Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karakter Gunung Api Tak Sama, Bagaimana Cara Mitigasi Erupsi?
ilustrasi gunung erupsi (pexels.com/Diego Girón)
  • Sejumlah erupsi pada awal September 2026 menutup delapan bandara akibat abu vulkanik, tetapi aktivitas bersamaan tidak berarti Indonesia memasuki fase erupsi nasional.
  • Mitigasi perlu pemantauan 24 jam per gunung, mencakup kegempaan, deformasi, gas, dan visual, lalu diterjemahkan menjadi zona bahaya, evakuasi, serta komunikasi risiko.
  • Masyarakat sekitar gunung perlu edukasi dan kesiapsiagaan jalur evakuasi dengan pendekatan multi-bahaya, sementara pemerintah pusat dan daerah mempercepat keputusan berbasis data.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
awal September 2026

Sejumlah gunung berapi di Indonesia erupsi hingga menyebabkan delapan bandara ditutup karena abu vulkanik berbahaya bagi penerbangan.

Jumat

Prof Agung Harijoko menekankan mitigasi melalui pemantauan aktivitas gunung api, edukasi masyarakat, dan pemahaman jalur evakuasi sesuai karakter tiap gunung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sejumlah gunung api di Indonesia mengalami erupsi pada awal September 2026, dengan abu vulkanik menyebabkan delapan bandara ditutup. Ahli menekankan mitigasi berbasis karakter dan bahaya spesifik tiap gunung.
  • Who?
    Prof Agung Harijoko dari UGM, anggota IABI Daryono, pemerintah pusat, pemerintah daerah, petugas pengamatan gunung api, serta masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar gunung api.
  • Where?
    Indonesia, terutama kawasan di sekitar gunung api aktif. Delapan bandara terdampak penutupan akibat abu vulkanik, namun lokasi bandara yang ditutup per saat ini masih belum diketahui.
  • When?
    Erupsi terjadi pada awal September 2026. Keterangan mengenai mitigasi dan kondisi aktivitas gunung disampaikan pada 11 September 2026.
  • Why?
    Mitigasi diperlukan karena tiap gunung api memiliki sistem magmatik dan potensi bahaya berbeda, termasuk awan panas, lava, batu pijar, hujan abu, gas vulkanik, lahar, serta potensi gangguan laut pada gunung dekat laut.
  • How?
    Mitigasi dilakukan melalui pemantauan 24 jam terhadap kegempaan, deformasi, emisi gas, dan kondisi visual; penetapan zona bahaya; edukasi; jalur evakuasi; pengungsian; komunikasi risiko cepat; serta pendekatan multi-hazard.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Awal September 2026, beberapa gunung api di Indonesia meletus dan delapan bandara ditutup karena abu berbahaya untuk pesawat. Pak ahli bilang tiap gunung berbeda. Gunung harus dipantau terus. Orang yang tinggal dekat gunung perlu belajar tentang letusan dan jalan pergi aman. Banyak gunung meletus bukan berarti semua gunung saling membuat meletus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Keragaman karakter gunung api mendorong mitigasi yang lebih cermat dan berbasis kondisi lokal. Pemantauan 24 jam, pemetaan zona bahaya, serta komunikasi risiko yang cepat memberi landasan bagi keputusan keselamatan yang lebih terarah. Peran pemerintah pusat dan daerah yang saling melengkapi juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman yang dapat muncul bersamaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pada awal September 2026, sejumlah gunung berapi di Indonesia mengalami erupsi hingga menyebabkan delapan bandara ditutup. Sebab, abu vulkaniknya dianggap berbahaya bagi sistem penerbangan.

Guru Besar Ilmu Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Agung Harijoko, mengatakan, salah satu kegiatan mitigasi yang dilakukan serempak di seluruh dunia adalah dengan melakukan pemantauan aktivitas gunung.

"Mitigasi bencana gunung api pada umumnya yang dilakukan di seluruh dunia dilakukan dengan cara melakukan pemantauan aktivitas gunung api. Oleh karena itu keberadaan pos pengamatan atau Balai Pengamatan gunung api akan sangat membantu dalam mitigasi bencana gunung api," ujar Agung kepada IDN Times, dikutip Jumat (11/9/2026).

Menurut dia, mitigasi yang harus dilakukan juga adalah memberikan edukasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar gunung berapi mengenai apa itu erupsi hingga memahami jalur evakuasi. Sebab, kata Agung, setiap gunung berapi memiliki karakter yang berbeda.

