Diblokade Rusia, Ukraina Kehilangan Sebagian Besar Ekspor Pertanian

- Ukraina hanya mengekspor 30 persen produksi pertanian akibat blokade Rusia di Pelabuhan Odessa; selama dua pekan, pengiriman produk pertanian tercatat 590 ribu ton.
- Blokade memperberat petani karena produk sulit dipasarkan, sementara kapal kargo menghindari Ukraina akibat ancaman rudal dan rute darat lebih mahal serta berkapasitas terbatas.
- Ukraina dan Moldova membangun koridor kereta api untuk ekspor biji-bijian, menyusul serangan Rusia ke fasilitas pelabuhan; rute ini diperkirakan menangani sekitar 10 persen ekspor pertanian.
Jakarta, IDN Times - Menteri Kebijakan Agraria dan Pangan Ukraina, Taras Vysotsky mengatakan bahwa negaranya hanya mampu mengekspor 30 persen dari total produksi pertanian pada Senin (17/8/2026). Kurangnya ekspor ini disebabkan oleh blokade Rusia di Pelabuhan Odessa.
Dalam 2 pekan terakhir, Ukraina hanya mampu mengekspor 590 ribu ton produk pertanian. Pemerintah Ukraina masih mencari rute alternatif untuk mengirimkan produk pertanian Ukraina ke pasar internasional.
1. Petani Ukraina terdampak besar blokade Rusia

suasana ladang pertanian di Polandia (unsplash.com/jwvein) Direktorat Jenderal Konfederasi Agraria Ukraina, Pavlo Koval mengatakan bahwa situasi yang dihadapi petani Ukraina cukup sulit. Sebab, banyak produk pertanian Ukraina yang tidak dapat dipasarkan ke sejumlah negara.
“Sekitar 65 juta ton akan diekspor dalam setahun, yang artinya 6 juta ton setiap bulan. Meskipun jika kita tingkatkan ekspor lebih cepat lewat rute alternatif, kami hanya akan memenuhi 45-50 persen warga yang membutuhkan,” terangnya, dikutip dari EFE.
Sementara, sulitnya akses ekspor akan membuat tekanan besar kepada petani yang membutuhkan dana untuk membayar utang. Selain itu, mereka membutuhkan yang untuk mempersiapkan lahan saat musim dingin.
2. Kapal kargo hindari masuk ke Ukraina

ilustrasi kapal barang (unsplash.com/carrier_lost) Dilansir The Kyiv Independent, sebenarnya Laut Hitam tidak ditutup secara resmi, tapi kapal kargo menghindari Ukraina karena takut dihantam rudal. Sejak Juni, Rusia sudah meningkatkan serangan ke kapal sipil serta fasilitas pelabuhan untuk menekan Ukraina.
Hingga saat ini belum ada solusi pasti untuk menangani blokade Rusia di Laut Hitam. Sebab, rute darat belum mampu mengirimkan volume sebesar saat melalui Laut Hitam dan lebih mahal. Belum lagi kekeringan di Sungai Danube berdampak sulitnya akses transportasi air.
3. Ukraina dan Moldova bangun koridor kereta baru untuk ekspor biji-bijian

ilustrasi kereta api barang (unsplash.com/matthanns) Pekan lalu, Ukraina dan Moldova sudah bekerja sama untuk membangun koridor kereta api ekspor biji-bijian. Kerja sama ini bertujuan untuk mengatasi masalah keamanan transportasi dari Ukraina ke sejumlah negara di dunia.
Dilansir Ukraine Business News, kebutuhan koridor kereta api tambahan semakin tinggi sejak Rusia melanjutkan serangan ke fasilitas pelabuhan di Ukraina. Pakar menyebut bahwa rute dari Moldova ini dapat mengangkut hingga 4,5 juta ton per hari atau sekitar 10 persen dari ekspor pertanian.





















