Daryono Ingatkan Ancaman Banjir dan Angin Kencang Jelang Musim Hujan

Hujan di Jabodetabek, termasuk Cibinong dan Bekasi, memicu genangan di Babelan serta menjadi pengingat ancaman banjir dan cuaca ekstrem menjelang musim hujan.
Awan Cumulonimbus dapat memicu downdraft dan downburst, menghasilkan angin kencang mendadak yang berpotensi menumbangkan pohon serta merusak bangunan.
Hujan deras di Bogor dapat meningkatkan debit sungai ke Bekasi dan Jakarta; masyarakat serta pemerintah diminta memperkuat kesiapsiagaan, drainase, pemantauan, dan peringatan dini.
Jakarta, IDN Times – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Jabodetabek pada Sabtu (24/10/2026) menjadi pengingat akan ancaman banjir dan cuaca ekstrem menjelang musim hujan. Hujan tersebut melanda sejumlah wilayah, termasuk Cibinong dan Bekasi, hingga menimbulkan genangan di kawasan Babelan.
Menjelang musim hujan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat berdurasi singkat yang dapat terjadi secara mendadak, disertai petir dan angin kencang.
“Hujan deras yang disertai angin kencang umumnya berkaitan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb),” kata Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, dikutip pada Selasa (27/10/2026).
Berikut sejumlah hal yang perlu diwaspadai menjelang musim hujan, termasuk penyebab angin kencang yang menyertai hujan deras.
1. Awan Cumulonimbus dapat memicu angin kencang

ilustrasi pohon tumbang di jalan (pexels.com/Jimmy Liao) Daryono menjelaskan hujan deras yang disertai angin kencang umumnya berkaitan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb). Awan tersebut terbentuk ketika udara hangat dan lembap naik dan berkembang menjadi awan hujan yang menjulang tinggi. Di dalam awan, sebagian udara mengalami pendinginan dan bergerak turun dengan cepat.
Pergerakan udara turun ini disebut downdraft, yang dapat memicu embusan angin kencang ketika mencapai permukaan tanah. Ketika arus udara turun mencapai permukaan tanah, udara menyebar secara horizontal dan menimbulkan hembusan angin kencang secara tiba-tiba.
Dalam kondisi ekstrem, fenomena ini dapat berkembang menjadi downburst, yang berpotensi menyebabkan pohon tumbang dan kerusakan bangunan.
“Fenomena ini dapat terjadi pada musim hujan maupun masa peralihan musim, terutama ketika atmosfer tidak stabil dan pertumbuhan awan konvektif sangat kuat,” katanya.
2. Hujan di wilayah hulu bisa meningkatkan risiko banjir di hilir

ilustrasi jalan yang terendam banjir (unsplash.com/Wes Warren) Daryono mengingatkan bahwa risiko banjir perlu dicermati secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Hujan deras di kawasan Bogor dan sekitarnya dapat meningkatkan debit sungai yang mengalir menuju Bekasi dan Jakarta.
Sementara itu, kondisi dataran rendah, kapasitas drainase yang terbatas, sedimentasi, serta hambatan aliran di wilayah hilir dapat memperbesar risiko genangan.
“Risiko banjir juga perlu dicermati secara terintegrasi dari hulu hingga hilir,” kata dia.
Karena itu, penanganan banjir perlu memperhatikan kondisi wilayah secara menyeluruh, bukan hanya daerah yang mengalami genangan.
3. Masyarakat dan pemerintah perlu meningkatkan kesiapsiagaan

ilustrasi tanda peringatan (IDN Times/NRF) Daryono mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko banjir dan cuaca ekstrem. Masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah, seperti membersihkan saluran air, mengamankan barang berharga, memantau informasi cuaca dan tinggi muka air, serta menyiapkan langkah evakuasi.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga perlu memastikan drainase, sungai, pompa, dan pintu air berfungsi optimal. Selain itu, sistem peringatan dini juga perlu diperkuat agar masyarakat dapat melakukan langkah evalusi dengan cepat.
“Hujan adalah fenomena alam yang tidak dapat dicegah, tetapi risiko banjir dan dampaknya dapat dikurangi. Kuncinya adalah mitigasi sejak dini, kesiapsiagaan bersama, dan kecepatan merespons peringatan dini,” ujar Daryono.























