Kapolri Tunjuk Brigjen Sumy Hastry Jadi Karodokpol Pusdokkes Polri

- Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menunjuk Brigjen dr Sumy Hastry Purwanti sebagai Karodokpol Pusdokkes Polri melalui Surat Telegram Nomor ST/1584/VII/KEP./2026.
- Hastry, lulusan kedokteran dan spesialis forensik UNDIP, merupakan polwan pertama di Asia bergelar doktor forensik serta naik pangkat menjadi brigadir jenderal pada Juli 2024.
- Dalam kariernya, Hastry terlibat dalam berbagai tim forensik dan DVI, termasuk Bom Bali I, kecelakaan pesawat, bencana alam, serta membentuk layanan Forensik Klinik bagi korban kekerasan seksual.
Jakarta, IDN Times - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menunjuk Polwan ahli forensik Brigjen dr Sumy Hastry Purwanti menjadi Karodokpol Pusdokkes Polri.
Pengangkatan Brigjen Hastry tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor: ST/1584/VII/KEP./2026, Jumat (31/7/2026). Hastry sebelumnya menjabat Karolabdokkes Pusdokkes.
"Karolabdokkes Pusdokkes Polri diangkat dalam jabatan baru sebagai Karodokpol Pusdokkes Polri," demikian bunyi Surat Telegram Kapolri.
1. Profil Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti

Sumy Hastry Purwanti lahir di Jakarta pada 23 Agustus 1970. Dia merupakan lulusan sarjana kedokteran di Universitas Diponegoro (UNDIP) pada 1995.
Di kampus yang sama dia mendapatkan gelar dokter setelah dua tahun, dan memutuskan untuk menjadi polwan pada 1998. Di tahun tersebut, dia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SEPA) Polri dan menjadi seorang polwan.
Selain itu, pada 2002 hingga 2005 dia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil spesialis forensik di UNDIP, lalu menyelesaikan pendidikan doktoralnya di 2016. Dia juga pernah bertugas sebagai Pasi Polipol Dis Dokkes Polda Jateng pada 1999.
2. Polwan pertama di Asia yang bergelar doktor forensik

Karier dalam kepolisian dimulai sejak dia bertugas sebagai Pasi Polipol Dis Dokkes Polda Jateng pada 1999 dan bertugas sebagai Kaur Dokkes Polwiltabes Semarang pada 2005.
Pada 2003 dia juga pernah mengikuti Postgraduate Training-Course Forensic Medicine, dan kursus DVI di Singapura tahun 2006. Satu tahun berikutnya dia mengikuti kursus DNA di Malaysia, lalu kursus identifikasi luka ledakan di Perth, Australia pada 2011.
Hastry diketahui merupakan polwan pertama di Asia yang bergelar doktor forensik. Dia juga menerima kenaikan pangkat menjadi Brigadir Jenderal pada Juli 2024. Kenaikan pangkat tersebut tertuang dalam surat Telegram Nomor STR/1768/VI/KEP/2024 dan Telegram Nomor STR/1686/VI/KE.
Dia juga pernah bertugas di luar negeri sebagai tim DVI Bushfire Melbourne tahun 2009 dan tim DVI Laka Pesawat MH-17 tahun 2014.
3. Menjadi tim forensik di banyak kasus

Pada 2002, Hastry bertugas sebagai Tenaga Dokkes Investigasi Kepolisian Utama Pusdokkes Polri dan menjadi anggota tim forensik dalam mengidentifikasi korban Bom Bali I pada tahun tersebut.
Hastry pernah terlibat sebagai tim forensik lainnya, seperti Tim DVI Korban gempa bumi Yogyakarta tahun 2006, Tim DVI Korban kapal KM Senopati Nusantara tahun 2006, Tim DVI Korban Garuda Air Crash – Yogyakarta tahun 2007 dan Tim DVI Korban Kapal Tenggelam Kapal Imigran Gelap tahun 2011 serta saat penanganan jenazah erupsi gunung Semeru tahun 2021.
Juga, Tim DVI Korban Pesawat Sukhoi SSJ-100 Gunung Salak – Bogor tahun 2012, Tim DVI Korban Pesawat Air Asia tahun 2015, Tim DVI Korban Pesawat MH17 di Rusia tahun 2014, dan TIM Eksekusi Terpidana Mati di Nusa Kambangan tahun 2008–2016.
Selain itu, dia juga membuat layanan Forensik Klinik (Forklin) secara khusus, demi keberpihakannya kepada korban kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.


















