Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Daryono: Musim Hujan Menjelang, Jangan Hentikan Mitigasi Karhutla

2 min read
Daryono: Musim Hujan Menjelang, Jangan Hentikan Mitigasi Karhutla
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Ibukota Nusantara, Senin (19/10/2026). (Dok. Polda Kaltim)
  • Daryono mengingatkan musim hujan dapat meredakan karhutla, tetapi api di lahan gambut bisa tetap membara di bawah tanah sehingga mitigasi tidak boleh dihentikan.

  • Penanganan karhutla perlu memprioritaskan pencegahan berkelanjutan melalui perlindungan gambut, pengelolaan tata air, pengendalian sumber api, serta penguatan peringatan dini dan kesiapsiagaan.

  • Presiden Prabowo Subianto membentuk Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) untuk mencegah karhutla, berdasarkan keputusan rapat terbatas bersama Menteri Kehutanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Musim hujan mulai menjelang dan sejumlah wilayah di Indonesia sudah diguyur hujan. Peningkatan curah hujan diharapkan dapat membantu meredakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada lingkungan, kesehatan masyarakat, hingga aktivitas ekonomi.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) sekaligus dosen Magister Manajemen Bencana Universitas Indonesia (UI), Daryono, mengingatkan hujan tidak selalu dapat memadamkan api, terutama di lahan gambut yang memungkinkan api tetap membara di bawah permukaan tanah.

Menurutnya, dengan datangnya musim hujan, tidak boleh mengakhiri upaya mitigasi yang kerap dilakukan. Kondisi ini justru harus menjadi langkah persiapan agar karhutla di musim kemarau selanjutnya tidak terulang.

“Datangnya musim hujan dapat membantu mengakhiri kebakaran, tetapi tidak boleh mengakhiri upaya mitigasi,” kata Daryono.

  1. 1. Pencegahan harus menjadi prioritas penanganan karhutla

    Daryono: Musim Hujan Menjelang, Jangan Hentikan Mitigasi Karhutla
    ilustrasi lahan gambut yang kembali basah dan ditumbuhi vegetasi (pixabay.com/Peggy_Marco)

    Daryono mengatakan penanganan tidak seharusnya hanya berfokus pada pemadaman setelah api meluas, tetapi juga harus mengutamakan langkah pencegahan sebelum kebakaran terjadi.

    Pencegahan tersebut dapat melalui perlindungan ekosistem gambut, pengelolaan tata air, dan pengendalian sumber penyulutan api.

    Dengan mengutamakan pencegahan, potensi karhutla diharapkan dapat ditekan sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih luas. Langkah tersebut juga tidak hanya menjadi upaya saat kebakaran terjadi, tetapi menjadi upaya pencegahan berkelanjutan.

    “Karhutla boleh menjadi catatan sejarah, tetapi jangan terus menjadi bencana yang berulang,” kata Daryono.

  2. 2. Sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan harus ditingkatkan

    Daryono: Musim Hujan Menjelang, Jangan Hentikan Mitigasi Karhutla
    ilustrasi tas siaga darurat (unsplash.com/Mathurin NAPOLY / matnapo)

    Daryono menjelaskan upaya pencegahan karhutla dapat melalui penguatan sistem peringatan dini, yang diperlukan untuk membantu mengantisipasi potensi karhutla sebelum kebakaran meluas.

    Selain itu, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah juga penting, agar langkah penanganan dapat dilakukan secara tepat ketika risiko kebakaran meningkat. Dengan persiapan yang memadai, masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah antisipasi lebih awal, sekaligus mengurangi dampak kebakaran terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

    “Belajar dari kejadian, memperkuat pencegahan, dan membangun kesiapsiagaan adalah kunci agar risiko karhutla di masa depan semakin berkurang,” kata Daryono.

  3. 3. Presiden Prabowo sudah membentuk badan pengelolaan gambut

    Daryono: Musim Hujan Menjelang, Jangan Hentikan Mitigasi Karhutla
    Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025). (IDN Times/Ilman Nafi'an)

    Sementara, berdasarkan catatan IDN Times, Presiden Prabowo Subianto sudah membentuk Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), yang dibentuk untuk mencegah terjadinya karhutla.

    Keputusan tersebut diambil dalam rapat terbatas bersama Menteri Kehutanan (Menhut) terkait mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di Jakarta, Kamis, 24 September 2026.

    “Bapak Presiden sudah mengambil keputusan, akan mendirikan satu badan yang disebut sebagai Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional atau disingkat dengan BPGMN. Jadi namanya Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional atau BPGMN," ujar Menteri Kehutanan, Raja Juli, di Jakarta, pada September lalu.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More