Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Xi Jinping Hadiri KTT BRICS di India, Dorong Kerja Sama Global

Xi Jinping Hadiri KTT BRICS di India, Dorong Kerja Sama Global
Perdana Menteri India Narendra Modi (kiri) dan Presiden China Xi Jinping (kanan) sebelum dimulainya pertemuan para pemimpin BRICS 2017.
  • Xi Jinping akan menghadiri KTT BRICS ke-18 di New Delhi pada 12-13 September 2026 atas undangan Narendra Modi.
  • China akan mendorong kerja sama BRICS berkualitas tinggi serta koordinasi negara-negara Global South.
  • BRICS kini memiliki 11 negara anggota dan 10 negara mitra, dengan agenda ekonomi yang mencakup BRICS Go-Global Express.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Presiden China Xi Jinping akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, India, pada 12-13 September 2026. Kehadiran Xi merupakan undangan dari Perdana Menteri India Narendra Modi.

Kementerian Luar Negeri China mengumumkan agenda tersebut pada Kamis (10/9/2026). KTT BRICS tahun ini menjadi momentum bagi para pemimpin negara anggota untuk membahas arah kerja sama kelompok yang semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

BRICS dalam dua dekade terakhir telah berkembang menjadi salah satu wadah kerja sama utama bagi negara-negara pasar berkembang dan negara berkembang. Perannya juga semakin besar dalam pembahasan berbagai isu global.

China menjadi salah satu negara yang secara aktif mendorong penguatan BRICS. Beijing menilai kerja sama kelompok tersebut dapat menjadi sarana bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat koordinasi dan mendorong pembangunan bersama.

  1. 1. China bakal fokus pada kerja sama kualitas tinggi di BRICS

    potret Presiden China, Xi Jinping
    potret Presiden China, Xi Jinping (government.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

    Dalam KTT BRICS ke-18, Xi dijadwalkan bergabung dengan para pemimpin negara anggota lainnya untuk menentukan arah pengembangan kerja sama BRICS. China menyebut pembahasan tersebut akan berfokus pada pengembangan kerja sama yang berkualitas tinggi.

    Beijing juga menempatkan BRICS sebagai wadah untuk menghimpun kekuatan negara-negara Global South. China berharap kerja sama tersebut dapat memberikan stabilitas dan momentum positif di tengah perubahan besar dalam tatanan dunia.

    Kehadiran Xi juga melanjutkan keterlibatannya dalam berbagai agenda BRICS sejak awal masa kepresidenannya. Pada Maret 2013, Xi menghadiri KTT BRICS kelima di Durban, Afrika Selatan. Pertemuan tersebut menjadi KTT internasional pertama yang dihadirinya sebagai presiden China.

    Dalam pidatonya saat itu, Xi mengatakan, kelima negara BRICS berasal dari empat benua berbeda, tetapi dipertemukan oleh tujuan pembangunan bersama serta upaya mendorong demokrasi dalam hubungan internasional, perdamaian, dan pembangunan.

    Xi ketika itu menyerukan agar negara-negara BRICS bergerak menuju pasar yang lebih terintegrasi, membangun jaringan keuangan bertingkat, meningkatkan konektivitas melalui jalur darat, udara, dan laut, serta memperluas pertukaran budaya.

  2. 2. Xi dorong perluasan kerja sama BRICS

    Pertemuan Presiden China Xi Jinping (kanan) dan Perdana Menteri India Narendra Modi di sela-sela KTT BRICS di Kazan, Rusia (23/10/2024). (x.com/SpokespersonCHN)
    Pertemuan Presiden China Xi Jinping (kanan) dan Perdana Menteri India Narendra Modi di sela-sela KTT BRICS di Kazan, Rusia (23/10/2024). (x.com/SpokespersonCHN)

    Dua tahun kemudian, dalam KTT BRICS ketujuh di Ufa, Rusia, Xi kembali mendorong penguatan kerja sama kelompok. Ia mengusulkan pembangunan kemitraan untuk perdamaian dunia, pembangunan bersama, dialog antarperadaban, serta tata kelola ekonomi global yang lebih efektif.

    Saat China menjadi tuan rumah sekaligus ketua BRICS pada 2017, Xi memperkenalkan konsep BRICS Plus dalam KTT BRICS kesembilan di Xiamen. Model tersebut ditujukan untuk melibatkan lebih banyak negara berkembang dan pasar berkembang dalam kerja sama BRICS.

