DPR Wacanakan Wajib Militer Terbatas, Sasar Generasi Muda

Said Abdullah mewacanakan wajib militer terbatas untuk memperluas Komcad dan membangun kedisiplinan serta bela negara di kalangan generasi muda.
Usulan tersebut menyasar warga berusia 18 tahun melalui pendidikan terpadu yang melibatkan sekolah, TNI, Polri, dan praktisi.
Rakyat terlatih dapat mencakup anggota Komcad dan kaum profesional untuk menghadapi ancaman pertahanan yang semakin kompleks.
Jakarta, IDN Times - Anggota DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah mewacanakan penerapan wajib militer (wamil) terbatas di Indonesia. Gagasan itu diarahkan untuk memperluas komponen cadangan (Komcad) sekaligus membangun budaya disiplin dan bela negara, terutama di kalangan generasi muda.
Said menyebut, konsep pertahanan semesta masih relevan, tetapi ancaman kini semakin kompleks karena perang asimetris dan perang hibrida. Hal ini disampaikannya berkenaan dengan HUT TNI yang ke-81.
“Mungkin kita perlu memikirkan untuk perluasan Komcad. Mungkin kita perlu wajib militer terbatas yang ditujukan bukan hanya semata kebutuhan Komcad pertahanan, tetapi untuk membangun kultur pendukung bagi pelaksanaan pembangunan semesta, terutama dari kalangan generasi muda," kata dia dalam keterangan tertulis dikutip Selasa (6/10/2026).
1. Wamil terbatas untuk generasi muda

Ketua DPD PDIP Jatim, Said Abdullah mendampingi Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPP PDIP Prananda Prabowo. IDN Times/Ardiansyah Fajar. Said mengusulkan, warga berusia 18 tahun diperkenalkan pada pendidikan kedisiplinan, budi pekerti, dan bela negara. Program itu dapat melibatkan sekolah, TNI, Polri, dan praktisi untuk pelatihan serta pembinaan dalam jangka panjang.
“Mungkin sudah waktunya memberlakukan anak usia 18 tahun untuk memperkenalkan pendidikan kedisiplinan, budi pekerti, dan pemahaman bela negara melalui pendidikan terpadu, antara sekolah, TNI, Kepolisian, dan praktisi untuk pelatihan dan pembinaan jangka panjang," ujarnya.
2. TNI perlu dukungan sumber daya dan kesiapan eskalasi kekuatan rakyat terlatih

Ribuan ASN yang berhasil menuntaskan gelombang kedua program Komcad tahun 2026. (IDN Times/Santi Dewi) Menurut Said, penguatan rakyat terlatih tidak berarti mengabaikan pembangunan kekuatan utama TNI. Dia menilai, TNI tetap membutuhkan dukungan sumber daya dan kesiapan rakyat terlatih, untuk menghadapi ancaman pertahanan yang semakin kompleks.
“Karena itu menghadapi ancaman pertahanan, TNI perlu dukungan sumber daya agar makin profesional, dan kesiapan eskalasi kekuatan rakyat terlatih," kata dia.
3. Rakyat terlatih tak cuma Komcad

Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin ketika memberikan pengarahan kepada para peserta gelombang II Komcad ASN di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. (www.instagram.com/@sjafrie.sjamsoeddin) Said berpandangan, rakyat terlatih tidak hanya berasal dari anggota Komcad. Kaum profesional juga dapat dilibatkan melalui konsep peer mentoring di bawah pembinaan TNI, untuk saling berbagi keahlian dan meningkatkan kapasitas menghadapi ancaman nonkonvensional.
“Rakyat terlatih bukan hanya mereka yang terlibat di Komcad, lebih dari itu adalah kesadaran inheren, yang melekat dari setiap warga negara, baik secara personal maupun kelembagaan dengan keahlian dan kapasitas masing masing, merasa terpanggil membantu berbagai ancaman pertahanan nasional," ujarnya.
4. Belajar dari negara lain

Kemnhan tetapkan 130 prajurit Komcad Berkuda di Monas, Jakarta, Rabu (1/10/2025). (ANTARA) Dalam tulisannya, Said menyebut sejumlah negara menerapkan berbagai model wajib militer, antara lain Korea Selatan, Turki, Brasil, Rusia, Aljazair, Armenia, Estonia, Israel, Finlandia, Swedia, Norwegia, Swiss, Singapura, dan Thailand. Malaysia disebut menerapkan pelatihan secara selektif melalui PLKN selama 45 hari.
“Terhadap warga negara Malaysia yang terpilih secara selektif oleh pemerintah, para pemuda usia 16 tahun ke atas wajibkan ikut Program Latihan Khidmas Negara (PLKN) selama 45 hari," kata dia
5. Ancaman pertahanan makin kompleks

Pemerintah resmi melepas sebanyak 2.109 calon Komponen Cadangan (Komcad) Aparatur Sipil Negara (ASN) dari 49 kementerian/lembaga. Upacara pelepasan calon ASN Komcad gelombang pertama ini digelar di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Said menilai, doktrin pertahanan semesta yang dirumuskan Jenderal A.H. Nasution pada 1953 masih relevan. Namun, spektrum ancaman berkembang dengan meluasnya perang asimetris dan perang hibrida. Karena itu, dia mendorong perpaduan kekuatan TNI dengan rakyat terlatih.
“Tanpa ragu, saya menjawabnya doktrin ini masih relevan, yang berbeda terletak pada kompleksitas ancaman, karena berkembangnya perang asimetri (asymatric war) dan perang hibrid (hybrid warfare) yang makin meluas," kata dia.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