"Namun ada hal yang tidak kalah pentingnya adalah kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di lingkungan gunung api. Pada dasarnya setiap gunung api mempunyai sistem dapur magma sendiri sehingga penanganan terhadap gunung api dilakukan per gunung api," ujar dia.

1. Indonesia tidak masuk pada fase erupsi nasional

ilustrasi gunung erupsi (pexels.com/Suhairy Tri Yadhi)

Secara terpisah, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan, meski sejumlah gunung di Indonesia mengalami erupsi, hal itu tidak bisa dianggap sebagai fase erupsi nasional. Apalagi, erupsi dianggap memicu aktivitas gunung yang lain.

"Aktivitas beberapa gunung api secara bersamaan tidak otomatis berarti Indonesia sedang memasuki fase “erupsi nasional” atau bahwa satu gunung memicu gunung lainnya. Indonesia memang memiliki banyak gunung api aktif, karena berada pada zona subduksi dan pertemuan lempeng yang sangat aktif. Aktivitas masing-masing gunung pada dasarnya dikontrol oleh sistem magmatik lokal sehingga harus dianalisis berdasarkan parameter masing-masing gunung," kata dia.

Daryono menjelaskan, potensi bahaya erupsi pada setiap gunung berapi. Oleh karena itu, diperlukan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung berapi aktif.

"Potensi bahayanya juga berbeda, erupsi dapat menghasilkan awan panas, lava, lontaran batu pijar, hujan abu, gas vulkanik, dan lahar. Pada gunung yang berada dekat laut, seperti Anak Krakatau, perlu pula diperhatikan potensi gangguan laut atau tsunami akibat proses vulkanik, meski mekanismenya berbeda dngan tsunami akibat gempa megathrust," ujar dia.

2. Mitigasi erupsi gunung tidak hanya berhenti pada pemberian status aktivitas

ilustrasi gunung erupsi (pexels.com/Jeffry Surianto)

Menurut Daryono, mitigasi gunung gunung berapi tidak hanya berhenti pada pemberian status aktivitasnya saja. Pemerintah diminta untuk memantau aktivitas lainnya, seperti gempa hingga tsunami.

"Mitigasi harus berbasis bahaya spesifik gunung api, bukan sekadar status aktivitas. Pemerintah harus memastikan pemantauan kegempaan, deformasi tubuh gunung, emisi gas, visual, dan parameter lainnya berlangsung 24 jam, kemudian hasil pemantauan diterjemahkan menjadi zona bahaya yang jelas, rekomendasi evakuasi, jalur evakuasi, tempat pengungsian, serta komunikasi risiko yang cepat dan konsisten," ujar dia.

3. Kesiapsiagaan bencana harus pakai pendekatan multi-hazard

Ilustrasi gunung erupsi (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Daryono mengatakan, kesiapsiagaan bencana harus menggunakan pendekatan multi-hazard atau manajemen risiko yang memperhitungkan potensi bencana secara bersamaan. Sebab, masyarakat terdampak erupsi gunung berapi biasanya mengalami berbagai ancaman.

"Karena masyarakat yang sedang menghadapi erupsi belum tentu hanya menghadapi satu ancaman. Setelah erupsi, misalnya, hujan dapat memobilisasi material vulkanik menjadi lahar, sementara gangguan infrastruktur, kualitas udara, penyakit, dan terganggunya transportasi dpat memperbesar dampak sosial-ekonomi," ujar dia.

Daryono mengatakan, pemerintah pusat memiliki fungsi penting dalam monitoring nasional, penyediaan data dan informasi, koordinasi lintas kementerian/lembaga, dukungan sumber daya hingga penetapan kebijakan nasional.

"Sementara, pemerintah daerah merupakan ujung tombak krn merekalah yang mengetahui kondisi masyarakat, akses jalan, kelompok rentan, lokasi pengungsian, dan kapasitas lokal," ujar dia.

Daryono mengatakan, kunci kesiapan bukan hanya memiliki alat, tapi juga apakah seluruh sistem bisa mengubah data menjadi keputusan yang cepat dalam hitungan menit.

"Karena itu, indikator keberhasilan mitigasi seharusnya bukan hnya jumlah sensor yang terpasang, tetapi seberapa cepat informasi bahaya diterima, dipahami, dan menghasilkan tindakan penyelamatan oleh masyarakat," ucap dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article