Dengan demikian, pembinaan fisik diharapkan tetap dilanjutkan untuk meningkatkan kedisiplinan dan olahraga.
Mendagri Tito Siap Dorong 552 Pemda Ikut Program Komcad ASN

- Mendagri Tito Karnavian siap menggerakkan 552 pemda agar ASN mengikuti program Komcad bertahap; Kemhan mencatat 2.245 ASN dari 50 kementerian atau lembaga telah lulus.
- Tito menilai latihan 37 hari dapat memperkuat disiplin, kebugaran, loyalitas, dan jaringan ASN, namun menegaskan Komcad tidak menggantikan fungsi TNI serta peserta tetap menjalankan tugas instansinya.
- Koalisi Masyarakat Sipil mendesak penyebab kematian ASN Kemenekraf Vareno Varkas Bagaskara saat pelatihan dibuka, disertai penyelidikan dugaan kelalaian, evaluasi, dan penghentian Komcad ASN.
Jakarta, IDN Times - Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, mengaku siap menggerakkan 552 pemerintah daerah (pemda) di seluruh Indonesia, agar ikut program komponen cadangan (Komcad) bagi aparatur sipil negara (ASN). Hal itu lantaran Tito melihat ada manfaat positif usai ASN ikut digembleng ala militer lewat komcad.
"Kami siap untuk menggerakkan 552 pemda di 38 provinsi, 415 kabupaten dan 98 kota, untuk melaksanakan latihan ini secara bertahap dan menyeluruh di Indonesia," kata Tito dalam acara penutupan program Komcad ASN gelombang kedua di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa (29/9/2026).
Berdasarkan data yang dibagikan Kementerian Pertahanan (Kemhan), ada 2.245 ASN telah dinyatakan lulus program ASN. Sebanyak 1.481 ASN merupakan pegawai laki-laki dan 761 lainnya perempuan. Mereka berasal dari 50 kementerian atau lembaga pemerintah.
Mantan Kapolri itu menjelaskan ribuan ASN yang digembleng selama 37 hari itu datang dari berbagai latar belakang profesi, jabatan, pendidikan, dan keahlian yang beragam. Keberagaman, kata Tito, merupakan kekuatan, karena pertahanan negara membutuhkan dari kapasitas nasional.
Dalam forum itu, Tito mengutip pernyataan yang pernah disampaikan Presiden Prabowo Subianto soal negara yang dapat mampu bertahan selama ratusan tahun. Tito menyebut ada tiga komponen utama yang membuat negara dapat bertahan ratusan tahun.
Pertama, negara tersebut memiliki militer yang kuat untuk menjaga negara, kedaulatan negara dari gangguan negara luar. Kedua, negara itu memiliki kepolisian atau intelijen yang kuat untuk menjaga keamanan, ketertiban, stabilitas dan keamanan di dalam negeri.
"Ketiga, negara tersebut memiliki aparatur sipil negara yang mampu menjalankan roda pemerintahan secara efektif dan efisien," tutur Tito.
1. Mendagri Tito nilai ASN perlu diberi latihan fisik

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (tengah) ketika ikut meninjau penutupan Komcad ASN gelombang kedua tahun 2026. (IDN Times/Santi Dewi) Tito juga menyinggung, ASN perlu diberikan latihan fisik, sebab latihan tersebut bisa bermanfaat bagi kesehatan. Hal itu berdasarkan konferensi di Amerika Serikat yang berjudul "The Real Cop Killer" yang diikutinya. Berdasarkan temuan yang dipaparkan dalam konferensi itu, polisi di AS banyak yang gugur bukan karena melawan kriminal, melainkan lantaran penyakit tidak menular.
"Sebagian besar meninggal karena sakit jantung dan stroke. Penyebab dari penyakit itu ada tiga, pertama makanan yang kurang sehat, kedua kebiasaan merokok, dan ketiga yakni lack of mobility atau kurang aktivitas fisik," ujar dia.
2. Komcad ASN bukan untuk menggantikan fungsi TNI di bidang pertahanan

Ribuan ASN yang berhasil menuntaskan gelombang kedua program Komcad tahun 2026. (IDN Times/Santi Dewi) Tito juga menggarisbawahi ASN yang ikut digembleng lewat program komcad bukan disiapkan untuk menggantikan peran TNI di bidang pertahanan. Komcad, kata dia, hanya digerakan sesuai aturan yang ditetapkan di dalam peraturan perundang-undangan.
"Komponen cadangan hanya dilaksanakan sesuai mekanisme mobilisasi yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Di luar mekanisme tersebut, saudara peserta pelatihan, tetap menjalankan tugas utama sebagai ASN pada instansi masing-masing," kata dia.
Tito menyebut ada poin positif yang dapat dirasakan ASN ketika mengikuti latihan dasar militer. Bahkan, tak ada sisi buruk bila ASN ikut latihan ala tentara. Sebab, ia berharap ASN, khususnya yang bertugas di Kementerian Dalam Negeri memiliki sikap disiplin, tepat waktu, loyalitas, memegang prinsip kebersihan, yang sudah menjadi nilai-nilai universal yang diterapkan di mana pun, termasuk lingkungan ASN bekerja.
"Hal positif selanjutnya, ASN yang ikut digembleng pasti akan membentuk jaringan. Sebab, ini adalah tempat yang baik untuk saling mengenal satu sama lain. Menemukan kawan baru, bertukar nomor ponsel, karena ASN dalam bertugas tidak bisa bekerja seorang diri," katanya.
3. Koalisi Masyarakat Sipil dorong penyebab kematian ASN Kemenekraf harus dibuka

ASN berusia 28 tahun yang bekerja di Kementerian Ekonomi Kreatif, Vanreko Varkas Bagaskara yang meninggal saat ikut komcad. (Tangkapan layar insta story akun medsos Kemenekraf) Namun, dalam sambutannya, Tito tidak menyinggung soal adanya seorang ASN yang meninggal dunia ketika menjalani latihan dasar militer gelombang kedua komcad. ASN tersebut diketahui bernama Vareno Varkas Bagaskara yang bekerja di Kementerian Ekonomi Kreatif.
Sejumlah lembaga sosial masyarakat (LSM) yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menyatakan, kematin Varenko seperti yang dialami lima calon manajer Kopdes (Koperasi Desa Merah Putih), yang meninggal ketika mengikuti latihan dasar militer. Rumah sakit yang menangani Varenko pada Sabtu lalu, 19 September 2026 menyatakan ASN berusia 28 tahun itu meninggal akibat terkena heatstroke.
"Kematian Varenko dan lima calon manajer Kopdes tidak boleh diperlakukan sebagai kecelakaan medis semata. Enam kematian itu menjadi satu rangkaian kebijakan yang menuntut pertanggung jawaban hukum, evaluasi menyeluruh dan penghentian program Komcad bagi ASN," ungkap Direktur Indonesia Risk Centre, Julius Ibrani, dalam keterangan, Selasa (29/9/2026).
Indonesia Risk Centre merupakan salah satu LSM yang tergabung dalam koalisi. Selain itu, mereka turut mendesak Kementerian Pertahanan untuk membuka penyebab medis kematian Varenko.
"Pemeriksaan tidak boleh berhenti begitu saja pada diagnosa medis. Aparat penegak hukum wajib menyelidiki dugaan kelalaian, pelanggaran prosedur, dan pihak yang bertanggung jawab," tutur dia.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















