Kasus Positif Influenza Capai 56 Persen, Kemenkes: Status Medium

Kemenkes mencatat 148 dari 265 spesimen positif influenza pada minggu ke-38 2026, atau 56 persen; aktivitas di puskesmas berstatus sedang, sedangkan rumah sakit masih rendah.
Influenza A(H1N1pdm09) menjadi virus dominan. Temuan H3N2 subclade K yang disebut “superflu” berjumlah 22 pada 2026, lebih rendah dibanding 166 temuan pada 2025.
Kemenkes memperkuat surveilans, kesiapan fasilitas, laboratorium, dan komunikasi risiko. Mayoritas pasien cukup mendapat perawatan suportif, sementara antivirus dibatasi bagi kasus berat atau berkomorbid.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan hasil surveilans sentinel di Indonesia menunjukkan tingkat kasus positif influenza sebesar 56 persen pada minggu ke-38. Pada surveilans di puskesmas, penyakit influenza telah berada pada kategori sedang (medium), sementara pada surveilans rumah sakit masih berada pada kategori rendah (low).
Kemenkes mencatat, terdapat peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Namun status tersebut belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, peningkatan kasus influenza perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kesiapsiagaan, bukan dengan kepanikan.
“Memang ada kenaikan kasus influenza, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara, tetapi berdasarkan data surveilans yang kita miliki, kondisinya masih dalam rentang medium. Karena itu, yang kita lakukan adalah meningkatkan surveilans dan kesiapsiagaan agar perkembangan kasus dapat terus dipantau,” kata dia, dikutip dari siaran pers, Selasa (29/9/2026).
1. Sebanyak 148 dari 265 spesimen positif influenza pada periode Agustus–September 2026

Foto Ilustrasi penderita influenza. (IDN Times/Riyanto) Berdasarkan data Kemenkes, terdapat peningkatan aktivitas influenza pada periode Agustus–September 2026. Hal tersebut masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terlihat di Indonesia. Dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen positif influenza. Virus yang dominan adalah Influenza A (H1N1pdm09).
Kemenkes juga memantau perkembangan Influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan banyak diperbincangkan di masyarakat dengan sebutan “superflu.” Istilah tersebut bukan merupakan nomenklatur resmi yang digunakan WHO maupun CDC untuk menyebut subclade K.
Menkes mengatakan, data surveilans menunjukkan jumlah temuan subclade K pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
“Untuk yang disebut sebagai superflu atau H3N2 subclade K, data yang kita pantau justru menunjukkan jumlah temuannya pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Jadi, kita perlu membedakan antara informasi yang beredar dengan kondisi berdasarkan data surveilans,” kata Budi.
Berdasarkan surveilans sentinel ILI-SARI, sepanjang 2025 hingga minggu ke-38 tahun 2026 tercatat 188 hasil pemeriksaan subclade K dengan 166 temuan pada 2025 dan 22 temuan pada 2026.
Kemenkes pun terus melakukan pemantauan terhadap subclade K melalui surveilans sentinel yang melibatkan puskesmas, rumah sakit, serta laboratorium atau balai kekarantinaan kesehatan.
2. Sebagian besar kasus influenza dapat pulih dengan perawatan suportif dan tidak memerlukan rawat inap

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (IDN Times/Aryodamar) Kemenkes mengatakan, sebagian besar kasus influenza dapat pulih dengan perawatan suportif tanpa memerlukan rawat inap. Penggunaan obat antivirus seperti oseltamivir juga tidak ditujukan untuk semua pasien influenza.
“Oseltamivir penggunaannya harus tepat. Berdasarkan masukan para ahli, obat ini sebaiknya digunakan secara terbatas pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang memang membutuhkan antivirus,” ujar Budi.
Guna mencegah terjadinya resistansi terhadap obat antivirus, kata dia, perlu dilakukan pembatasan penggunaan oseltamivir. Menkes mengatakan, hal tersebut serupa dengan penggunaan antibiotik yang tidak tepat sehingga dapat mendorong terjadinya resistansi antimikroba.
“Kita tidak boleh menggunakan antivirus secara berlebihan karena ada risiko resistansi. Kalau resistansi terjadi, justru kita bisa kehilangan pilihan obat ketika menghadapi wabah yang lebih berat dan mengancam nyawa, seperti influenza H5Nx,” ucap Menkes.
3. Kemenkes perkuat surveilans influenza, fasilitas kesehatan dan komunikasi risiko penyakit kepada masyarakat

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis) Kemenkes terus memperkuat surveilans influenza, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, laboratorium, serta komunikasi risiko kepada masyarakat.
Masyarakat pun diimbau tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker ketika sakit atau berada di tempat ramai, menerapkan etika batuk dan bersin, dan segera memeriksakan kesehatan jika mengalami gejala yang memburuk.
Kelompok rentan seperti bayi dan anak kecil, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta perlu mendapat perhatian lebih karena memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















