Pelabuhan Internasional Belawan New Container Terminal (BNCT) di Sumatra Utara (dok. INA)
Membawa investor internasional ke Indonesia melalui INA bukan perkara mudah. INA terus membangun kepercayaan dengan eksekusi yang konsisten, transparan, dan good governance. Ridha bercerita, ia dan tim harus berulang kali meyakinkan para investor bahwa Indonesia memiliki banyak sekali proyek yang menguntungkan dan sekaligus memiliki dampak positif.
Dalam memilih investasi, INA juga tidak sembarangan. INA hanya melakukan impact investing, dimana aspek development bagi Indonesia dan aspek commercial harus dipenuhi. Pemenuhan aspek ini menjadi win-win solution bagi semua pihak.
“Kita sudah berinvestasi sebanyak 25 kali atau deals. Sudah exit 3 dengan hasil yang baik sekali. Berpartner dengan 40 partners dari 15 negara, seperti dana pensiun, SWF, asset managers, insurance companies, strategic companies, private equities. Jadi, cukup bervariasi dan mereka yakin mau berinvestasi di Indonesia,” ujar Ridha dalam Real Talk bersama Editor In Chief IDN Times Uni Lubis, (20/12).
INA hingga saat ini sudah menginvestasikan dana sebesar Rp73 triliun. Tiap tahunnya, INA menggelontorkan dana antara Rp15 hingga Rp16 triliun di sektor-sektor unggulan.
Ada 5 sektor yang menjadi fokus investasi INA, yaitu Transport, Logistic & Infrastructure, Digital, Green Energy & Blue Economy, Healthcare, dan Advanced Materials. Salah satu contoh sukses hasil investasi INA di sektor digital adalah pembangunan data center di Batam. Ridha menyebut, data center terbesar di Indonesia ini sudah 100 persen laku. Bahkan data center yang dibangun bersama DayOne ini juga menggunakan chip NVIDIA Blackwell B1, pertama di Asia Tenggara, fokus untuk pengembangan Artificial Intelligence
Di sektor healthcare, INA juga berinvestasi pada pembangunan pabrik Plasma Darah di Karawang yang sudah mencapai 98 persen selesai. Pabrik ini akan menyuplai kebutuhan plasma darah yang menjadi bahan ketahanan kesehatan yang sangat penting.
Sementara itu, INA juga berinvestasi di advanced material bersama mitra strategis dari China dan Korea di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal. Proyek material katoda Lithium Ferro Phosphate (LFP) yang digarap oleh INA ini menjadi fasilitas LFP terbesar di luar China.