Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Usai Evaluasi, Kemhan Coret Latihan Menembak dari Latsar Kopdes

Usai Evaluasi, Kemhan Coret Latihan Menembak dari Latsar Kopdes
Peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang digembleng di Pusdikkes Puskes Angkatan Darat (AD). (IDN Times/Santi Dewi)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Kementerian Pertahanan menghapus latihan menembak dan kegiatan taktis militer dari program Latsar Kopdes Merah Putih setelah evaluasi atas insiden meninggalnya lima peserta di satuan pendidikan TNI.
  • Program kini difokuskan pada pembekalan bela negara, kepemimpinan, kerja sama, dan manajerial tanpa unsur pembentukan prajurit atau komponen cadangan; aktivitas fisik terbatas pada baris-berbaris.
  • Peserta menyampaikan duka atas lima rekan yang wafat namun tetap merasa aman karena adanya pengawasan kesehatan ketat serta fasilitas medis di lingkungan pelatihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kementerian Pertahanan (Kemhan) meniadakan latihan menembak dan kegiatan taktis militer dalam program latihan dasar militer (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Ini merupakan bagian program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).

Penghapusan dilakukan sebagian bagian dari evaluasi program latihan dasar militer yang menyebabkan lima peserta meninggal dunia di beberapa satuan pendidikan TNI. Implementasi kebijakan itu dilakukan sejak Sabtu, 28 Juni 2026.

"Kegiatan saat ini tidak lagi ditekankan sebagai latsarmil, tetapi diarahkan menjadi latihan pembekalan bela negara dan manajerial. Dari sisi aktivitas, materi yang bersifat teknis dan taktis militer dikurangi, termasuk kegiatan menembak dan kegiatan lain yang tak relevan langsung dengan kebutuhan calon manajer koperasi," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait, kepada IDN Times melalui pesan pendek, Senin, 29 Juni 2026.

Latihan menembak merupakan salah satu aktivitas yang diajarkan sejak program Komcad bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pengelola dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Bagi peserta yang lulus program ini, mereka masuk barisan komponen cadangan (Komcad). Sedangkan, calon manajer Kopdes Merah Putih kini tidak dilatih menjadi Komcad.

"Penyesuaian ini dilakukan untuk memperjelas bahwa tujuan kegiatan bukan membentuk peserta menjadi prajurit atau Komcad. Melainkan membangun karakter, disiplin, kepemimpinan, kerja sama, wawasan kebangsaan serta kesiapan manajerial sebagai calon pengelola Kopdes Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih," tutur jenderal bintang satu itu.

1. Calon manajer kopdes mengakui dapat materi pengenalan senjata

Usai Evaluasi, Kemhan Coret Latihan Menembak dari Latsar Kopdes
Peserta SPPI asal Riau, Tiara Novelia yang mengikuti program calon manajer kopdes merah putih di Pusdikkes Puskes AD. (IDN Times/Santi Dewi)

IDN Times mendapat kesempatan berkunjung ke satuan pendidikan TNI yang berlokasi di Pusat Pendidikan Kesehatan Puskes AD di Kramat Jati, Jakarta Timur. Di sana, ada 229 calon manajer Kopdes Merah Putih yang berasal dari berbagai daerah. Semua peserta yang digembleng di sana merupakan perempuan.

SPPI asal Riau, Tiara Novelia, menyebut salah satu materi yang diperkenalkan kepada peserta sebelum dilakukan penyesuaian, adalah pengenalan senjata ringan. Ia sempat memegang pistol Glock 19.

"Senjata ringan yang dikenalkan itu Glock 19," kata Tiara kepada IDN Times.

Tiara juga mengklarifikasi mengenai aktivitas yang viral di media sosial, di mana peserta harus merayap di dalam gorong-gorong. Aktivitas itu semula merupakan bagian dari pengenalan senjata ringan.

"Itu materi kami dari senjata ringan. Kami juga diajarkan cara melawan musuh, sembunyi-sembunyi, merayap. Termasuk cara melawan musuh. Jadi masuk ke dalam gorong-gorong itu bagian dari strategi bersembunyi. Itu di depan paving block," tutur dia.

Tak hanya itu, Tiara juga membenarkan pelatihan kamuflase dengan tanaman yang sempat viral. Namun, dia menyebutkan, di Pusdikkes Kesad, ia tak perlu melakukan kamuflase, sebab di satuan pendidikan tersebut terdapat banyak pohon sebagai tempat sembunyi.

"Karena di sini situasinya masih banyak pohon, jadi sembunyi di balik pohon," imbuhnya.

2. Kegiatan fisik yang diajarkan kini hanya baris berbaris

Usai Evaluasi, Kemhan Coret Latihan Menembak dari Latsar Kopdes
Kegiatan pemberian materi di dalam kelas bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di Pusat Pendidikan Kesehatan Puskesad, Kramat Jati, Jakarta Timur. (IDN Times/Santi Dewi)

Tiara mengaku sudah mendengar adanya penyesuaian aktivitas di lapangan, usai adanya evaluasi dari Kemhan. Tetapi mereka belum mendapat penjelasan dari komandan satuan pendidikan, apa saja penyesuaian yang hendak dilakukan.

"Memang pada Senin malam sudah ada kegiatan yang diubah. Masih komandan yang masih mengevaluasi kegiatan kami," katanya.

Selama menjalani pendidikan di Satdik Pusdikess Puskes AD, Tiara dipercaya menjadi ketua senat. Posisi tersebut setara komandan batalyon di militer.

Tiara mengatakan saat ini aktivitas fisik yang dilakukan peserta hanya tersisa baris berbaris. "Kami kan baru dua minggu masuk di sini, jadi aktivitas fisiknya tinggal PBB (peraturan baris berbaris)," tutur dia.

Pelatih memberikan teori PBB di dalam ruangan, dan praktiknya dilakukan di lapangan.

3. Peserta berduka cita karena lima calon manajer Kopdes meninggal dunia

Usai Evaluasi, Kemhan Coret Latihan Menembak dari Latsar Kopdes
Kegiatan pemberian materi di dalam kelas bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di Pusat Pendidikan Kesehatan Puskesad, Kramat Jati, Jakarta Timur. (IDN Times/Santi Dewi)

Tiara juga mengucapkan duka cita karena lima rekannya meninggal dunia. Namun, ia tak khawatir mengikuti program latsarmil meski sudah ada korban jiwa.

"Kalau untuk kekhawatiran, saya pribadi merasa untuk kesehatan, kami merasa di sini aman. Komandan dan pembina mengatakan sedikit saja ada kondisi yang enak, silakan sampaikan. Kami di sini kan juga punya klinik. Di sini juga disiapkan tim kesehatan," tutur dia.

Seandainya dibutuhkan rawat inap, kata Tiara, tersedia rumah sakit yang lokasinya di samping Satdik Pusdikkes Kesehatan AD.

Apakah masih ada hukuman fisik kepada peserta yang melanggar aturan? Tiara membenarkan. Salah satu contohnya jika peserta terlambat menghadiri apel pagi.

"Bila ada satu yang telat (apel pagi). Hukumannya diminta tiarap, biasa. Squad jump juga bisa," imbuhnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya

Related Articles

See More