Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gerindra: Prabowo Bakal Lanjut ke Hungaria dan Austria Setelah Prancis
Presiden RI Prabowo Subianto tiba di Istana Élysée, Paris, Prancis, Kamis (28/5/2026)/ (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden) .
  • Presiden Prabowo akan melakukan kunjungan ke Prancis, Austria, dan Hungaria pada akhir Mei 2026 untuk memperkuat posisi strategis Indonesia di bidang militer, industri, dan energi.
  • Kunjungan maraton Paris-Wina-Budapest dilakukan guna mengamankan investasi hilirisasi nikel serta kerja sama teknologi pertahanan sebelum momentum transisi kendaraan listrik terlewat.
  • Sugiat menegaskan diplomasi luar negeri Prabowo bertujuan menjaga keseimbangan geopolitik dan membangun fondasi jangka panjang agar Indonesia mandiri secara ekonomi dan kuat secara militer.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Prabowo pergi ke luar negeri. Dia ke Prancis, lalu mau ke Austria dan Hungaria. Katanya buat kerja sama supaya Indonesia makin kuat. Di Prancis ada teknologi militer hebat, di Austria banyak pabrik mesin, dan di Hungaria ada tempat bikin baterai mobil listrik. Sekarang Pak Prabowo masih jalan-jalan kerja itu biar cepat dapat hasil baik buat Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis, Austria, dan Hungaria menggambarkan upaya aktif Indonesia memperkuat posisi strategisnya di panggung global. Melalui diplomasi yang menekankan kemandirian ekonomi dan pertahanan, perjalanan ini menunjukkan keseriusan pemerintah membangun kemitraan berbasis saling membutuhkan, sekaligus mengamankan peluang investasi dan transfer teknologi penting bagi masa depan industri nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso mengungkapkan, selain Prancis, Presiden Prabowo Subianto akan berkunjung ke Austria dan Hungaria pada akhir Mei 2026 ini. Ketiga Negara ini dinilia memiliki posisi strategis yang dibutuhkan Indonesia.

"Ada tiga negara Eropa yang dikunjungi oleh Presiden Prabowo di Akhir Mei 2026 ini, yaitu Perancis, Austria, dan Hungaria. Ketiga Negara ini memiliki posisi strategis yang dibutuhkan Indonesia,” ujar Sugiat dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).

Sugiat mengatakan, alasan Prabowo saat ini ke Prancis karena negara ini mempunyai kekuatan militer dan teknologi terbesar di Eropa Barat. Menurut dia, Prancis bukan hanya menjual sistem persenjataan canggih atau memberikan komitmen strategis hanya karena pembeli memiliki uang.

"Kedekatan politik yang dibangun bertahap melalui kunjungan berulang adalah syarat mutlak dalam bekerja sama dengan Macron," kata dia.

1. Alasan Prabowo mau ke Austria dan Hungaria

Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron di Istana Élysée, Prancis, Kamis (28/5/2026) (dok. Sekretariat Presiden)

Sementara itu, Austria merupakan gerbang industri manufaktur presisi Eropa Tengah. Menurut dia, industri utamanya berpusat pada mesin, otomotif, pengolahan logam, bahan kimia, dan makanan/minuman.

Sedangkan Hungaria adalah pusat agresif pembangunan gigafactory baterai EV di Uni Eropa (tempat berkumpulnya raksasa seperti Samsung SDI dan CATL). Dia menyebut masuk ke Hungaria berarti mengunci posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai masa depan Eropa dari pintu yang paling terbuka.

Menurut dia, bila Indonesia menguasai 65 persen nikel dunia. Sementara Eropa (melalui gigafabrik di Hungaria/Budapest dan teknologi Austria/Wina) sangat butuh nikel Indonesia.

"Pak Prabowo datang ke sana bukan sebagai peminta-minta bantuan, tetapi sebagai pemilik komoditas strategis yang menentukan masa depan industri otomotif dunia," katanya.

2. Menunda perjalanan kehilangan momentum

Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron di Istana Élysée, Prancis, Kamis (28/5/2026) (dok. Sekretariat Presiden)

Sugiat mengungkapkan dunia saat ini sedang bertransisi ke kendaraan listrik. Namun, Indonesia punya waktu terbatas sebelum teknologi baterai bergeser ke bahan non-nikel.

Oleh karena itu, dia mengatakan bila Prabowo bergerak cepat secara maraton (Paris-Wina-Budapest) dalam satu bulan untuk mengunci investasi hilirisasi ini sebelum jendela peluangnya tertutup. Ia mengatakan, menunda perjalanan berarti kehilangan momentum emas.

Sugiat menerangkan sebuah negara tidak bisa mendikte dunia jika militernya lemah. Kunjungan berulang ke Paris adalah cara Prabowo membangun trust tingkat tinggi dengan Presiden Macron agar Indonesia diberi akses teknologi militer yang tidak sembarang negara bisa beli.

Oleh karena itu, Sugiat menegaskan bila penilaian perjalanan Presiden hanya dari ongkos tiket pesawat adalah cara berpikir yang tidak sebanding. Nilai transfer teknologi pertahanan, pengamanan kedaulatan di Laut Natuna Utara, dan posisi tawar Indonwsia sebagai kekuatan regional jauh lebih besar dari sekadar biaya operasional perjalanan.

"Kunjungan ke Prancis ini bukti nyata politik Bebas-Aktif yang berwibawa. Indonesia tidak mengekor ke Amerika, tidak tunduk ke China, dan tidak takut pada tekanan NATO saat berhubungan dengan Rusia demi mengamankan pasokan minyak dan LPG murah untuk rakyat," katanya.

3. Prabowo intens ke luar negeri demi jaga keseimbangan geopolitik

Presiden RI Prabowo Subianto tiba di Istana Élysée, Paris, Prancis, Kamis (28/5/2026)/ (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)

Dia menyatakan, Prabowo saat ini tidak sedang melakukan diplomasi seremonial atau sekadar tanda tangan di atas kertas. Kepala Negara sedang bertarung di panggung dunia untuk menaikkan kelas Indonesia dari negara berkembang menjadi kekuatan global yang mandiri secara ekonomi dan tangguh secara militer.

"Indonesia sedang dipimpin oleh seorang Patriot yang tahu persis bagaimana cara memenangkan kepentingan nasional di luar negeri. Menilai keberhasilan diplomasi internasional dari hasil beberapa minggu atau bulan adalah cara berpikir yang tidak logis," kata Legislator asal Sumatra Utara itu.

Sugiat mengatakan komitmen, transfer teknologi, dan investasi yang dikunci di Paris, Wina, dan Budapest adalah fondasi jangka panjang yang hasilnya baru akan terlihat nyata dalam hitungan tahun ke depan.

"Pak Prabowo adalah seorang negarawan. Negarawan memberikan apa yang dapat diberikan kepada negara, sedangkan politisi mencari apa yang bisa diperoleh dari negara," kata dia.

Editorial Team

Related Article