TNI AU menggelar Workshop Liputan di Daerah Konflik Bagi Jurnalis Media Massa yang digelar di Brigade Parako 1 Pasgat, Jakarta Timur pada Kamis (11/6/2026) hingga Jumat (12/6/2026). IDN Times berkesempatan menjajal langsung pelatihan ini (Dok. Dinas Penerangan Angkatan Udara)
Jika perang kota menghadirkan ancaman dari balik tembok dan sudut ruangan, patroli hutan menawarkan tantangan berbeda. Siang itu, sekitar 30 jurnalis bersama prajurit Korpasgat menyusuri area kebun yang dipenuhi ilalang tinggi dan pepohonan rindang. Dua regu bergerak beriringan, sementara prajurit di bagian depan bertugas memastikan jalur aman dari ancaman musuh.
Tidak ada percakapan santai. Setiap peserta diminta tetap siaga dan menjaga suara serendah mungkin. Beberapa kali langkah harus terhenti, karena instruksi dari komandan regu. Saat suara tembakan terdengar, seluruh peserta diminta segera mencari perlindungan.
Tubuh menempel ke tanah, bersembunyi di balik gundukan tanah dan rerumputan. Dalam posisi seperti itu, tantangan ternyata bukan hanya ancaman musuh.
Serangga-serangga kecil mulai muncul dari sela rerumputan.
"Ada laba-laba di belakang rompi," ujar seorang jurnalis kepada rekannya.
Di sudut lain, terdengar bisikan lain yang tak kalah jujur. "Gatel-gatel banget siku tangan, dan leher."
Namun, ketika suara rentetan tembakan kembali terdengar dari kejauhan, rasa gatal itu tak ada apa-apanya.
Kami bersembunyi di sebuah cekungan tanah. Di sekeliling, para prajurit TNI berjaga sambil membalas tembakan simulasi. Suara ledakan dan rentetan senjata terdengar bertubi-tubi.
Pada momen itu, keinginan untuk mengambil gambar nyaris hilang sepenuhnya. Pikiran hanya tertuju pada satu hal: bagaimana tetap aman.
Setelah situasi dinyatakan kondusif, seluruh peserta kembali berkumpul. Saatnya Evaluasi.
Salah satu catatan dari instruktur Korpasgat adalah para jurnalis masih keliru dan lambat saat merespons suara tembakan. Seharusnya, begitu mendengar tembakan, langkah pertama adalah langsung tiarap, bukan berlari mencari perlindungan.
Pelatihan akhirnya berakhir sore itu. Namun, yang tersisa bukan hanya catatan dan dokumentasi, melainkan juga pemahaman baru tentang beratnya tugas para prajurit yang menjaga kedaulatan negara.
Sebab, setelah dua hari mengenakan helm dan rompi tempur, berjalan di bawah terik matahari, merunduk, berlari, hingga tiarap di tanah, rasa pegal di pundak dan pinggang saja sudah cukup menguras tenaga.
Sulit membayangkan bagaimana para prajurit TNI harus menjalani semua itu dalam operasi yang sesungguhnya, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, dengan risiko yang jauh lebih nyata daripada sekadar simulasi. Di sanalah rasa hormat itu tumbuh, bukan dari cerita, melainkan dari pengalaman yang dirasakan sendiri.
Respect buat prajurit TNI, terima kasih TNI AU atas kesempatannya mencoba pengalaman baru ini!