pada 2050.
2. Ekonom memperingatkan risiko krisis utang Yunani

ilustrasi utang (pexels.com/Nataliya Vaitkevich) Profesor ekonomi kuantitatif dan publik sekaligus wakil direktur Ruth Richardson Centre, Santiago Calvo, menguraikan risiko ketergantungan terhadap utang dalam bukunya, El elefante en la habitación. Ia memperingatkan kemungkinan Spanyol menghadapi gagal bayar seperti Yunani apabila biaya pinjaman melonjak hingga pemerintah tak lagi mampu membiayai kebutuhan negara dengan biaya yang wajar.
Calvo menggambarkan bagaimana krisis utang dapat mengubah proses penentuan kebijakan anggaran, termasuk pemangkasan belanja negara.
“Pada titik itu, penyesuaian berhenti diputuskan di parlemen, dengan jadwal dan langkah-langkah bertahap, dan dinegosiasikan dengan kreditor sebagai syarat untuk bailout. Item anggaran terbesar adalah yang pertama dipotong,” ujar Calvo, dikutip Euro News.
Pengalaman Yunani menjadi salah satu gambaran dampak pemangkasan yang dipaksakan oleh kreditor. Rata-rata pensiun di negara tersebut merosot dari sekitar 1.350 euro (setara Rp27,3 juta) pada 2009 menjadi 833 euro (sekitar Rp16,8 juta) beberapa tahun kemudian.
3. Penuaan penduduk menekan keberlanjutan sistem pensiun

Bendera Spanyol (pexels.com/Jo Kassis) Proyeksi Institut Statistik Nasional (INE) menunjukkan sistem pensiun Spanyol menghadapi tekanan jangka panjang akibat populasi yang menua, rendahnya angka kelahiran, stagnasi upah, serta menyusutnya rasio pekerja terhadap pensiunan. Pada akhir Juli 2026, jumlah pekerja yang membayar iuran mencapai 22,5 juta orang, dengan rasio 2,37 pekerja per pensiunan.
Pada September, Jaminan Sosial membayarkan 10,55 juta pensiun kepada 9,53 juta penerima. Sementara itu, Dana Cadangan hanya memiliki 15,267 miliar euro (sekitar Rp309,4 triliun) pada Maret 2026, jumlah yang cukup untuk membiayai pembayaran pensiun selama sedikit lebih dari satu bulan dan jauh di bawah puncaknya pada 2011.
Di tengah tekanan tersebut, Perdana Menteri Pedro Sanchez berjanji mempertahankan perlindungan pensiun. Pemimpin Partai Popular, Alberto Nunez Feijoo, juga menyatakan komitmennya untuk terus menaikkan nilai pensiun sesuai inflasi.























