Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cerita Calon Manajer Kopdes Pengidap Skoliosis Tetap Ikut Bela Negara

Cerita Calon Manajer Kopdes Pengidap Skoliosis Tetap Ikut Bela Negara
Peserta SPPI asal Riau, Langgeena Salehane memiliki riwayat skoliosis dan tetap ikut program bela negara di satdik Dikkes Kesad. (IDN Times/Santi Dewi)
Intinya Sih
  • Gina, peserta SPPI asal Riau dengan skoliosis, tetap mengikuti program bela negara dan calon manajer koperasi meski memiliki keterbatasan fisik, dengan dukungan pemeriksaan kesehatan rutin dari tim medis.
  • Pusdikkes Puskes AD menegaskan materi pengenalan senjata kini hanya bersifat umum dan kegiatan fisik diminimalkan, fokus pada pelatihan kepemimpinan serta manajerial sesuai kurikulum Kementerian Pertahanan.
  • Akses komunikasi peserta dengan keluarga dibatasi selama pelatihan, namun tetap diberikan dua hari setiap pekan dan dapat diperluas bila ada kebutuhan mendesak melalui pembina atau kunjungan langsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Memiliki riwayat penyakit skoliosis bukan penghalang bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) asal Riau Langgeena Salehane. Perempuan yang akrab disapa Gina itu tetap berupaya mencari pekerjaan dan melamar menjadi calon manajer koperasi atau kelurahan desa merah putih. Ia pun mengaku tetap merasa aman lantaran saat berada Pusat Pendidikan Kesehatan Puskes AD karena tak dipaksa mengikuti latihan fisik.

"Untuk kami yang sakit, tidak dipaksakan di sini untuk kegiatan fisiknya, terutama ketika kami sudah lelah atau merasa gak sanggup lagi untuk melanjutkannya. Saya dipersilakan untuk duduk," ungkap Gina ketika ditemui di Pudikkes Puskesad, Selasa (30/6/2026).

Ia menjelaskan, lantaran adanya riwayat skoliosis terjadi penyempitan diafragma. Sehingga, nafasnya lebih pendek dan mudah lelah saat berjalan dalam waktu lama.

Perempuan berusia 23 tahun itu sudah tahu kondisi tersebut pada 2025. Gina juga sudah menyampaikan ke tim pemeriksa kesehatan sebelum mengikuti pembekalan bela negara dan manajerial.

"Saya sudah tahu riwayat kesehatan ini sebelum ikut program ini. Bahkan, pada saat pemeriksaan kesehatan pun, saya sudah sampaikan bahwa saya punya riwayat penyakit ini," tutur dia.

1. Tim kesehatan memeriksa peserta secara rutin

Cerita Calon Manajer Kopdes Pengidap Skoliosis Tetap Ikut Bela Negara
Kegiatan pemberian materi di dalam kelas bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di Pusat Pendidikan Kesehatan Puskesad, Kramat Jati, Jakarta Timur. (IDN Times/Santi Dewi)

Berdasarkan data dari Pusat Pendidikan Kesehatan Puskes AD, selain Gina, ada pula 11 peserta lainnya yang memiliki riwayat kesehatan khusus. Untuk memudahkan pengawasan, mereka diberi pita putih di lengan sebelah kiri.

Selain itu, ada pula dua peserta yang sedang hamil delapan minggu yang masih bertahan untuk mengikuti latsar di Pusdikkes Puskesad. Mereka memilih bertahan karena latsar tersebut menjadi penentu kelulusan menjadi pengelola koperasi.

Gina mengaku mendapat pengalaman baru terkait kedisiplinan ketika mengikuti latsar di Pusdikkes Puskesad. Kehidupannya menjadi lebih teratur.

"Buat saya pribadi kesan yang saya dapatkan selama saya menjalani pendidikan di sini itu yang paling terasa itu tentang kedisiplinan. Soalnya biasanya kan kita kalau di rumah bebas mau bangun jam berapa, makan jam berapa, dan lain-lainnya. Sementara di sini itu kita sudah diatur dan segini harus kegiatan A, B, C. Kemudian makannya tiga kali sehari," tutur dia.

Meskipun jadwalnya padat dari pagi hingga malam hari, tim kesehatan rutin memeriksa kondisi dirinya dan para peserta lain yang memiliki riwayat penyakit khusus.

2. Pudikkes Puskes AD akui peserta sempat diberikan materi pengenalan senjata

Shohibul Hilmi
Komandan Pusat Pendidikan Kesehatan (Danpusdikkes) Pusat Kesehatan TNI AD (Puskesad), Kolonel Ckm Dr. dr. Shohibul Hilmi. (IDN Times/Santi Dewi)

Sementara, IDN Times sempat tanyakan kepada Komandan Pusat Pendidikan Kesehatan Puskes AD, Kolonel Ckm Dr. dr. Shoihibul Hilmi, soal materi pengenalan senjata yang sempat diberikan kepada peserta. Shohibul menyebut kurikulum tersebut sudah ditentukan oleh Kementerian Pertahanan. Maka, Pusdikkes Puskes AD tinggal menjalankan saja. Namun, materi itu, kata perwira menengah di TNI AD itu sudah ditiadakan.

"Pemeriksaan senjata atau pengetahuan tentang senjata yang disampaikan hanya secara umum saja. Mereka dikenalkan bahwa senjata-senjata itu biasa digunakan untuk apa saja. Jadi, secara umum," katanya.

Ia menambahkan, sejak adanya evaluasi terhadap program latihan dasar, aktivitasnya minim kegiatan fisik. Bahkan, aktivitas terakhir berupa apel malam sudah selesai pukul 20.00 WIB.

"Sementara, materi yang diajarkan di dalam kelas terkait dengan materi-materi kepemimpinan dan manajerial," tutur dia.

3. Akses komunikasi ke keluarga diberikan pada akhir pekan

SPPI, Kemhan, Kopdes
Peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang digembleng di Pusdikkes Puskes Angkatan Darat (AD). (IDN Times/Santi Dewi)

Shohibul pun mengakui ada pembatasan akses komunikasi terhadap telepon genggam peserta. Mereka baru diberikan akses ke ponsel pada akhir pekan saja.

"Dalam satu minggu, kami berikan kesempatan dua hari untuk berhubungan dengan keluarga," katanya.

Ia menggarisbawahi Pusdikkes Puskes AD tak pernah berniat untuk memutus tali silaturahmi dengan keluarga. Seandainya peserta memiliki kepentingan untuk berkomunikasi di luar jadwal yang telah ditentukan, maka tetap diberikan.

"Misalnya ada anaknya yang masih sekolah ingin komunikasi, kami berikan akses lewat pembina," tutur dia.

Pusdikkes Puskes AD pun mempersilakan bila keluarga ingin menjenguk anggota keluarganya yang sedang mengikuti latsar. Mereka menyediakan tempat khusus bagi tamu.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More