    Gagasan tersebut menjadi salah satu bagian dari perkembangan BRICS sebagai kelompok yang tidak hanya beranggotakan lima negara pendiri, tetapi juga membuka ruang bagi negara lain untuk terlibat dalam kerja sama.

    Dalam KTT BRICS ke-16 di Kazan, Rusia, pada Oktober 2024, Xi kembali menekankan pentingnya kerja sama negara-negara BRICS. Pertemuan tersebut menjadi KTT tatap muka pertama setelah BRICS memperluas keanggotaannya.

    “Untuk kepentingan bersama dan mengikuti tren perdamaian serta pembangunan secara keseluruhan, negara-negara BRICS berkumpul bersama,” kata Xi dalam pidatonya di KTT tersebut, dilansir dari AsiaOne, Jumat (11/9/2026).

    Xi kemudian mengusulkan pengembangan BRICS yang berkomitmen terhadap perdamaian, inovasi, pembangunan hijau, keadilan, serta peningkatan hubungan antarmasyarakat.

    Direktur Institute for Strategic Planning and Forecasting Rusia, Alexander Gusev, menilai Xi telah mendorong kerja sama BRICS melalui berbagai proposal yang konstruktif. Menurut dia, langkah tersebut turut membawa lebih banyak negara Global South yang memiliki pandangan mengenai dunia multipolar untuk masuk ke dalam dialog dan kerja sama praktis.

    “Usulan-usulan yang sangat konstruktif dari Xi Jinping telah membantu memperluas dialog dan kerja sama praktis BRICS dengan lebih banyak negara Global South yang memiliki visi tentang dunia multipolar,” ujar Gusev.

  3. 3. BRICS makin besar, perkuat suara Global South

    Poster BRICS
    Poster BRICS (ShutterStock)

    Perkembangan BRICS kini membuat kelompok tersebut memiliki cakupan yang jauh lebih besar dibandingkan saat pertama dibentuk. Saat ini BRICS terdiri dari 11 negara anggota dan 10 negara mitra.

    Negara-negara BRICS secara keseluruhan mencakup hampir setengah populasi dunia. Kelompok tersebut juga menyumbang sekitar 30 persen perekonomian global dan sekitar seperlima perdagangan dunia.

    China menilai penguatan BRICS tidak hanya bergantung pada jumlah anggotanya, tetapi juga kemampuan negara-negara di dalamnya untuk menemukan kepentingan bersama melalui dialog.

    “China berupaya mencari titik temu terbesar untuk kerja sama melalui dialog yang setara, membangun konsensus berdasarkan kepentingan bersama, serta terus memperkuat kohesi dan kapasitas aksi dalam kerja sama BRICS,” kata Mohamed Hussein, wakil kepala pertama State Information Service Mesir.

    Profesor ilmu politik dan ekonomi dari Sao Paulo State University, Marcos Cordeiro Pires, mengatakan, BRICS memiliki potensi besar karena kekuatan sekaligus perbedaan di antara anggotanya dapat menjadi aset bagi kelompok tersebut.

    Menurut Pires, perkembangan BRICS juga berkaitan dengan meningkatnya peran negara-negara Global South dalam pembahasan mengenai tata kelola dunia.

    “Di tengah dunia yang sedang mengalami perubahan besar, BRICS memperkuat suara negara-negara Global South dalam tuntutan untuk tata kelola yang lebih baik, keamanan yang lebih besar, dan hak atas pembangunan,” kata Pires.

    Penguatan kerja sama tersebut juga mulai terlihat dalam agenda ekonomi. Di Pelabuhan Xiamen, Provinsi Fujian, China, misalnya, BRICS Go-Global Express resmi diluncurkan pada akhir Juli 2026. Program itu ditujukan untuk membantu perusahaan China memperluas akses ke pasar negara-negara BRICS.

    Agenda perdana tersebut berfokus pada Nigeria, yang secara resmi menjadi negara mitra BRICS pada tahun lalu. Komisaris Divisi Perdagangan Konsulat Jenderal Nigeria di Shanghai, Hassan Mohammed, mengatakan kerangka BRICS Plus telah menciptakan lebih banyak ruang untuk pertukaran dan mempererat hubungan antara kedua negara.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More