Jakarta, IDN Times - Kementerian Pertahanan mengatakan sudah mulai menerapkan kebijakan baru di dalam latihan dasar bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang akan mengelola koperasi dan kampung nelayan. Format pelatihan tidak lagi memasukan unsur militer seperti sebelumnya. Puluhan ribu peserta hanya diberikan materi bela negara dan manajerial koperasi.
"Saat ini kegiatan diarahkan menjadi kegiatan pembekalan bela negara dan manajerial. Tujuannya bukan untuk membentuk peserta atau prajurit menjadi komcad, melainkan membangun karakter disiplin, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, tanggung jawab, kerja sama serta kesiapan manajerial sebagai pengelola koperasi," ungkap Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait di dalam keterangan video yang diterima IDN Times pada Rabu (1/7/2026).
Usai dilakukan evaluasi, materi teknis militer dan taktis sudah dihilangkan. Hal itu termasuk kemampuan menembak, taktis regu senapan dan kegiatan taktis militer lainnya. Jenderal bintang satu itu memastikan tidak ada lagi latihan militer yang diberikan kepada puluhan ribu peserta SPPI.
"Aktivitas yang ada hanya bersifat olahraga ringan untuk menjaga kebugaran seperti senam pagi atau jalan kaki ringan dengan tetap menyesuaikan kondisi masing-masing peserta," tutur dia.
Evaluasi ini dilakukan usai lima peserta SPPI meninggal di waktu berdekatan pada akhir Juni 2026. Mereka tutup usia karena beragam faktor medis. Ada pula peserta yang memiliki riwayat kesehatan sebelumnya.
Lantaran hal tersebut, publik pun mendesak agar latsar militer disetop dan langsung masuk ke materi manajerial koperasi. Tetapi, Kemhan tetap melanjutkan latsar dengan mengubah format kegiatan.
